Isu permasalahan stunting yang terjadi membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan gizi. Memahami hal tersebut, peserta SDG Leadership Program yang diselenggarakan oleh SDG Academy Indonesia, Bappenas, menginisiasi program PINTAR (Posyandu Inspiratif untuk Nutrisi, Tumbuh Kembang, Aktivasi, dan Literasi).
Program PINTAR hadir sebagai proyek kolaboratif (capstone project) yang berfokus pada pencegahan dan penanganan stunting melalui intervensi terpadu berbasis Posyandu.
Program ini dikembangkan melalui kolaborasi lintas institusi yang melibatkan PT Tentang Anak Bahagia, PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur, Universitas Pertamina, Universitas YARSI, The Mangrove Global, dan PT Sentra Pangan Sehat Indonesia.
Berlokasi di RW 05, Kelurahan Cengkareng Barat, Jakarta Barat, program PINTAR dirancang untuk dilaksanakan selama 14 bulan, mulai Juli 2026 hingga Agustus 2027, dengan mengintegrasikan pendekatan kesehatan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan keluarga.
Berangkat dari Tantangan Nyata di Masyarakat
Berdasarkan data awal pengukuran di Kelurahan Cengkareng Barat pada 2026, sebanyak 25 dari 240 balita terdeteksi stunting, atau setara dengan prevalensi 10,4 persen.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan program PINTAR, yang memandang persoalan stunting sebagai tantangan multidimensi dan memerlukan pendekatan terintegrasi.
Selain pemenuhan kebutuhan gizi, terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat, mulai dari akses dan konsumsi protein hewani, praktik pemberian makan dan pengasuhan, konsistensi pemantauan pertumbuhan anak, hingga kapasitas kader dan pengelola Posyandu dalam mendampingi keluarga.
Melalui pendekatan tersebut, program PINTAR diarahkan untuk memperkuat peran Posyandu, tidak hanya sebagai tempat pemantauan kesehatan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, pendampingan, dan pemberdayaan keluarga.
Empat Pilar Intervensi Program PINTAR
Program PINTAR mengintegrasikan empat pilar utama yang saling melengkapi dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Pertama, Nutrisi. Pilar ini berfokus pada peningkatan pemahaman keluarga mengenai pemenuhan gizi anak melalui edukasi gizi dan makanan pendamping ASI (MPASI), demonstrasi pengolahan pangan, serta pengembangan budidaya ikan lele melalui pendekatan Budikdamber sebagai salah satu alternatif penguatan akses sumber protein hewani.
Kedua, Tumbuh Kembang. Program mendorong pemantauan antropometri secara berkala, pemantauan perkembangan anak, serta penguatan mekanisme konseling dan rujukan sesuai kebutuhan. Pendekatan ini diharapkan mendukung identifikasi dini terhadap risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Ketiga, Aktivasi dan Literasi. Melalui pengembangan Pojok Pintar, kegiatan membaca nyaring (read aloud), serta stimulasi sesuai usia, program berupaya menghadirkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan kognitif, bahasa, dan kemampuan sosial anak sejak dini.
Keempat, Pengasuhan. Pilar ini menitikberatkan pada penguatan praktik pengasuhan positif, stimulasi anak di lingkungan rumah, serta edukasi kesejahteraan psikologis pengasuh melalui pendekatan promotif dan preventif.
Keempat pilar tersebut didukung oleh penguatan kapasitas kader, pengembangan penggerak lokal (local champions), serta kemitraan bersama Posyandu, Puskesmas, dan Kelurahan agar pelaksanaan program dapat terintegrasi dengan sistem pelayanan dan pemberdayaan masyarakat setempat.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Dampak Berkelanjutan
Salah satu kekuatan program PINTAR terletak pada kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan berbagai perspektif dan kompetensi dalam satu tujuan bersama.
Keterlibatan sektor swasta, institusi pendidikan tinggi, serta organisasi yang bergerak di bidang kesehatan anak, pangan, dan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari pendekatan kolaboratif untuk menjawab tantangan stunting secara lebih menyeluruh.
Kolaborasi ini juga mencerminkan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 2 (Tanpa Kelaparan), Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), dan Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Melalui program PINTAR, para peserta SDG Leadership berupaya menerjemahkan prinsip kepemimpinan berkelanjutan ke dalam inisiatif nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Program ini tidak hanya diarahkan untuk mendukung perbaikan kondisi gizi dan tumbuh kembang anak, tetapi juga untuk memperkuat pengetahuan keluarga, kapasitas kader, dan keterlibatan pemangku kepentingan lokal sebagai fondasi keberlanjutan.