Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa akan mempelajari  majas yang sering digunakan dalam karya sastra untuk menyampaikan pesan dengan cara imajinatif.

Tidak hanya itu, majas juga digunakan untuk membuat pembaca memperoleh efek tertentu dari gaya bahasa tersebut yang cenderung ke arah emosional.

Secara umum, majas dibedakan menjadi empat jenis yaitu majas perbandingan, pertentangan,  pertautan, dan sindira. Majas perbandingan sendiri dibagi lagi menjadi beberapa jenis.  

Salah satunya yaitu majas metafora yang menggunakan analogi atau perumpamaan untuk melukiskan atau menggambarkan sesuatu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti majas metafora adalah pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai penggambaran berdasarkan kesamaan atau perbandingan. 

Untuk lebih memahami tentang majas metafora, berikut di bawah ini kumpulan contohnya yang bisa dipelajari.

Contoh Majas Metafora 

Berikut ini 50 contoh majas metafora beserta penjelasan lengkapnya yang bisa dipelajari agar lebih paham tentang jenis majas ini.

Contoh Majas Metafora  (Unsplash)
  1. Dewi malam telah tiba. (Dewi malam: bulan.)
  2. Tidak pandai bukan berarti otak udang. (Otak udang: bodoh)
  3. R.A. Kartini adalah bunga bangsa. (Bunga bangsa: pahlawan)
  4. Kelahiran buah hati amat ditunggu ibunda. (buah hati: anak)
  5. Sebaiknya kamu tutup mulut atas kasus ini. (Tutup mulut: diam.)
  6. Menjadi anak yatim adalah ujian berat bagi saya. (Ujian: cobaan.)
  7. Perusahaan tersebut telah gulung tikar. (Gulung tikar: bangkrut.)
  8. Orang itu terkenal panjang tangan. (panjang tangan: suka mencuri).
  9. Siti menjadi buah bibir di desanya. (Buah bibir: bahan pembicaraan.)
  10. Kita harus lapang dada dengan apa yang telah terjadi. (Lapang: sabar.)
  11. Ayo, bangun pagi! Jangan sampai raja siang bangun (raja siang: matahari.)
  12. Dia itu kepala batu, susah menasehatinya. (Kepala batu:susah dinasihati.)
  13. Masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin. (kepala dingin: tenang)
  14. Dia dikenal sebagai kutu buku di kelas kami. (Kutu buku: gemar membaca.)
  15. Tidak disangka hari ini akan ada hujan air mata (hujan air mata: menangis.)
  16. Permasalahan ini segera diseret ke meja hijau. (Meja hijau: makna pengadilan.)
  17. Si jago merah berhasil melahap rumah dalam waktu sekejap. (jago merah: api).
  18. Pertarungan raja hutan dan serigala akhirnya terjadi (Raja hutan: hewan singa.)
  19. Wanita si tebal muka merebut suami tetangganya. (Tebal muka: tidak punya malu.)
  20. Selama ini Edo hidup sebatang kara. (Sebarang kara: hidup sendirian tanpa keluarga).
  21. Ibunya sampai gigit jari melihat kelakuan anak semata wayangnya. (Gigit jari: kecewa.)
  22. Sebagai tunas bangsa, kita harus rajin belajar. (Tunas bangsa: generasi penerus bangsa)
  23. Nenekku sudah tutup usia sejak tiga tahun lalu (tutup usia: meninggal dunia atau wafat.)
  24. Rania Yamin masih memiliki darah biru. (Darah biru: keturunan bangsawan atau kerajaan)
  25. Ketika tanggal tua, makanan wajib anak kos adalah mie instan. (Tanggal tua:  akhir bulan)
  26. Sejak kecil, Bulan telah menjadi tulang punggung keluarga. (Tulang punggung: penopang.)
  27. Buku adalah jendela dunia bagi pembaca (jendela dunia: hal yang membuka wawasan luas.)
  28. Penipu itu berhasil mencuci otak korbannya (Mencuci otak: mempengaruhi atau membujuk)
  29. Orang itu ternyata buaya darat (buaya darat: tidak memiliki kesetiaan terhadap pasangannya.)
  30. Dimas adalah tangan kanan Pak Yudi. (Tangan kanan:  orang kepercayaan seorang pemimpin atau bos)
  31. Saksi sebaiknya angkat bicara di pengadilan (angkat bicara: berbicara atau mengungkapkan suatu hal.)
  32. Jangan hanya berpangku tangan pada orang lain. (Berpangku tangan: perilaku yang tidak berbuat apa-apa)
  33. Saat pergi dinas ke luar kota, ayah selalu membeli buah tangan untuk keluargaku. (buah tangan: oleh-oleh)
  34. Jangan dekati lintah darat (Lintah darat: seseorang yang meminjamkan uang dalam bunga yang tidak wajar.)
  35. Betty mendengar kabar burung itu dari Inez. (Kabar burung: rumor, gosip, atau berita yang belum tentu benar.)
  36. Mari kita selesaikan semua permasalahan ini dengan kepala dingin. (Kepala dingin: bersikap sabar dan tenang.)
  37. Dalam menyelesaikan masalah tidak boleh menjadi orang yang ringan tangan. (Ringan tangan: mudah memukul)
  38. Ningsih unjuk gigi kemampuannya dalam menyanyi. (Unjuk gigi: menunjukkan kemampuan, kekuatan, atau kepandaian.)
  39. Banyak lelaki memperebutkan mawar desa itu untuk dipersunting. (Mawar desa: gadis, cantik, wanita yang belum menikah.)
  40. Sudah seminggu ini Budi makan hati akibat kejadian yang menimpanya. (Makan hati: menderita, sedih, susah hati, atau mendongkol.)
  41.  Candra selalu cari muka di hadapan guru. (Cari muka: berbuat baik hanya ingin dinilai baik demi mendapatkan sesuatu.)
  42. Ia memasang muka tembok di depan banyak orang yang tahu perlakuannya. (Muka tembok: orang tidak tahu malu; enggan merasa bersalah)
  43. Sang istri akhirnya angkat kaki dari rumah karena tidak tahan dengan suaminya yang abusif. (Angkat kaki: pergi meninggalkan suatu tempat.)
  44. Kita harus terus bergerak, jangan mau berpangku tangan saja melihat kejadian semalam! (Berpangku tangan: berdiam diri, tidak melakukan apa-apa, bermalas-malasan.)
  45. Tidak ada seorang pun yang ingin menjadi sampah masyarakat di dunia ini. (Sampah masyarakat: orang yang hanya memberikan kontribusi negatif kepada masyarakat.)
  46. Kedua negara tersebut masih terlibat perang dingin sampai tahun 50-an. (Perang dingin: perang atau perseteruan yang tidak melibatkan senjata atau serangan militer.)
  47. Ayah dan Ibu sudah lebih banyak makan asam garam dibanding anak-anaknya yang masih muda. (Makan asam garam:memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman hidup.)
  48. Guru dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa (Pahlawan tanpa tanda jasa: seseorang yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan, sehingga layak disebut pahlawan.)
  49. Jangan berkecil hati karena gagal, setidaknya kamu sudah pernah mencoba. (Kecil hati: agak marah, tersinggung, hilang keberanian, takut, tawar hatinya, atau kecewa.)
  50. Bos itu sampai naik pitam karena berkali-kali memergoki karyawannya bolos kerja tanpa alasan. (Naik pitam: menjadi marah sekali, menjadi panas hati, menjadi pusing, menjadi pening, menjadi emosi.)

Itulah 50 contoh majas metafora beserta penjelasan lengkapnya yang bisa dijadikan bahan belajar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.