Pemerintah akan memastikan suku bunga yang ditawarkan dalam penerbitan surat utang merupakan yang optimal, yakni dapat diterima pelaku pasar dan tidak membebani belanja negara.
OJK mengingatkan bank untuk mempertimbangkan kemampuan bayar debitur serta potensi peningkatan risiko kredit jika ingin melakukan penyesuaian bunga kredit.
Kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) berpotensi membuat masyarakat Indonesia menghadapi biaya pinjaman yang tinggi, mulai dari cicilan KPR hingga kredit konsumsi.
Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada Rabu (16/9) waktu setempat.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan turun pada perdagangan Kamis (17/9) setelah bank sentral Amerika Serikat The Fed menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75-4.00%.
Yen menguat, uang murah Jepang terancam pulang. Carry trade pun ikut tertekan, membuka risiko arus modal keluar dan gejolak pasar saham serta obligasi RI.
BI menyebut, aliran modal asing yang masuk ke SBN dan SRBI, antara lain didorong oleh repricing yang dilakukan pada Juli 2026 melalui kenaikan suku bunga BI.
Ekonomi AS yang kuat diiringi inflasi tinggi diperkirakan menciptakan era bunga tinggi cukup lama atau higher for longer. BI menilai hal ini akan berdampak ke negara berkembang, termasuk Indonesia.