McDonalds Indonesia Klaim Alokasikan 86% Total Belanja Pemasok ke Mitra Lokal

McD
Rendhiq Ramadhan, Head of Production Region Jabar 3 PT Ciomas Adisatwa (kiri), bersama perwakilan McDonald’s Indonesia saat memeriksa penerapan standar operasional di kandang ayam Padahanten Farm, Majalengka, Jawa Barat.
Penulis: Arif Hulwan
22/10/2026, 19.00 WIB

Jakarta – Sekitar 86% dari total belanja pemasok McDonald’s Indonesia dialokasikan kepada mitra lokal. Hal itu merupakan bagian upaya McDonald’s Indonesia membangun kemitraan jangka panjang dengan ratusan pemasok lokal selama 35 tahun di Indonesia.

Bagi McDonald’s Indonesia, membangun rantai pasok yang mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 300 restoran membutuhkan hubungan yang konsisten dan berkelanjutan dengan para pemasok.

Saat ini, sekitar 76% bahan baku McDonald’s Indonesia dibeli dari mitra dalam negeri, termasuk sayuran, telur, beras, cabai, dan minyak goreng. Bahkan, untuk bahan baku ayam, seluruhnya dipasok oleh peternak lokal yang harus mengirimkannya dalam kondisi segar setiap hari ke restoran.

“Hubungan McDonald's Indonesia dengan para mitra bukan sekadar membeli, tapi diawali niat kuat agar dapat tumbuh bersama. Membawa semangat ‘Sepenuhnya Indonesia’, kami secara konsisten membina ratusan mitra melalui transfer pengetahuan, audit, benchmarking, hingga study visit sampai ke luar negeri," terang Ronni Rombe, Supply Chain & Quality Assurance Director PT Rekso Nasional Food.

"Melalui proses ini, kami berbagi praktik terbaik dan memperkenalkan standar kualitas bertaraf global yang harus dipenuhi, termasuk dalam aspek keamanan pangan dan kesejahteraan hewan,” sambung dia.

Proses tersebut menjadi bagian dari upaya membantu pemasok memperkuat sistem dan kemampuan operasional mereka.

Salah satunya adalah PT Ciomas Adisatwa, bagian dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JAPFA Group), yang merupakan salah satu mitra pemasok ayam McDonald’s Indonesia yang bergerak di bidang budidaya unggas komersial dan telah menjalin kerja sama selama lebih dari tiga dekade.

Bagi PT Ciomas Adisatwa, standar dan proses pembinaan yang diterapkan McDonald’s Indonesia tidak hanya menjadi persyaratan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, tetapi juga menjadi salah satu referensi dalam meningkatkan proses kerja dan kualitas produksi di peternakan ayam mereka.

“Standar yang diterapkan McDonald’s Indonesia menjadi salah satu referensi eksternal untuk terus melakukan continuous improvement," jelas Rendhiq Ramadhan, Head of Production Region Jabar 3 PT Ciomas Adisatwa.

"Proses audit berkala mendorong kami untuk memastikan Standard Operating Procedure (SOP) dijalankan secara tepat dan konsisten,” ujarnya.

Tingkatkan skala usaha

Tak hanya mitra dengan skala besar, peluang untuk berkembang juga terbuka bagi mitra yang berawal dari skala lebih kecil.

Seperti yang dialami Made Gunada, petani asal Bali yang memulai kerja sama dengan McDonald’s Indonesia sejak 1993. Dari sebidang lahan kecil, bisnisnya kini telah berkembang hingga Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur serta memasok kebutuhan lebih dari 50 persen restoran McDonald’s Indonesia.

“Ketika memulai kerja sama, saya tidak menyangka sebuah perusahaan besar mau membuka pintu bagi seorang petani kecil dengan berbagai keterbatasan," ungkapnya.

"Namun, sejak awal kemitraan, saya merasakan sendiri bagaimana McDonald’s Indonesia memberikan kepercayaan sekaligus pendampingan. Mulai dari pendampingan teknis hingga bantuan peningkatan fasilitas pertanian. Pertanian kami kini bisa konsisten memenuhi kuota dengan standar kualitas produk yang mampu bersaing hingga pasar global,” terang Made.

Pertumbuhan tersebut tidak hanya meningkatkan skala usaha Made, tetapi juga memperluas kesempatan ekonomi bagi petani lain yang terlibat dalam ekosistemnya. Dengan berkembangnya usaha ke beberapa wilayah, kini ratusan petani turut bergantung pada aktivitas pertanian yang dijalankan.

Studi independen Oxford Economics untuk periode April 2024–Maret 2025 mencatat bahwa aktivitas McDonald’s Indonesia turut mendukung sekitar 48.700 lapangan kerja di berbagai sektor.

Temuan ini menunjukkan efek berantai dari penciptaan lapangan kerja, di mana setiap 100 karyawan McDonald’s Indonesia turut mendukung hingga 330 lapangan kerja tambahan di berbagai sektor ekonomi lokal, mulai dari pertanian, distribusi, hingga jasa pendukung. Seiring dengan pertumbuhan bisnis, para pemasok juga membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dan aktivitas pendukung di berbagai daerah.

Contohnya terlihat di fasilitas produksi Padahanten Farm milik PT Ciomas Adisatwa di Majalengka, Jawa Barat. Peternakan mempekerjakan 41 pekerja tetap dan membutuhkan lebih dari 50 pekerja tambahan pada periode tertentu, terutama untuk proses panen dan bongkar muat. Sementara itu, fasilitas rumah potong ayam PT Japfa Food Indonesia bisa mempekerjakan sekitar 400–1.500 orang per fasilitas.

Mochammad Mukti Ali, Guru Besar di bidang Strategic Management dan Marketing dari Global Academy Finance Management (GAFM) Amerika, melihat hubungan jangka panjang antara perusahaan besar dan pemasok lokal sebagai salah satu ruang terjadinya supplier upgrading.

Menurutnya, keberlangsungan industri Quick Service Restaurant (QSR) di Indonesia telah berhasil menciptakan multiplier effect karena mendorong berbagai aktivitas ekonomi lintas sektor. Hal ini sejalan dengan agenda strategis pembangunan ekonomi inklusif di Indonesia.

“Ketika pemasok memiliki hubungan jangka panjang dengan perusahaan, mereka tidak hanya mendapatkan akses terhadap permintaan, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan beradaptasi dengan standar, pengetahuan, serta praktik operasional yang lebih tinggi," ujarnya, dalam keterangan tertulis.

"Dalam jangka panjang, proses tersebut dapat memperkuat kapabilitas pemasok dan membantu mereka mengembangkan bisnis secara lebih berkelanjutan,” lanjut dia, yang juga merupakan lulusan Doktor Strategi Manajemen dan Pemasaran dari Sekolah Bisnis IPB University itu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.