Tradisi Memasang Tebu Di Depan Rumah Saat Imlek, Apa Artinya?
Imlek atau Tahun Baru Imlek merupakan perayaan tradisional masyarakat Tionghoa yang sarat dengan simbol dan filosofi kehidupan. Selain identik dengan lampion merah, lilin, kue keranjang, dan angpao, perayaan Imlek juga diwarnai oleh berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih dijumpai di sejumlah daerah di Indonesia adalah memasang batang tebu di depan rumah saat Imlek hingga Cap Go Meh.
Bagi sebagian masyarakat, tradisi ini mungkin tampak sederhana. Namun, pemasangan tebu bukan sekadar ornamen penghias rumah. Di baliknya tersimpan kisah sejarah, serta makna spiritual yang mencerminkan harapan akan keberuntungan dan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Sejarah Penggunaan Tebu Sebagai Ornamen Khas Imlek dan Cap Go Meh
Tanaman tebu menjadi salah satu ornamen khas yang menghiasi rumah warga Tionghoa saat perayaan Imlek hingga Cap Go Meh. Umumnya, keluarga Tionghoa memasang sepasang batang tebu di depan pintu rumah dua atau tiga hari sebelum Imlek. Tebu tersebut diletakkan di sisi kanan dan kiri pintu masuk sebagai penanda kesiapan menyambut pergantian tahun.
Penulis Lan Fang, dalam esai berjudul Tebu Imlek yang dimuat dalam buku Imlek tanpa Gus Dur (2013), menyebutkan bahwa tidak diketahui secara pasti kapan tradisi memasang tebu di depan rumah setiap Imlek mulai dilakukan. Meski demikian, tradisi ini telah ada sejak ia masih anak-anak, menandakan bahwa kebiasaan tersebut telah berlangsung lintas generasi.
Kisah Rakyat yang Mengilhami Tradisi Pasang Tebu
Menurut Lan Fang, tradisi memasang tebu saat Imlek terinspirasi dari sebuah kisah rakyat yang diceritakan oleh neneknya, yang berasal dari China. Kisah tersebut mengisahkan seorang putri yang diserang oleh para penjahat dan berusaha menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke sebuah hutan tebu.
Pohon-pohon tebu yang tumbuh rapat dijadikan tempat persembunyian. Daun tebu yang lancip, tajam, dan memiliki bulu-bulu halus melukai para penjahat yang mengejar sang putri. Selama bersembunyi, sang putri hanya menyesap sari tebu untuk bertahan hidup. Setelah 15 hari, sang putri akhirnya berhasil diselamatkan.
Sejak peristiwa tersebut, kebanyakan keluarga China kemudian memasang sepasang batang tebu di depan pintu rumah setiap menjelang perayaan Imlek sebagai simbol perlindungan dan keselamatan.
Ciri Tebu yang Digunakan dalam Tradisi Imlek
Tebu yang dipasang dalam tradisi Imlek bukanlah tebu sembarangan. Lan Fang menjelaskan bahwa tebu yang digunakan umumnya memiliki tinggi sekitar dua meter dengan diameter lingkar batang sekitar 10 hingga 15 sentimeter. Batang tebu tersebut memiliki buku-buku yang padat dan dihiasi daun-daun berwarna hijau mengkilap yang menjuntai hingga ke ujung.
Kondisi daun tebu perlu dijaga agar tidak kering, layu, atau menguning sebelum 15 hari. Hal ini penting karena sepasang batang tebu tersebut akan tetap dipasang selama 15 hari penuh, hingga tiba perayaan Cap Go Meh yang menandai penutupan rangkaian perayaan Imlek.
Perbedaan Makna Tebu dan Bambu dalam Filosofi Tionghoa
Mengenai makna simbolis tradisi memasang tebu, Lan Fang mengutip pendapat Biksu Dhammasubho Mahathera. Menurutnya, meskipun tebu dan bambu berasal dari keluarga tanaman yang sama, keduanya memiliki fungsi, sifat, makna, dan simbol yang berbeda.
1. Rela Berkorban dan Kuat Menghadapi Ujian Kehidupan
Bambu dipandang sebagai simbol kehidupan sekuler. Bentuknya yang berongga dan keras membuatnya dapat dimanfaatkan sebagai alat rumah tangga, bahan bangunan, alat musik, hingga senjata. Bambu juga memiliki karakteristik tumbuh berkelompok dan cenderung sulit hidup berdampingan dengan tumbuhan lain.
Sebaliknya, tebu memiliki karakter yang berbeda. Air tebu merupakan sumber energi bagi daya tahan dan pertumbuhan. Tebu dianggap memiliki semangat rela berkorban karena sari manisnya diambil untuk dinikmati, sementara ampasnya ditinggalkan. Seiring bertambahnya usia, tebu justru semakin padat dan kuat.
2. Mudah Beradaptasi di Segala Situasi
Tebu juga mudah tumbuh berdampingan dengan tanaman lain, seperti jagung dan rumput. Karena itu, tebu dimaknai sebagai simbol kehidupan spiritual, kebersamaan, dan kemampuan beradaptasi.
Manisnya tebu memiliki makna filosofis yang kuat dalam perayaan Imlek. Rasa manis tersebut melambangkan pengharapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Filosofi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan diperoleh melalui proses panjang, seiring waktu dan kesabaran.
Makna ini begitu melekat dalam ingatan Lan Fang sejak kecil. Ia mengungkapkan bahwa selama perayaan Imlek hingga Cap Go Meh, ia kerap memeriksa sepasang tebu yang dipasang di depan rumah keluarganya.
3. Pembawa Keberuntungan dan Kelimpahan
Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, tebu juga dipercaya membawa hoki atau keberuntungan. Lan Fang mengenang bahwa apabila ia menemukan banyak semut mulai merayapi atau mengerumuni tebu, hal itu disambut dengan sukacita.
Kehadiran semut dipahami sebagai pertanda datangnya rezeki. Bagi keluarga yang merayakan Imlek, semut yang mengerubungi tebu dianggap sebagai tanda bahwa tahun baru akan dipenuhi dengan kelimpahan dan keberuntungan.
Tidak Semua Keluarga Tionghoa Memasang Tebu di Zaman Sekarang
Di tengah perubahan zaman, tradisi memasang tebu di depan rumah saat Imlek memang tidak lagi dijalankan oleh semua keluarga Tionghoa. Namun, bagi sebagian masyarakat, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan pengingat akan nilai-nilai kehidupan.
Tradisi pasang tebu mengajarkan pentingnya rasa syukur, ketahanan, kebersamaan, dan optimisme dalam menyongsong tahun baru. Dengan demikian, pemasangan tebu tidak hanya menjadi bagian dari perayaan Imlek, tetapi juga simbol doa dan harapan akan masa depan yang lebih baik.