Apa Perbedaan Anarkis dan Anarko? Berikut Penjelasan Lengkapnya
Belakangan ini, istilah anarkis, anarko dan anarkisme semakin sering muncul dalam pernyataan pemerintah, terutama seiring dengan maraknya aksi demonstrasi di berbagai daerah. Namun, sebenarnya, apa perbedaan anarkis dan anarko?
Istilah anarkis, anarko dan anarkisme banyak diasosisikan dengan kerusuhan dan kekerasan. Label semacam ini tidak jarang memicu respons dari masyarakat, terutama ketika pemerintah dianggap menolak kritik dan menyalahkan publik atas berbagai bentuk kerusakan.
Apa Perbedaan Anarkis dan Anarko?
Masih banyak pihak yang menggunakan istilah anarko, anarkis, dan anarkisme secara keliru atau tertukar satu sama lain. Berikut perbedaan anarkis dan anarko, serta anarkisme:
1. Anarkis
Berdasarkan KBBI, anarkis adalah individu yang menganut atau mendukung anarkisme. Dalam konteks yang sama, anarkis sering dikaitkan dengan figur pemberontak, yakni orang yang melakukan aksi perlawanan terhadap sistem atau otoritas. Istilah ‘anarkis’ memiliki dua makna utama, yaitu:
- Orang yang menganjurkan atau menganut paham anarkisme
- Individu yang melakukan tindakan anarki
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kata ‘anarkis’ merujuk pada pelaku atau subjek. Sebagai contoh, seseorang yang memegang teguh ideologi anarkisme dapat disebut sebagai anarkis. Begitu juga, individu yang melakukan tindakan kekacauan tanpa aturan, meskipun tidak memiliki latar belakang ideologis tertentu, juga bisa diberi label anarkis. Sebagian dari mereka melakukannya dengan tujuan idealis, yakni menciptakan kebebasan, kesetaraan, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
2. Apa itu Anarko?
Berbeda dengan kata anarki dan anarkis yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah anarko tidak ditemukan di dalamnya. Dalam buku Merdeka Berpikir: Catatan Harian Pandemi Covid-19, dijelaskan bahwa anarko berhubungan erat dengan anarkisme, yakni sebuah aliran filsafat politik yang meyakini bahwa manusia dapat mencapai kehidupan terbaik tanpa adanya perintah atau campur tangan kekuasaan.
Anarko merupakan bagian dari anarkisme yang menentang kekuasaan, serta struktur hierarki dalam kehidupan sosial. Gerakan ini merupakan bentuk penolakan terhadap otoritas dan telah menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan sosial di berbagai belahan dunia.
Anarko merupakan gerakan yang secara tegas menolak segala bentuk struktur hierarkis, baik dalam lingkup pemerintahan, korporasi, maupun lembaga sosial lainnya. Mereka meyakini bahwa kekuasaan yang tidak memiliki batasan berisiko menimbulkan penyalahgunaan wewenang serta eksploitasi. Mereka meyakini bahwa sistem yang memberikan kekuasaan hanya kepada segelintir orang cenderung menciptakan ketidakadilan dan menjadi akar dari berbagai bentuk penindasan.
Pada tahun 1970-an, gerakan anarko yang cukup dikenal yaitu anarko-punk. Berdasarkan sumber yang sama, anarko-punk adalah suatu gerakan yang dilakukan secara individual maupun kolektif untuk menyebarluaskan gagasan anarkisme.
Gerakan ini tidak hanya berpijak pada prinsip anarkisme, tetapi juga menggabungkan musik punk sebagai media untuk menyuarakan ide dan aspirasi mereka. Kombinasi ini menjadikan anarko-punk sebagai corak unik dalam perkembangan anarkisme.
3. Anarkisme
Istilah anarkisme merupakan salah satu konsep yang cukup dikenal secara umum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anarkisme diartikan sebagai suatu ajaran atau paham yang menolak segala bentuk kekuasaan negara. Anarkisme merupakan teori politik yang menentang pemerintahan dan sistem hukum yang mengikat.
Melangutip e-journal.unair.ac.id, penelitian kedua yang berjudul "Fenomenologi Anarkisme" mengulas tentang sejarah, konsep, serta dinamika perkembangan ideologi anarkisme di Indonesia. Studi yang dilakukan oleh Cahya (2015) menyimpulkan bahwa anarkisme tidak semata-mata berkaitan dengan tindakan destruktif, melainkan lebih menekankan pada prinsip kebebasan individu serta penolakan terhadap segala bentuk penindasan dan sistem kapitalisme.
Kesimpulan ini diperoleh setelah Cahya (2015) menelaah berbagai dimensi dalam anarkisme, termasuk nilai-nilai yang dianut oleh para penganutnya serta berbagai bentuk perlawanan yang mereka perjuangkan.
Dalam penelitiannya, Cahya (2015) juga menyoroti sejarah masuknya ideologi anarkisme ke Indonesia sejak era kolonial, yang kemudian berkembang dan menjangkau berbagai jaringan, kelompok kolektif, hingga subkultur anak muda, khususnya selama masa Orde Baru. Oleh karena itu, ia menafsirkan anarkisme tidak sekadar sebagai ideologi, tetapi juga bentuk ekspresi sosial dan kultural.
Anarkisme beranggapan bahwa negara atau pemerintahan tidak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Penganut paham ini percaya bahwa keamanan dan ketertiban dapat terwujud secara alami dalam masyarakat tanpa harus dikendalikan oleh institusi negara.
Jadi apa perbedaan anarkis dan anarko, serta anarkisme dapat diurai sebagai berikut:
- Istilah anarkis merujuk pada individu atau kelompok yang menolak keberadaan otoritas.
- Sementara itu, anarko lebih sering dipahami sebagai bentuk gerakan atau gaya hidup yang terinspirasi dari prinsip-prinsip anarkisme.
Adapun anarkisme merupakan sebuah ideologi politik yang menekankan pentingnya kebebasan, penolakan terhadap sistem hierarki yang menindas, serta keyakinan bahwa manusia mampu mengatur kehidupannya sendiri tanpa intervensi negara.
Dengan memahami arti masing-masing istilah tersebut, kita dapat menggunakan kata-kata tersebut secara lebih tepat dan memahami konteks sosial-politik yang melatarbelakanginya.
Tantangan dan Masa Depan Anarko
Gerakan anarko menghadapi berbagai tantangan di era modern. Di satu sisi, masyarakat masih berada di bawah tekanan dari negara dan institusi yang berupaya mempertahankan status quo. Selain itu, gerakan ini juga kerap disalahpahami oleh publik, yang menjadi hambatan tersendiri dalam perkembangannya.
Meski menghadapi berbagai rintangan, anarko tetap bertahan dan terus menarik perhatian banyak orang yang mencari alternatif dari sistem hierarki yang ada. Di sejumlah negara, gerakan ini telah menjadi bagian dari percakapan politik dan sosial, khususnya dalam isu-isu yang berkaitan dengan ketidakadilan dan kebebasan individu.
Meski penerapan ideologinya tidak selalu mudah, anarko tetap menjadi inspirasi bagi mereka yang mendambakan perubahan menuju tatanan sosial yang lebih adil dan setara. Selama ketimpangan dan sistem yang mengekang kebebasan manusia masih ada, gerakan anarko akan terus hidup dan berkembang.
Dapat disimpulkan bahwa perbedaan anarkis dan anarko terletak pada penggunaan, serta konteks maknanya. Anarkis merujuk pada individu atau kelompok yang menganut atau mendukung paham anarkisme, bahkan bisa juga menunjuk pada mereka yang melakukan tindakan perlawanan terhadap sistem kekuasaan. Sementara itu, anarko bukanlah istilah resmi dalam KBBI, namun digunakan secara populer untuk menggambarkan gerakan atau gaya hidup yang berakar pada anarkisme, seperti dalam istilah anarko-punk.