Perang Yaman Meluas ke Arab Saudi, dan Dampaknya bagi Indonesia

Katadata/Bintan Insani
Penulis: Luqman Nurhisam
14/10/2026, 07.40 WIB

Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, sebuah terminal Bandara Internasional King Khalid di Riyadh berubah dari tempat orang menunggu pesawat menjadi tempat orang berlarian menyelamatkan diri. Otoritas Arab Saudi melaporkan sedikitnya 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka. Seorang saksi mata yang berada di terminal domestik menggambarkan orang-orang terluka tepat di depan matanya. Lebih dari selusin ambulans dilaporkan bergegas ke lokasi.

Yang paling mencolok dari daftar korban adalah keragamannya. Menurut otoritas penerbangan sipil Arab Saudi, yang tewas adalah empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, dan masing-masing satu warga Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir. Mereka bukan kombatan dan tidak ikut menentukan jalannya perang. Mereka penumpang, pekerja migran, dan staf bandara yang sedang menjalani hari biasa.

Serangan ini bukan peristiwa tunggal. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab, dan ini insiden ketiga di bandara Riyadh dalam sepekan. Sehari sebelumnya, tiga warga Saudi, termasuk seorang pilot, tewas dalam dua serangan terhadap bandara. Tiga orang lain tewas dalam serangan terhadap dua bandara Saudi pada 6 dan 7 Oktober. Pada hari yang sama dengan serangan di Riyadh, sebuah proyektil juga jatuh di dekat Bandara King Fahd di Dammam. Polanya jelas: objek sipil menjadi sasaran berulang.

Garis yang Tidak Boleh Dilanggar

Pertama-tama, serangan ini harus dikecam tanpa syarat. Hukum humaniter internasional membedakan secara tegas antara sasaran militer dan objek sipil, dan bandara yang melayani penumpang sipil termasuk yang terakhir. Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menyebutnya “kejahatan perang yang nyata”. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecam serangan itu secara keras, dan negara-negara Barat memperingatkan warganya agar menjauhi bandara. Maskapai Teluk membatalkan penerbangan, dan data pelacak penerbangan menunjukkan seluruh penerbangan menuju Riyadh dialihkan atau dibatalkan.

Alasan yang dikemukakan Houthi tidak mengubah penilaian ini. Mereka menyebut serangan itu sebagai balasan atas blokade Saudi selama bertahun-tahun dan atas serangan udara ke bandara Sanaa, ibu kota Yaman yang mereka kuasai. Keluhan itu mungkin nyata, tetapi tidak ada keluhan yang menghalalkan peluru kendali ke terminal penumpang. Penderitaan sipil di satu sisi tidak pernah dapat dibayar dengan penderitaan sipil di sisi lain. Kalau logika itu diterima, tidak ada lagi batas yang tersisa dalam perang mana pun.

Bagaimana Kita Sampai di Sini

Akar peristiwa ini tidak bisa dipahami tanpa melihat dinamika beberapa bulan terakhir. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi dibentuk pada 2015 untuk menghentikan upaya Houthi mengambil alih Yaman dari pemerintah yang diakui internasional. Bertahun-tahun serangan udara dan pertempuran darat menewaskan ratusan ribu orang dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Gencatan senjata yang dimediasi pada 2022 sempat meredakan keadaan. Namun, gencatan senjata yang tidak resmi itu mulai runtuh pada Juli lalu.

Sejak itu eskalasi berjalan cepat. Houthi mengumumkan “embargo maritim” terhadap Arab Saudi dan mulai melancarkan serangan rudal dan drone terhadap bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker Saudi di Laut Merah. Mereka juga merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah dalam ofensif yang cepat, termasuk Pelabuhan Mokha di Selat Bab al-Mandab. Pasukan pro-pemerintah Yaman mengklaim telah “mengamankan” selat itu, sementara pemerintah Yaman dikabarkan bertekad berperang habis-habisan untuk merebut kembali wilayah dari Houthi. Di tengah semua itu, warga sipil terjebak di garis depan.

Dengan kata lain, serangan di Riyadh adalah puncak dari spiral yang sudah lama berputar, bukan petir di siang bolong. Setiap pihak merasa sedang membalas, dan setiap balasan menjadi alasan bagi balasan berikutnya.

Pernyataan Trump dan Bahaya Hitung-Hitungan Politik

Dalam situasi inilah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat mungkin bergabung dengan Arab Saudi menyerang Houthi. “Mungkin saja. Kami sedang meninjaunya,” katanya, seraya menambahkan bahwa keputusan akan diambil dengan cepat.

Ada dua hal yang patut dicermati. Pertama, kecepatan. Keputusan ikut berperang adalah salah satu keputusan paling berat yang dapat diambil sebuah negara, dengan konsekuensi yang sulit ditarik kembali. Keputusan seperti itu seharusnya lahir dari kajian yang matang tentang tujuan, risiko, dan jalan keluar, bukan dari reaksi atas berita terbaru. Trump sendiri mengatakan pihaknya “baru saja mengetahui” serangan terakhir itu.

Kedua, kaitan dengan Iran dan pemilu. Ketika ditanya apakah serangan di Riyadh akan mengubah keputusannya untuk tidak menyerang Iran hingga pemilu sela berakhir, Trump menjawab bahwa hal itu akan ditinjau. Terlepas dari maksud sebenarnya, jawaban itu menunjukkan bahwa kalender elektoral disebut-sebut dalam pertimbangan soal perang. Itu mengkhawatirkan. Nyawa warga Yaman, warga Saudi, dan pekerja migran dari berbagai negara tidak seharusnya ditimbang dengan jadwal politik dalam negeri siapa pun. Perang yang dimulai karena atau ditunda demi pemilu adalah perang yang kehilangan legitimasi moralnya sejak awal.

Menjawab Argumen Pembalasan

Pendukung tindakan militer akan berargumen bahwa Houthi telah berulang kali menyerang sasaran sipil, melanggar gencatan senjata, dan hanya mengerti bahasa kekuatan. Arab Saudi, menurut mereka, berhak membela diri dan sekutunya wajib membantu. Argumen ini tidak bisa diabaikan. Hak membela diri adalah hak yang sah, dan membiarkan serangan terhadap bandara tanpa respons adalah undangan bagi serangan berikutnya.

Namun, membela diri berbeda dengan memperluas perang. Pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah tambahan kekuatan militer asing akan menghentikan serangan atau justru melebarkannya. Rekam jejak satu dekade terakhir tidak meyakinkan. 

Serangan udara bertahun-tahun tidak mematahkan Houthi, yang kini justru menguasai sebagian besar wilayah Yaman dan sebagian besar penduduknya. Menambah satu kekuatan besar hanya akan menambah target, menambah alasan balasan, dan menambah jumlah warga sipil yang terjebak di tengah. Jika serangan Amerika kemudian merembet ke Iran, taruhannya bukan lagi Yaman, melainkan seluruh kawasan.

Mengapa Dunia, Termasuk Indonesia, Berkepentingan

Perang ini tidak akan berhenti di perbatasan Yaman. Selat Bab al-Mandab adalah jalur sempit yang vital bagi pelayaran global, dan ancaman terhadap jalur itu muncul di samping kerawanan di Selat Hormuz. Gangguan pelayaran dan lonjakan harga energi akhirnya dirasakan juga oleh negara-negara yang tidak ikut berperang, termasuk konsumen di Indonesia.

Lebih dekat lagi, hubungan Indonesia dengan Arab Saudi bukan hubungan biasa. Indonesia mengirim jutaan jemaah haji dan umrah ke sana, dan ribuan warga Indonesia bekerja dan bermukim di sana. Keselamatan mereka dan keselamatan bandara yang mereka lalui adalah kepentingan langsung kita. Karena itu, politik luar negeri bebas aktif menuntut lebih dari sekadar pernyataan keprihatinan. Ada tiga langkah konkret yang layak ditempuh pemerintah:

Pertama, melindungi warga. Memperbarui imbauan perjalanan, memantau kondisi bandara-bandara Saudi, menyiapkan rencana kontingensi bagi jemaah dan pekerja migran, serta memastikan jalur komunikasi dan evakuasi tersedia.

Kedua, menyuarakan norma. Di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia dapat menegaskan bahwa objek sipil, termasuk bandara, tidak boleh menjadi sasaran siapa pun, dan bahwa pernyataan ini berlaku bagi semua pihak tanpa kecuali.

Ketiga, mendorong meja perundingan. Menawarkan dukungan bagi pemulihan gencatan senjata dan jalur mediasi, serta mendorong akses bantuan kemanusiaan ke wilayah-wilayah yang terkepung.

Pilihan yang Tersisa

Dua belas nyawa di Riyadh adalah peringatan bahwa perang Yaman tidak lagi bisa dikurung di wilayahnya. Dunia kini menghadapi dua pilihan. Pertama, adalah membiarkan spiral pembalasan terus berputar sambil berharap kekuatan yang lebih besar akan menyelesaikannya. Kedua, adalah menambah tekanan diplomatik terhadap semua pihak yang menyerang warga sipil, sambil membuka kembali jalur menuju gencatan senjata.

Pilihan kedua lebih lambat, kurang memuaskan secara politik, dan tidak menjanjikan kemenangan yang bisa dirayakan. Tetapi sejarah perang Yaman sudah memperlihatkan ke mana pilihan pertama bermuara: kuburan, pengungsian, dan kelaparan. Mereka yang tewas di terminal Riyadh pantas mendapat jawaban yang lebih baik daripada putaran kekerasan berikutnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Luqman Nurhisam
Dosen UIN Sunan Kudus

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.