Foto: Perjuangan Guru Honorer di Pelosok Cikoneng Bogor

Muhammad Zaenuddin|Katadata
28/11/2021, 07.30 WIB

Matahari belum terbit. Rabu kemarin, 24 November 2021, lalu lintas di jalur Puncak-Cisarua masih diselimuti kabut disertai rintik hujan. Namun itu bukan halangan bagi Rudi MS dan rekannya untuk menunaikan tugasnya.

Rudi merupakan tenaga guru honorer di SDN Cikoneng, Desa Tugu Utara, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Sekolah dasar yang merupakan sarana belajar satu-satunya di perkampungan milik perusahaan penghasil teh ini menjadi titik temu murid dari tiga kampung yakni, Cibulao, Rawa Gede, dan Cikoneng.

Pada tahun ini, 900 ribu tenaga pendidikan honorer mendaftar menjadi peserta pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) guru. Sebanyak 173.329 dinyatakan lolos seleksi tahap pertama, namun tidak termasuk Rudi dan enam rekan seprofesinya di SDN Cikoneng.

Ia seorang pendatang di Cikoneng pada 1980. Lalu Rudi berinisiasi mendirikan sarana belajar-mengajar. “Dulunya hanya sebuah gubuk kecil dan tidak terlalu banyak orang tua yang tertarik mendaftarkan anaknya,” ujar Rudi. Seiring berjalannya waktu, sekolah yang ia dirikan diakui menjadi Sekolah Dasar Negeri Cikoneng pada1997.

Meski demikian, hingga saat ini Rudi masih berstasus sebagai guru honorer yang menerima upah perbulan sebesar Rp 950 ribu. Keterbasan fisik menjadi alasan utama dirinya tidak bisa diangkat menjadi ASN meskipun pengabdian yang ia berikan sudah menghasilkan ratusan lulusan di sekolah yang saat ini memiliki murid 142 itu.

Semangat dan kecintaan Rudi kepada anak-anak tak memudar. Ini sama seperti yang dilakuakn oleh rekan-rekan seprofesinya, termasuk Ani Fatmawati yang sudah lebih dari 16 tahun menjadi guru honorer. Penyakit asma yang ia idap bukan keluhan meski ia harus berjalan belasan kilometer ke sekolah.

“Kalo musim hujan, truk atau mobil pick-up tidak ada yang anter sampe sekolah karena jalannya licin,” kata Ani. Sambil mengatur napas, dia melanjutkan “Mau tidak mau kami jalan kaki dari portal bawah.”

Semangat dan kegigihan tenaga pengajar ini layaknya pelita sebelum fajar. Mereka selalu siap berbagi ilmu. Seperti Rabu kemarin, sebelum ayam berkokok, mereka sudah bergegas menuju sekolah dengan menumpang truk secara bergantian.