Fenomena Strawberry Moon: Simak Pengertian, Penyebab, dan Fakta Menarik

Unsplash
Fenomena Strawberry Moon
Penulis: Anggi Mardiana
Editor: Safrezi
30/6/2026, 18.09 WIB
Fenomena Strawberry Moon merupakan salah satu peristiwa astronomi yang selalu menarik perhatian para pengamat langit di berbagai belahan dunia. Meski namanya mengandung kata strawberry atau stroberi, bulan purnama ini sama sekali tidak berubah menjadi berwarna merah muda. 
 
Sebutan tersebut berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang mengaitkan kemunculan bulan purnama pada Juni dengan musim panen stroberi liar. Fenomena ini terjadi ketika Bulan berada pada fase purnama, yaitu saat Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris sehingga seluruh permukaan Bulan yang menghadap ke
 
Bumi tampak diterangi cahaya Matahari. Menurut NASA dan The Old Farmer's Almanac, Strawberry Moon hanyalah nama tradisional untuk bulan purnama di bulan Juni, bukan fenomena yang mengubah warna Bulan.
 
Selain memiliki nilai ilmiah, Strawberry Moon juga menyimpan makna budaya di berbagai negara. Di Eropa, bulan purnama Juni dikenal dengan sebutan Rose Moon atau Honey Moon, sementara beberapa budaya lain menghubungkannya dengan datangnya musim panas dan masa panen.
 
Bagi para pecinta astronomi, kemunculan Strawberry Moon menjadi momen yang tepat untuk mengamati Bulan tanpa memerlukan teleskop canggih. Dengan cuaca cerah, fenomena ini dapat disaksikan menggunakan mata telanjang dari berbagai wilayah.
 

Fenomena Strawberry Moon Terjadi karena Siklus Fase Bulan

 
Fenomena Strawberry Moon (Unsplash)
Fenomena Strawberry Moon sebenarnya merupakan bagian dari siklus fase Bulan yang berlangsung sekitar 29,5 hari. Setiap bulan, Bulan mengalami fase baru, kuartal pertama, purnama, hingga kuartal terakhir. Strawberry Moon adalah nama yang diberikan khusus untuk fase purnama yang muncul pada bulan Juni.
 
Menurut penjelasan NASA, Bulan tidak menghasilkan cahaya sendiri. Cahaya yang terlihat berasal dari pantulan sinar Matahari. Saat Bulan berada tepat di sisi berlawanan Bumi dari Matahari, seluruh sisi Bulan yang menghadap ke Bumi diterangi sehingga tampak bulat sempurna.
 
Nama Strawberry Moon pertama kali dipopulerkan oleh suku Algonquin di Amerika Utara. Mereka menggunakan siklus Bulan sebagai penanda musim, termasuk waktu terbaik memanen stroberi liar yang biasanya matang pada awal musim panas.
 
Sementara itu, The Old Farmer's Almanac menjelaskan bahwa setiap bulan purnama memiliki nama tradisional yang berbeda sesuai musim. Contohnya adalah Wolf Moon pada Januari, Pink Moon pada April, Flower Moon pada Mei, dan Strawberry Moon pada Juni.
 
Meski demikian, masyarakat sering salah mengira Strawberry Moon sebagai Bulan yang berwarna merah muda. Faktanya, warna Bulan tetap putih kekuningan seperti biasanya. Warna kemerahan hanya dapat terlihat ketika Bulan berada rendah di cakrawala akibat hamburan cahaya oleh atmosfer Bumi, bukan karena nama Strawberry Moon itu sendiri.
 
Fenomena ini juga terkadang tampak lebih besar ketika baru terbit di ufuk timur. Hal tersebut dikenal sebagai Moon Illusion, yaitu ilusi optik yang membuat Bulan terlihat lebih besar dibanding saat berada tinggi di langit.
 

Kapan Fenomena Strawberry Moon?

 
Bulan purnama yang terjadi pada Juni 2026, dikenal dengan sebutan Strawberry Moon, diperkirakan mencapai fase puncaknya pada penghujung bulan. Berdasarkan data dari situs astronomi In The Sky, fase purnama maksimum akan berlangsung pada 29 Juni 2026 pukul 23.56 UTC. Apabila dikonversikan ke waktu Indonesia, puncaknya terjadi pada Selasa, 30 Juni 2026 pukul 06.56 WIB, 07.56 WITA, dan 08.56 WIT.
 
Meski demikian, masyarakat di Indonesia tidak harus menunggu hingga waktu tersebut untuk menyaksikan Strawberry Moon. Saat fase puncak berlangsung, Bulan sudah berada di bawah garis horizon sehingga tidak dapat diamati dari sebagian besar wilayah Indonesia.
 
Sebagai alternatif, fenomena ini tetap dapat disaksikan dengan jelas pada Senin malam, 29 Juni 2026, maupun Selasa malam, 30 Juni 2026. Seperti bulan purnama pada umumnya, Strawberry Moon akan tampak hampir sepanjang malam karena biasanya mulai terbit ketika Matahari terbenam dan baru tenggelam saat Matahari kembali terbit.
 

Fenomena Strawberry Moon dan Fakta Menarik yang Perlu Diketahui

 
Selain menjadi objek pengamatan astronomi, Fenomena Strawberry Moon memiliki berbagai fakta menarik yang berkaitan dengan budaya maupun ilmu pengetahuan. Pertama, Strawberry Moon bukan termasuk kategori supermoon. Sebuah bulan purnama baru disebut supermoon apabila terjadi ketika Bulan berada di titik terdekat dengan Bumi atau perigee. Karena itu, tidak semua Strawberry Moon memiliki ukuran tampak yang lebih besar.
 
Kedua, fenomena ini dapat diamati dari seluruh dunia selama kondisi cuaca mendukung. Waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah sesaat setelah Bulan terbit di ufuk timur hingga beberapa jam kemudian.
 
Ketiga, Strawberry Moon sering menjadi objek favorit para fotografer langit malam. Ketika Bulan muncul rendah di cakrawala, perpaduan warna langit senja dan cahaya Bulan menciptakan pemandangan yang sangat menarik untuk diabadikan.
 
Keempat, fenomena ini tidak memiliki dampak khusus terhadap kehidupan manusia. Sama seperti bulan purnama lainnya, Strawberry Moon hanya merupakan bagian dari siklus alami orbit Bulan mengelilingi Bumi. Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Strawberry Moon menyebabkan perubahan perilaku manusia maupun bencana alam.
 
Para astronom juga memanfaatkan momen bulan purnama untuk melakukan berbagai pengamatan, termasuk mempelajari permukaan Bulan, perubahan iluminasi kawah, hingga mengedukasi masyarakat mengenai siklus benda langit.
 
Bagi masyarakat umum, Strawberry Moon menjadi kesempatan untuk lebih mengenal astronomi, sekaligus menikmati keindahan langit malam. Berbagai komunitas astronomi bahkan rutin mengadakan kegiatan pengamatan bersama ketika fenomena ini berlangsung.
 
Selain itu, fenomena ini mengingatkan bahwa banyak nama benda langit berasal dari sejarah dan budaya masyarakat kuno. Tradisi tersebut terus diwariskan hingga kini sebagai bagian dari kekayaan ilmu pengetahuan dan budaya dunia.
 
Fenomena Strawberry Moon bukanlah bulan yang berubah menjadi merah muda, melainkan nama tradisional untuk bulan purnama yang terjadi pada bulan Juni. Berdasarkan penjelasan NASA dan The Old Farmer's Almanac, fenomena ini merupakan bagian dari siklus alami fase Bulan, sekaligus memiliki nilai budaya yang telah dikenal selama berabad-abad. 
 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.