Kebakaran Gunung Lawu 2026: Kronologi, Penyebab, dan Upaya Pemadaman

Katadata
Kebakaran Gunung Lawu
Penulis: Anggi Mardiana
Editor: Safrezi
20/10/2026, 15.24 WIB

Kebakaran Gunung Lawu 2026 kembali menjadi perhatian setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan lereng Gunung Lawu di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada Kamis, 15 Oktober 2026. Api membakar kawasan hutan lindung dan menyebar di tengah kondisi vegetasi kering, serta angin kencang yang menyulitkan proses pemadaman. 

Akibat kebakaran tersebut, sejumlah petugas gabungan dari BPBD, Perhutani, TNI-Polri, Basarnas, relawan, dan masyarakat setempat dilibatkan. Upaya pemadaman dilakukan secara manual dan didukung pemantauan titik api, sementara bantuan udara melalui metode water bombing juga telah diupayakan. 

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Roy Hardi Siahaan meninjau langsung perkembangan penanganan kebakaran pada (17/10/2026). Untuk mendukung penanganan kebakaran, pihaknya berupaya mengoordinasikan bantuan helikopter dari Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad). Helikopter tersebut diharapkan dapat membantu emisi api melalui metode water bombing atau pengeboman udara dari

Selain itu, modifikasi cuaca turut dipertimbangkan sebagai salah satu langkah untuk membantu mengatasi kondisi kemarau sepanjang dan angin kencang yang menghambat proses pemadaman. Namun pelaksanaannya masih bergantung pada hasil penilaian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Angin cukup besar, antara lain disampaikan kami akan melakukan modifikasi cuaca. Tapi sangat tergantung dengan hasil penilaian dari teman-teman BMKG untuk membuat status modifikasi cuaca itu," kata Roy dilansir dari Antara.

Kronologi Kebakaran Gunung Lawu 2026 di Karanganyar

Kebakaran Gunung Lawu (Katadata)

Kebakaran yang terjadi pada Oktober 2026 bermula pada Kamis, 15 Oktober 2026, sekitar pukul 10.00 WIB. Mengutip laporan BPBD Kabupaten Karanganyar, kepulan asap pertama kali diketahui oleh seorang warga yang hendak pergi ke ladang di sekitar Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu.

Warga tersebut melihat asap dari bukit di sebelah utara desa. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada warga sekitar dan pihak Perhutani untuk diperiksa lebih lanjut. Setelah dilakukan pengecekan, kebakaran hutan di kawasan tersebut dipastikan terjadi. 

Api kemudian membesar dan merambat ke beberapa petak hutan lindung, termasuk Petak 28, 32, dan 62C di wilayah Gondosuli. Kondisi angin kencang dan vegetasi yang kering mempercepat penyebaran api, sedangkan medan lereng yang terjal menyulitkan petugas menjangkau sejumlah titik kebakaran.

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, tim gabungan masih berupaya memadamkan api secara manual dan membuat sekat bakar untuk mencegah penyebaran lebih luas. Petugas menggunakan peralatan yang tersedia di lapangan karena sejumlah lokasi sulit dijangkau kendaraan pemadam. 

Kemudian, pada Sabtu, 17 Oktober 2026, sebanyak 244 personel gabungan dikerahkan untuk menangani kebakaran di lereng Gunung Lawu. Personel tersebut terdiri atas unsur kepolisian, TNI, relawan, dan instansi terkait. Penanganan juga diperkuat melalui koordinasi lintas instansi dan upaya mendatangkan dukungan helikopter untuk pemadaman dari udara. 

Perkembangan selanjutnya menunjukkan api masih menjadi perhatian petugas. Pada Senin, 19 Oktober 2026, titik kebakaran dilaporkan meluas mendekati jalur pendakian Tambak dan mengarah ke Kecamatan Ngargoyoso. 

Pemantauan menggunakan drone termal Basarnas pada sore hari menemukan 10 titik panas, meningkat dari sembilan titik yang terpantau pada pagi harinya. Petugas juga melakukan water bombing untuk membantu pemadaman dari udara. 

Penyebab Kebakaran Gunung Lawu 2026

Penyebab kebakaran Gunung Lawu 2026 di wilayah Karanganyar masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Meski terdapat dugaan kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, pihak kepolisian belum memastikan penyebabnya karena pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) belum dilakukan 

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Roy Hardi Siahaan menyampaikan dugaan bahwa kebakaran tersebut berkaitan dengan human error atau kelalaian manusia. Namun, ia menegaskan bahwa dugaan itu belum dapat dipastikan sebelum dilakukan pemeriksaan di lokasi kejadian. 

Selain dugaan penyebab awal, terdapat sejumlah faktor yang mempercepat penyebaran api di kawasan hutan Gunung Lawu. Berikut penjelasannya:

  • Vegetasi Kering

Kondisi tumbuhan, semak, dan dedaunan yang mengering membuat api lebih mudah menyebar ketika terjadi kebakaran. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla di lereng Gunung Lawu.

  • Angin Kencang

Tiupan angin mempercepat perambatan api ke area hutan di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra untuk mengendalikan kobaran api agar tidak meluas ke petak hutan lainnya.

  • Medan yang Terjal

Lereng Gunung Lawu memiliki sejumlah kawasan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam. Kondisi ini membatasi mobilitas petugas dan membuat pemadaman manual membutuhkan upaya lebih besar. 

Luas Area yang Terbakar dan Upaya Pemadaman

Kebakaran Gunung Lawu 2026 di kawasan Gondosuli, Karanganyar, dilaporkan berdampak pada kawasan hutan lindung. Data yang dihimpun BPBD Karanganyar dan diberitakan sejumlah media pada pertengahan Oktober menunjukkan luas area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare pada tahap awal penanganan. 

Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan kebakaran meluas. Dalam informasi koordinasi BPBD Magetan pada 17 Oktober 2026, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai kurang lebih 100 hektare. Area terdampak mencakup vegetasi alang-alang, tanaman perdu, dan hutan pinus. 

Untuk mengendalikan kebakaran, petugas gabungan melakukan sejumlah langkah, antara lain:

  • Pemadaman secara manual: Petugas dan relawan berupaya memadamkan api secara langsung menggunakan peralatan yang tersedia di lapangan.
  • Pembuatan sekat bakar: Vegetasi dibersihkan pada jalur tertentu untuk menghambat perambatan api ke kawasan hutan lainnya.
  • Pemantauan titik api: Petugas melakukan pengawasan di sejumlah lokasi, termasuk dengan bantuan drone termal untuk mengetahui persebaran titik panas.
  • Dukungan pemadaman udara: Metode water bombing dilakukan untuk membantu menjangkau area yang sulit diakses melalui jalur darat.
  • Koordinasi lintas instansi: BPBD, Perhutani, TNI-Polri, Basarnas, dinas terkait, relawan, dan masyarakat bekerja sama dalam penanganan kebakaran.

Masyarakat di sekitar lereng Gunung Lawu diimbau untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, termasuk membakar sampah atau membersihkan lahan dengan api. Apabila menemukan kepulan asap atau titik api, warga sebaiknya segera melaporkannya kepada petugas setempat agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. 

Kebakaran Gunung Lawu 2026 di wilayah Karanganyar terjadi sejak Kamis, 15 Oktober 2026, dan dilaporkan meluas hingga mendekati jalur pendakian Tambak pada 19 Oktober 2026. Penanganan dilakukan oleh tim gabungan melalui pemadaman manual, pembuatan sekat bakar, pemantauan titik panas, serta dukungan water bombing.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.