OJK Dorong BPJS hingga Taspen Lebih Aktif Investasi di Saham, Aturan Terbit 2027

ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/sgd/nz
Ketua Dewan Komisioner OJK Frederica Widyasari Dewi.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti
30/10/2026, 06.00 WIB

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan regulasi untuk mendorong investor institusi lokal meningkatkan investasi di pasar modal Indonesia. Aturan tersebut ditargetkan terbit pada akhir 2026 atau awal 2027.

Dalam catatan webinar Verdhana Sekuritas, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, regulasi tersebut menyasar investor institusi domestik, seperti BPJS, dana pensiun, dan perusahaan asuransi. OJK juga meminta insentif fiskal dari Kementerian Keuangan serta dukungan Bank Indonesia.

Kebijakan ini disiapkan di tengah tekanan pasar saham domestik menyusul usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah anjlok 41,04% sejak awal tahun. Sementara itu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp 97,78 triliun secara year to date hingga Kamis (29/10).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik sebelumnya juga meminta dukungan investor institusi lokal untuk meningkatkan aktivitas investasi di pasar saham. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat likuiditas pasar di tengah gejolak yang terjadi.

Di sisi lain, sejumlah investor institusi domestik justru mengambil sikap lebih konservatif. PT Taspen, misalnya, mengalihkan investasi ke instrumen berpendapatan tetap, seperti obligasi dan deposito, untuk menjaga imbal hasil sekaligus memastikan pemenuhan kewajiban pembayaran manfaat kepada peserta.

Equity Capital Market & Mutual Fund Department Head Taspen Prasasti Gilang Ekapaksi mengatakan perusahaan menerapkan strategi investasi konservatif di tengah tekanan pasar saham.

“Jadi yang kita sampaikan bahwa saat ini kita modenya konservatif dengan kondisi IHSG. Mungkin tahun ini hampir turun 40%,” kata Gilang, Rabu (28/10).

Langkah serupa terlihat pada PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) atau MSIG Life. Berdasarkan laporan posisi keuangan per 30 Juni 2026, nilai investasi saham perusahaan mencapai Rp 1,26 triliun, turun 31,8% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp 1,84 triliun.

Porsi investasi saham terhadap total investasi MSIG Life juga turun dari sekitar 13,1% pada akhir 2025 menjadi 9,3% per Juni 2026. Pada periode yang sama, total investasi perusahaan menyusut dari Rp 14,08 triliun menjadi Rp 13,51 triliun.

Direktur MSIG Life Eiji Takahashi mengatakan ketidakpastian pasar saham domestik turut memengaruhi kinerja perusahaan pada semester I 2026. Namun, investasi di pasar global membantu mengimbangi kerugian dari pasar domestik.

“Alokasi untuk saham di Indonesia terhitung kecil dan di tengah ketidakpastian yang terjadi saat ini, terutama dari MSCI, memang ada impact-nya atau terdampak ke dalam laba semester I 2026 dan ini sedang dalam pengawasan yang ketat oleh kami,” kata Takahashi, Selasa (27/10).

 
 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri