Ruam kemerahan pada kulit sering membuat seseorang bingung menentukan apa sebenarnya penyebabnya. Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan apakah ruam tersebut disebabkan oleh campak atau justru reaksi alergi. Kedua kondisi tersebut memang memiliki gejala yang tampak mirip sehingga perlu diperhatikan dengan benar-benar agar penanganannya tidak salah.
Secara medis sendiri campak dan alergi merupakan dua penyakit yang sangat berbeda. Campak merupakan penyakit infeksi virus yang menular, sedangkan alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya. Karena itu, memahami perbedaan campak dan alergi menjadi penting agar penanganan yang diberikan tidak keliru.
Perbedaan Penyebab Campak dan Alergi
Salah satu cara memahami perbedaan campak dan alergi adalah dengan melihat penyebab dari kedua kondisi tersebut. Campak dan alergi terjadi melalui mekanisme yang berbeda di dalam tubuh.
Campak atau measles merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Virus penyebab campak berasal dari genus Morbillivirus yang termasuk dalam keluarga Paramyxovirus. Virus ini menular melalui percikan air liur ketika penderita bersin, batuk, atau berbicara.
Penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh hidung atau mulut setelah memegang permukaan benda yang terkontaminasi virus campak.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena campak antara lain:
- Belum pernah mendapatkan imunisasi campak
- Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah
- Melakukan perjalanan ke daerah yang sedang mengalami wabah campak
Berbeda dengan campak, alergi merupakan kondisi ketika sistem imun tubuh bereaksi terhadap zat tertentu yang disebut allergen. Zat tersebut sebenarnya tidak berbahaya, tetapi tubuh menganggapnya sebagai ancaman.
Beberapa pemicu alergi yang umum antara lain:
- Debu atau tungau
- Bulu hewan peliharaan
- Makanan tertentu
- Gigitan serangga
- Obat-obatan tertentu
- Lateks atau karet
Perbedaan Gejala Campak dan Alergi
Selain dilihat dari penyebabnya, perbedaan campak dan alergi juga dapat dikenali melalui gejala yang muncul. Meskipun sama-sama dapat menimbulkan ruam pada kulit, karakteristik gejalanya memiliki perbedaan.
Gejala campak biasanya muncul sekitar 10–14 hari setelah tubuh terpapar virus penyebab campak. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami beberapa gejala yang menyerupai flu.
Beberapa gejala awal campak meliputi:
- Demam
- Pilek
- Pegal linu
- Tubuh terasa lemas
- Hidung tersumbat
- Diare
- Mata merah
- Batuk dan sakit tenggorokan
- Bercak putih keabu-abuan di dalam mulut
- Nafsu makan menurun
Ruam pada campak biasanya muncul sekitar 2–4 hari setelah gejala awal. Ruam biasanya terlihat di wajah dan tangan sebelum akhirnya menyebar ke seluruh tubuh. Ruam tersebut awalnya berukuran kecil, kemudian dapat menyatu dan membentuk ruam yang lebih luas.
Sementara itu, gejala alergi biasanya muncul segera setelah tubuh terpapar zat pemicu alergi. Gejala yang timbul dapat melibatkan kulit, saluran pernapasan, maupun sistem pencernaan.
Beberapa gejala alergi yang umum terjadi antara lain:
- Gatal pada kulit, hidung, atau mata
- Bersin-bersin
- Hidung berair atau tersumbat
- Ruam atau bentol pada kulit
- Pembengkakan pada bibir, lidah, atau kelopak mata
- Batuk kering
- Sakit perut, muntah, atau diare pada alergi makanan
Pada kasus yang lebih berat, alergi dapat memicu reaksi serius yang disebut anafilaksis. Kondisi ini dapat menyebabkan pembengkakan pada saluran napas, kesulitan bernapas, hingga penurunan kesadaran.
Perbedaan Cara Menangani Campak dan Alergi
Aspek lain yang menunjukkan perbedaan campak dan alergi adalah metode penanganannya. Karena penyebabnya berbeda, cara pengobatan yang digunakan juga tidak sama.
Campak biasanya bersifat self-limited, yaitu penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 10–14 hari jika sistem kekebalan tubuh penderita cukup baik.
Meski demikian, beberapa langkah dapat dilakukan untuk meredakan gejala dan membantu proses pemulihan, antara lain:
- Mengonsumsi obat penurun demam atau pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen
- Mencukupi waktu istirahat sekitar 7–9 jam per hari
- Memperbanyak minum air putih sekitar delapan gelas per hari
- Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi
Sementara itu, penanganan utama alergi adalah dengan menghindari zat pemicu alergi. Setelah alergen diketahui, langkah pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari paparan zat tersebut.
Selain itu, dokter juga dapat memberikan obat untuk meredakan gejala alergi, seperti:
- Obat golongan antihistamine
- Obat corticosteroid untuk mengurangi peradangan
- Suntikan epinephrine pada kasus alergi berat seperti anafilaksis
Campak merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita atau melalui percikan air liur. Sementara itu, alergi tidak menular karena merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu.
Dengan mengetahui perbedaan campak dan alergi, seseorang dapat lebih mudah mengenali gejala yang muncul dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Apabila mengalami gejala yang menyerupai campak atau alergi tetapi sulit membedakannya, konsultasi dengan tenaga medis sangat disarankan.