Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 mencapai 5,47% secara tahunan, naik dibandingkan kuartal sebelumnya 5,29%. Namun, perlambatan ekonomi terjadi Kalimantan di tengah terjadinya kebakaran hutan.
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Kalimatan pada Juli-September 2026 tumbuh 3,96% secara tahunan, melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,7%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Moh. Edy Mahmud mengatakan dampak kebakaran hutan juga bisa diamati dari pertumbuhan lapangan usaha sektor kehutanan. Dia menyebut subsektor kehutanan pada kuartal III 2026 mengalami kontraksi 2,52%.
“Jadi pada kuartal II 2026 tumbuh sekitar 6,02%, namun di kuartal III ini tumbuhnya negatif 2,52%,’ kata Edy dalam konferensi pers, Kamis (5/11).
Menurut dia, dampak perlambatan terjadi di beberapa provinsi. Namun secara nasional, dampak kebakaran hutan tak terlalu signifikan.
“Di beberapa provinsi yang terdampak, kalau diperhatikan pertumbuhannya tertahan, terutama seperti Kalimantan Tengah. Ada beberapa sektor disana yang tumbuhnya sangat kecil dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.
Di sisi lain, menurut dia, kenaikan pertumbuhan ekonomi terjadi pada menguatnya pertumbuhan lembaga non-profit. Hal ini seiring masifnya aktivitas lembaga sosial dan kemanusiaan,dalam merespon berbagai bencana alam seperti lonjakan karhutla, gempa di Flores dan banjir Solok.
“Jadi PKL-NRT tumbuh sebesar 5,02% secara year on year pada kuartal ketiga lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu,” ujarnya.