Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti menyatakan fokus utama BI tetap menjaga stabilitas rupiah, dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki.
Resmi diluncurkan di Jatiluwih, GPIPS Balinusra menjadi langkah strategis Bank Indonesia dalam menekan inflasi pangan dan memperkuat distribusi antarwilayah.
Bagi masyarakat berpendapatan rendah, inflasi lebih dirasakan dari kenaikan harga pangan sehari-hari daripada angka agregat, menciptakan tekanan biaya hidup meski inflasi nasional terkendali.
Kenaikan harga BBM, terutama solar, meningkatkan biaya operasional nelayan dan mendorong inflasi harga ikan segar menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).
BIG Consensus Insights memproyeksikan inflasi Juni 2026 meningkat. Pelemahan rupiah, harga energi, pangan, dan tarif yang diatur pemerintah menjadi pendorong utamanya.
Bank Indonesia menaikkan BI Rate untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah gejolak ekonomi global, meski upaya itu memiliki biaya.
Inflasi AS yang diukur Indeks Harga PCE naik 4,1% pada Juni, memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve berpeluang menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan risiko inflasi yang saat ini menjadi perhatian utama adalah rambatan kenaikan harga global atau imported inflation, terutama dari energi dan komoditas.
Meski pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61%, ketidakpastian ekonomi mendorong masyarakat menahan konsumsi dan tabungan meningkat, sementara rupiah melemah ke level terendah sepanjang sejarah.
Para ekonom mengingatkan tekanan inflasi dari sisi pasokan, perang di Timur Tengah, hingga pelemahan rupiah berpotensi memperburuk kondisi konsumsi rumah tangga dalam beberapa bulan ke depan.