Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat masih terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 3.392 hektare (ha) di tiga provinsi Kalimantan.
Data terakhir pada Minggu (25/10) mencatat kebakaran terluas sebesar 3.392 ha di Kalimantan Tengah. Sementara, luas kebakaran di Kalimantan Selatan seluas 884 ha dan Kalimantan Selatan 52 ha.
“Berbagai strategi penanganan terus diupayakan pemerintah pusat dan daerah yang dibantu para relawan, di antaranya operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan dry ice,” kata Plt, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam pernyataan resmi, Senin, 26 Oktober.
Pemantauan citra satelit menunjukkan jumlah titik panas dengan indikasi kebakaran tinggi tahun ini menjadi yang terbanyak, jika dibandingkan dengan tiga tahun karhutla sebelumnya pada 2015, 2019, dan 2023.
Jumlah titik panas mencapai 29.738 titik per 24 Oktober 2026. Jumlah ini sudah lebih banyak dari 27.111 titik sepanjang 2015, tahun dengan jumlah titik terbanyak sebelumnya.
Sebagai catatan, pemantauan ini menggunakan deteksi titik panas dari satelit VIIRS Suomi-NPP (S-NPP) milik Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) Amerika Serikat. Titik panas yang dipakai hanya titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, yang menunjukkan kemungkinan kebakaran lebih besar.