Apa Bahaya AI Data Center? Ini Dampaknya Terhadap Air, Listrik, dan Lingkungan
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan terhadap pusat pengolahan data atau data center semakin besar. Lalu, apa bahaya AI Data Center bagi lingkungan dan masyarakat? Sejumlah risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya konsumsi listrik dan air, potensi peningkatan emisi karbon, serta tekanan terhadap infrastruktur energi dan sumber daya air.
International Energy Agency (IEA) dalam laporan terbarunya menyebut konsumsi listrik data center secara global meningkat 17 persen pada 2025. Sementara itu, konsumsi listrik data center yang fokus pada AI meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kebutuhan listrik global. IEA memperkirakan konsumsi listrik data center secara keseluruhan dapat meningkat dua kali lipat pada 2030, sedangkan penggunaan listrik oleh data center AI berpotensi meningkat hingga tiga kali lipat.
Apa Bahaya AI Data Center?
Bahaya AI Data Center menjadi perhatian seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mendorong pembangunan pusat data dalam skala besar. Berikut beberapa bahaya yang perlu dipertimbangkan:
1. Bahaya AI Data Center terhadap Konsumsi Air
Salah satu persoalan utama yang perlu diperhatikan yaitu penggunaan air. Data center menghasilkan panas dalam jumlah besar, sehingga membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga server tetap beroperasi pada suhu yang aman.
Menurut IEA, kebutuhan air data center berasal dari penggunaan langsung untuk sistem pendingin, maupun secara tidak langsung dari pembangkit energi dan produksi semikonduktor. IEA memperkirakan konsumsi air data center secara global sekitar 560 miliar liter per tahun dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 1,2 triliun liter pada 2030 dalam skenario dasar.
Namun, besarnya penggunaan air tidak sama untuk setiap fasilitas. Teknologi pendingin, kondisi iklim, kapasitas pusat data, serta sumber listrik yang digunakan dapat memengaruhi kebutuhan air. Karena itu, pembangunan data center di wilayah yang memiliki keterbatasan air membutuhkan kajian yang lebih mendalam.
Kekhawatiran tersebut juga menjadi perhatian dalam pembangunan data center AI di Jatiluhur, Purwakarta. IESR menyebut pembangunan dengan kebutuhan air dan listrik besar perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya air, keandalan listrik, serta hak masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai dampaknya.
2. Bahaya AI Data Center Terhadap Kebutuhan Listrik
Selain air, kebutuhan listrik menjadi salah satu tantangan terbesar. Server AI menggunakan perangkat komputasi berdaya tinggi yang bekerja secara intensif. Semakin besar kapasitas komputasi yang disediakan, semakin besar pula kebutuhan listrik untuk menjalankan server dan sistem pendinginnya.
IEA menyatakan meningkatnya permintaan listrik dari data center dapat menciptakan tantangan bagi keterjangkauan listrik, karena fasilitas tersebut memiliki beban listrik yang besar dan terkonsentrasi. Pembangunan data center dalam skala besar juga dapat memerlukan investasi tambahan pada pembangkit dan jaringan listrik.
Gambaran kebutuhan listrik tersebut terlihat pada rencana Kampus AI Campus 2 (CGK4) milik BDx di Jatiluhur yang dirancang dengan kapasitas hingga 640 megawatt (MW). Proyek tersebut menjadi perhatian karena lokasinya sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur dan membutuhkan sumber daya dalam skala besar.
3. Risiko Emisi Karbon dari AI Data Center
Bahaya AI Data Center berikutnya berkaitan dengan emisi karbon. Dampaknya bergantung pada sumber listrik yang digunakan untuk menjalankan fasilitas tersebut. Apabila kebutuhan listrik dipenuhi dari pembangkit berbasis bahan bakar fosil, peningkatan konsumsi listrik dapat diikuti dengan bertambahnya emisi gas rumah kaca.
Melansir Nature.com, kajian yang diterbitkan di Nature Reviews Clean Technology pada 2026 menyebut ekspansi data center yang intensif energi untuk mendukung AI menimbulkan kekhawatiran terkait emisi gas rumah kaca, tekanan terhadap jaringan listrik, dan sumber daya air tawar.
Sementara itu, laporan United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) pada Juni 2026 menyebut pertumbuhan AI meningkatkan jejak energi, air, dan lahan, sehingga menimbulkan tantangan lingkungan serta persoalan pemerataan dampak.
4. Dampak terhadap Jaringan Listrik dan Masyarakat
Data center AI berskala besar dapat memberikan tekanan terhadap infrastruktur kelistrikan di wilayah tempat fasilitas dibangun. Lonjakan kebutuhan listrik dalam satu lokasi membutuhkan pembangunan atau penguatan jaringan agar pasokan tetap stabil.
IEA mencatat proyek data center yang berkembang pesat saat ini berhadapan dengan sejumlah kendala fisik, termasuk keterbatasan jaringan, transformator, dan rantai pasok teknologi energi. Karena itu, perencanaan pembangunan perlu mempertimbangkan kemampuan infrastruktur setempat, bukan hanya kebutuhan pusat data.
Selain persoalan listrik dan air, pembangunan data center juga dapat menimbulkan dampak lokal seperti perubahan penggunaan lahan, kebisingan dari fasilitas dan sistem pendingin, serta peningkatan aktivitas konstruksi. Dampak tersebut perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing lokasi melalui kajian lingkungan dan perizinan yang berlaku.
Mengapa Pembangunan AI Data Center Perlu Dikaji?
Besarnya kebutuhan sumber daya tidak berarti seluruh AI data center pasti menimbulkan dampak lingkungan yang sama. Teknologi pendingin yang digunakan, efisiensi server, sumber listrik, lokasi pembangunan, serta tata kelola penggunaan air sangat menentukan besarnya dampak.
Karena itu, kajian lingkungan dan perencanaan infrastruktur menjadi bagian penting sebelum pembangunan dilakukan. IESR menekankan perlunya AMDAL, kajian sosial-lingkungan, serta kajian mengenai dampak terhadap keandalan pasokan dan akses listrik sebelum pembangunan data center dilanjutkan.
Bahaya AI Data Center perlu dilihat secara menyeluruh, terutama dari sisi konsumsi air, kebutuhan listrik, emisi karbon, tekanan terhadap jaringan energi, serta dampak lokal terhadap masyarakat dan lingkungan. Risiko tersebut dapat berbeda pada setiap proyek, sehingga pembangunan AI Data Center perlu disertai kajian lingkungan, perencanaan sumber daya, dan pengawasan yang memadai.