Sejarah Dugderan Semarang, dari Penanda Ramadan hingga Tradisi Tahunan
Setiap menjelang Ramadan, masyarakat Kota Semarang memiliki tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad, yakni Dugderan. Tradisi ini ditandai dengan bunyi bedug dan dentuman meriam yang menjadi penanda datangnya bulan Ramadan.
Namun, Dugderan pada awal kemunculannya tidak sekadar menjadi sebuah perayaan. Tradisi tersebut memiliki fungsi sebagai media komunikasi publik untuk menyampaikan informasi mengenai dimulainya bulan Ramadan kepada masyarakat Semarang.
Dugderan diperkirakan mulai dilaksanakan pada 1881, pada masa pemerintahan Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Pada masa itu, penentuan awal Ramadan menjadi persoalan yang perlu disampaikan kepada masyarakat secara luas. Dugderan kemudian menjadi sarana untuk menyampaikan keputusan tersebut.
Berasal dari Bedug dan Meriam
Nama Dugderan sendiri berkaitan dengan bunyi yang menjadi ciri utama tradisi tersebut. “Dug” merujuk pada suara bedug, sedangkan “der” berasal dari suara dentuman meriam.
Pada masa awal pelaksanaannya, kombinasi kedua bunyi tersebut berfungsi sebagai tanda bagi masyarakat bahwa Ramadan telah tiba. Cara tersebut menjadi penting karena sarana penyebaran informasi kepada masyarakat pada akhir abad ke-19 belum seperti sekarang.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Fajrul Falah, menyebut Dugderan sebagai salah satu bentuk media komunikasi publik tradisional pada abad ke-19. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi sarana penyampaian informasi kepada masyarakat dalam konteks penentuan awal Ramadan.
Dengan demikian, keberadaan Dugderan pada awalnya memiliki fungsi yang cukup praktis. Bunyi bedug dan meriam menjadi media yang dapat menjangkau masyarakat secara luas untuk menyampaikan pesan mengenai dimulainya Ramadan.
Cara komunikasi tersebut kemudian dilakukan secara rutin setiap menjelang bulan Ramadan sehingga secara perlahan membentuk sebuah kebiasaan di tengah masyarakat Semarang.
Dari Sarana Informasi Menjadi Tradisi Tahunan
Seiring berjalannya waktu, fungsi Dugderan tidak berhenti sebagai sarana penyampaian informasi. Pelaksanaannya yang dilakukan secara berulang setiap menjelang Ramadan membuat Dugderan berkembang menjadi tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Semarang.
Masyarakat tidak hanya menunggu pengumuman mengenai awal Ramadan, tetapi juga ikut hadir dan meramaikan rangkaian pelaksanaan Dugderan. Tradisi yang awalnya berfungsi sebagai komunikasi publik kemudian berkembang menjadi sebuah perayaan yang dinantikan setiap tahun.
Perubahan tersebut membuat Dugderan memiliki dua dimensi. Di satu sisi, tradisi ini tetap berkaitan dengan penyambutan Ramadan. Di sisi lain, pelaksanaannya telah berkembang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Kota Semarang.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat Dugderan sebagai tradisi penyambutan Ramadan yang memiliki rangkaian kegiatan berupa pasar Dugderan, prosesi pengumuman awal puasa, dan kirab.
Perkembangan itu memperlihatkan bagaimana fungsi sebuah media komunikasi dapat berubah mengikuti zaman. Jika dahulu masyarakat membutuhkan bunyi bedug dan dentuman meriam untuk mengetahui datangnya Ramadan, kini informasi mengenai awal Ramadan dapat diperoleh melalui berbagai media.
Meski begitu, Dugderan tetap dipertahankan sebagai tradisi tahunan. Fungsinya pun bergeser, dari yang semula terutama sebagai sarana menyampaikan informasi, menjadi tradisi masyarakat dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.
Lebih dari satu abad setelah pertama kali dilaksanakan, Dugderan tetap menjadi salah satu tradisi yang melekat dengan Ramadan di Kota Semarang. Dari suara “dug” dan “der” yang dahulu menjadi penanda informasi, tradisi tersebut kini menjadi bagian dari kebiasaan budaya masyarakat Semarang.