Gubernur BI Ungkap Penyebab Harga Cabai Setara Daging, Jadi Tantangan Inflasi  

ANTARA FOTO/Andri Saputra/nym.
Pedagang memperlihatkan cabai rawit yang dijual di Pasar Barito, Ternate, Maluku Utara, Minggu (11/10/2026). Menurut pedagang setempat, sejak dua bulan terakhir harga cabai rawit melonjak dari harga normal Rp80 ribu menjadi Rp200 ribu per kilogram akibat terbatasnya pasokan dari Manado, Sulawesi Utara dan Tobelo Halmahera Utara, karena banyak petani mengalami gagal panen dampak kemarau panjang sehingga pedagang kini berupaya mendatangkan cabai dari Makassar, Sulawesi Selatan.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
30/10/2026, 14.48 WIB

Bank Indonesia menyoroti lonjakan harga cabai yang menjadi salah satu penyumbang inflasi. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut kenaikan harga cabai menjadi salah satu tantangan dalam pengendalian inflasi tahun in, yang ditargetkan dalam kisaran 2,5% ± 1%.

“Cabai harganya naiknya luar biasa, harga cabai satu kilo udah kayak harga daging satu kilo, jadi ini PR,” kata Destry dalam acara Rapimnas Kadin yang digelar di Jakarta, Kamis (29/10).

Meski inflasi masih terkendali, Destry menilai inflasi harga yang bergejolak atau volatile food inflation menjadi tantangan. Menurut dia, inflasi pangan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan karena tak semata berkaitan dengan permintaan, tetapi juga  pasokan dan distribusi.

Selain cabai, Destry mencontohkan persoalan beras. Meskipun stok beras nasional mencapai sekitar 4,9 juta ton, distribusi yang belum merata masih menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas harga di masyarakat.

Karena itu, menurut dia, pengendalian inflasi pangan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter. Ia menyebut perlunya upaya untuk memperbaiki pasokan, termasuk memastikan distribusi komoditas pangan berjalan lancar.

“Inflasi di volatile food itu kan supply side, gak mungkin bisa selesai dengan kita memberi, kita melakukan kebijakan yang lebih mengarah ke demand side, yang ada malah nanti ekonominya malah gak bergerak kan,” kata Destry. 

Destry mengatakan, permasalahan ini juga telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan, permasalahan inflasi perlu menjadi perhatian bersama, tak hanya perhatian otoritas moneter.

“Karena gak mungkin BI menangani ini sendiri, tadi saya juga sempat dengar Bapak Rosan menyampaikan bahwa ekonomi kita ini terlalu besar sekali, ekonomi kita besar sekali, peluangnya besar sekali, jadi gak mungkin Danantara sendiri, gak mungkin BKPM sendiri, kita harus memang bersama-sama,” Kata Destry.

Berdasarkan data perkembangan harga pangan yang dilansir dari laman Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) per 30 Oktober 2026, rata-rata harga nasional komoditas cabai merah besar tercatat sebesar Rp 54.500 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting berada di angka Rp 64.000 per kilogram.

Lalu untuk cabai rawit, harga rata-rata nasional sebesar Rp 53.450 per kilogram dan cabai rawit merah mencapai Rp 81.300 per kilogram. 

Melansir data yang sama, rata-rata harga nasional komoditas daging ayam ras segar tercatat sebesar Rp 28.800 per kilogram. Kemudian, untuk kelompok daging sapi, harga rata-rata nasional daging sapi kualitas 1 tercatat sebesar Rp 137.250 per kilogram dan daging sapi kualitas 2 berada di angka Rp 127.500 per kilogram.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman