Australia Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 18 Tahun Terakhir

ANTARA FOTO/REUTERS/John Mair
Ilustrasi.
Penulis: Agustiyanti
3/11/2026, 12.05 WIB

Bank sentral Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 4,85%, level tertinggi dalam 18 tahun terakhir. Keputusan yang diambil pada Selasa (3/11) ini memperpanjang siklus pengetatan kebijakan paling agresif di antara negara-negara maju, di tengah upaya para pembuat kebijakan untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target.

Kenaikan suku bunga ini adalah yang kelima pada tahun ini, keputusan yang juga telah diantisipasi oleh pasar.

Gubernur Michele Bullock dijadwalkan mengadakan konferensi pers pada pukul 15.30 waktu Sydney. Ia kemungkinan akan ditanya mengenai prospek kebijakan selanjutnya, mengingat adanya guncangan energi global serta kendala kapasitas di dalam negeri.

Harga konsumen belum menunjukkan tanda-tanda melambat kembali ke kisaran target bank sentral, yakni 2–3%. Para pejabat RBA khawatir ekspektasi inflasi mulai tidak terkendali.

Deputi Gubernur Andrew Hauser mencatat, semakin banyak perusahaan menganggap inflasi di kisaran 3–3,5% sebagai kenormalan baru, sebuah skenario yang ia sebut sebagai mimpi buruk bagi bank sentral.

"Berdasarkan komunikasi dengan berbagai pihak, banyak perusahaan mengalami tekanan biaya dan meresponsnya dengan menaikkan harga barang serta jasa mereka, atau berencana untuk melakukan hal tersebut," ujar dewan RBA seperti dikutip dari Bloomber, Selasa (3/11). 

Selain dampak dari lonjakan harga bahan bakar, Australia juga menjadi lebih rentan terhadap inflasi akibat produktivitas yang sangat lemah. Kondisi ini memaksa para pejabat untuk menurunkan estimasi tingkat pertumbuhan potensial, yaitu tingkat ekspansi ekonomi yang dapat dipertahankan tanpa memicu tekanan inflasi.

Sejak akhir 2021, RBA belum berhasil mencapai titik tengah target inflasi sebesar 2,5%. Berdasarkan mandat gandanya, bank sentral ini juga berupaya mencapai tingkat penyerapan tenaga kerja maksimal yang berkelanjutan.

Bullock mengisyaratkan bahwa kenaikan tingkat pengangguran yang terjadi tahun ini belum cukup untuk meredakan tekanan inflasi, yang menyoroti adanya trade-off atau pertukaran kepentingan antara kedua tujuan tersebut.

Pada Selasa (3/11), bank sentral juga merilis pembaruan kuartalan atas prakiraan ekonomi dalam pernyataan kebijakan moneter. Laporan tersebut menunjukkan bahwa inflasi inti akan kembali ke kisaran target RBA sebesar 2–3%. 

RBA kini menilai kondisi keuangan Australia berada dalam posisi restriktif dan menyatakan bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih agak ketat, meskipun tingkat pengangguran telah meningkat.

Selain kenaikan bertahap pada tingkat pengangguran, pengetatan agresif yang dilakukan RBA juga memicu perlambatan tajam di pasar perumahan, yang merupakan mekanisme transmisi utama kebijakan moneter.

Menurut perusahaan konsultan properti Cotality, harga hunian di kota-kota besar Australia anjlok 1,4% pada Oktober, dan sektor yang sebelumnya sempat berkembang pesat ini kini menuju penurunan terbesar dalam 40 tahun terakhir.

“Perekonomian sedang melambat, harga perumahan telah turun secara signifikan, dan tingkat pengangguran meningkat,” demikian penjelasan dewan RBA dalam pernyataannya.

 “Suku bunga yang lebih tinggi serta penurunan harga dan volume transaksi perumahan diperkirakan akan menghambat pertumbuhan investasi di sektor hunian dan konsumsi rumah tangga.”

Shane Oliver dari AMP Ltd. berpendapat bahwa kemerosotan sektor perumahan akan membebani pertumbuhan ekonomi melalui apa yang disebut sebagai efek kekayaan (wealth effect), meskipun dampaknya belum cukup signifikan untuk mengalihkan fokus RBA dari masalah inflasi tinggi.

Ia memperkirakan penurunan ini akan menjadi pertimbangan yang lebih penting pada paruh kedua tahun depan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.