Kebijakan moneter Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50 bps secara agresif menanggapi tekanan eksternal dan inflasi, namun menghadapi tantangan asimetri dengan kebijakan fiskal.
Langkah BI menaikkan suku bunga acuan hingga 50 bps, lebih agresif dibandingkan banyak bank sentral lain di dunia lainnya yang masih mempertahankan suku bunga meski mulai memberikan sinyal pengetatan.
BI berperan penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional guna mengendalikan inflasi dan daya beli masyarakat di tengah ancaman ketidakpastian global dan perubahan iklim.
Kelas menengah Indonesia menjadi bantalan sekaligus mesin konsumsi nasional. Mereka membayar pajak, berbelanja, menyekolahkan anak, dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi dari dalam.
Seskab Teddy Indra Wijaya mengkritik fenomena inflasi pengamat yang dianggap memicu keresahan, namun hal ini memantik perdebatan tentang matinya kepakaran di era digital.
Bukti-bukti menunjukkan selama terjadi guncangan energi, harga barang dan jasa biasanya naik dengan cepat namun kemudian berhenti, sehingga membatasi dampaknya terhadap inflasi.
Inflasi pada Maret didorong oleh permintaan masyarakat yang meningkat menjelang Ramadan dan Lebaran, terutama pada komoditas pangan. Namun, diskon transportasi menahan laju inflasi.
Tim survei LPEM UI menyebut respons dari para ekonom, ahli, dan akademisi yang disurvei mengarah pada persepsi mereka bahwa kondisi ekonomi Indonesia memburuk atau stagnan.
Selain memicu lonjakan harga energi global, CORE memprediksi penutupan Selat Hormuz juga berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik dan produksi pangan di dalam negeri.
Pemerintah telah menyiapkan langkah untuk melanjutkan subsidi dan memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penyangga untuk meredam gejolak harga.