Wajah Baru Blok M: Dari Tempat Transit Menjelma jadi Ikon Baru Jakarta
Keramaian di "Little Tokyo" menyambut penumpang yang keluar dari Stasiun MRT Blok M BCA. Anak muda tampak nongkrong sambil merekam konten. Tak jauh dari mereka, sejumlah keluarga ikut berjalan santai menyusuri sepanjang Blok M Hub itu.
Di tengah hiruk-pikuk, Katadata bertemu Adinda R (26) yang baru selesai menikmati secangkir kopi. Ia menceritakan, Blok M kini terasa jauh berbeda dari yang ia kenal saat kecil, ketika kawasan ini digunakan tempat untuk naik bus atau mengaji di masjid di Blok M Square Lantai 7.
Adin menyebut perubahan Blok M paling terasa itu dari sisi kerapian dan aksesibilitas. Setelah penataan yang dilakukan MRT Jakarta, kawasan ini menjadi salah satu ikon Jakarta. Padahal, saat ia kecil, Blok M hanya terasa seperti tempat biasa untuk naik bus atau mengaji di masjid.
“Padahal dulu waktu kecil ke Blok M tuh tempat random saja buat naik bus atau mengaji di masjid Blok M Square,” kata Adin.
Seiring dengan transformasi yang dilakukan MRT Jakarta, Adin merasakan pengaruh besar terhadap kebangkitan kawasan skena ini. Menurutnya, MRT Jakarta membuat Blok M jauh lebih mudah diakses. Orang bisa datang tanpa harus memikirkan parkir atau perjalanan yang rumit. Stasiunnya juga membuat Blok M terasa mudah dijangkau dari berbagai area Jakarta.
Bahkan di dalam stasiun MRT sendiri, kata Adinda, pengunjung bisa melakukan banyak hal, mulai dari makan, ngopi, belanja, jalan-jalan, hingga sekadar mengamati orang lalu lalang. Hal-hal itu yang membuat orang punya alasan untuk kembali datang ke Blok M.
“Menurutku ekosistem tempat-tempat di sekitarnya yang membuat mereka mau tinggal lebih lama dan MRT jadi salah satu faktor yang bikin ini lebih mudah,” kata Adin ketika ditemui di kawasan Blok M, Senin (28/9) malam.
Jakarta dan Era Baru Tempat FOMO
Meski begitu, Adin mengaku MRT Jakarta bukan satu-satunya faktor kebangkitan Blok M. Ia melihat ekosistem di sekitarnya yang membuat orang betah.
Rasa takut ketinggalan tren atau FOMO hingga tempat-tempat baru yang terus bermunculan seiring transformasi MRT Jakarta lewat konsep TOD ikut mendorong perubahan ini. Menurutnya, Jakarta memang sudah masuk era ketika kota punya tempat tujuan yang bikin orang FOMO di tengah dunia digital yang kian berkembang.
Adin mengatakan banyak orang datang karena melihat konten di media sosial TikTok, alhasil pengunjungnya berasal dari beragam latar belakang dan didorong rasa penasaran. Ia juga menyebut Jakarta minim destinasi ruang terbuka dan Blok M menjadi tempat yang pas karena menyediakan banyak hal sekaligus.
Lebih jauh, Adin menyebut perubahan terbesar ada pada cara orang memandang Blok M. Menurutnya, status Blok M telah berubah dari kawasan transit menjadi tempat destinasi itu sendiri.
Ia juga menyoroti keberagaman pengunjung kawasan ini. Selain marak anak muda yang datang untuk menjelajah tempat baru, nongkrong, dan membuat konten, keluarga pun tak jarang datang untuk berjalan-jalan santai.
“Bisa dibilang kakek nenek juga ada ada, jadi ada semacam pertemuan antara Blok M yang lama dengan Blok M yang baru,” ucap Adin.
Konektivitas Antar Transportasi
Nabila (25) merasakan langsung perubahan Blok M setelah kehadiran MRT Jakarta dan pengembangan kawasan berbasis transit oriented development (TOD). Menurutnya, konektivitas antarfasilitas transportasi dan Blok M Plaza menjadi salah satu faktor yang membuat Blok M kembali ramai.
“Tapi selain MRT, yang bikin Blok M hidup lagi itu banyaknya tempat viral yang bikin orang penasaran untuk coba,” ujar Nabila saat ditemui Katadata di Blok M, Jakarta Selatan, Senin (28/9).
Ia menyebut kebangkitan Blok M juga tidak terlepas dari revitalisasi ruang publik, seperti Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, dan akses transportasi yang semakin mudah, beragam, dan terintegrasi.
Menurutnya, seiring dengan membludaknya jumlah pengunjung, kata Nabila, MRT Jakarta mendorong perkembangan kawasan. Area yang sebelumnya menjadi terminal dan Mal Blok M, sekarang bertransformasi menjadi Blok M Hub.
“Di Blok M Hub ini akhirnya ramai banget pengunjung. Kalau lapar dan sudah mau pulang, bisa sambil beli makanan di sepanjang jalan ke terminal dari Blok M Hub ini,” kata Nabila.
Tak hanya itu, Nabila mengaku biasanya datang ke Blok M untuk mencoba kuliner baru dan menghadiri berbagai acara, baik K-pop maupun non-K-pop.
Nabila mengatakan dirinya bisa menghabiskan waktu hingga 10 jam mulai pukul 11.00 hingga 21.00 WIB di Blok M lantaran banyaknya tempat yang belum pernah dikunjungi. Terlebih banyak pilihan kuliner yang butuh waktu lama karena antriannya panjang.
Perubahan yang paling terasa yaitu bertambahnya tenant baru yang membuat transportasi menuju Blok M semakin ramai. Saat ini, Nabila merasakan semakin banyak rute TransJakarta yang mengarah ke Blok M, bahkan dari kawasan ini bisa mengakses langsung Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Dampak akhirnya, jumlah pengunjung juga makin banyak karena yang datang ke Blok M bukan hanya orang Jakarta, tapi Jabodetabek, bahkan ada turis juga,” tambah Nabila.
Tak hanya itu, Nabila juga menyebut ada wayfinding atau petunjuk arah yang memudahkan pengunjung menuju Transjakarta dari Terminal Blok M agar orang tidak mudah tersesat.
“Ada wayfinding juga jadi orang nggak tersesat kalau mau naik Transjakarta dari terminal Blok M, benar-benar Blok M pusat dunia,” kata Nabila.
Nabila juga membandingan kawasan lain seperti SCBD, Kuningan, PIK, dan Kelapa Gading. Dia menilai photobooth dengan tema apa pun jauh lebih mudah ditemui di Blok M.
Menurutnya, di SCBD, photobooth biasanya hanya ada di dalam kafe. Sementara di Blok M, photobooth berdiri sendiri sebagai tempat usaha, dengan varian yang sangat banyak bahkan untuk satu jenama saja.
Siapkan Revitalisasi Blok M Ultimate dalam Waktu Dekat
PT MRT Jakarta (Perseroda) sebagai pengelola kawasan ini juga tak tinggal diam. Mereka tengah menyiapkan babak baru untuk Blok M Ultimate. Kawasan yang menjadi salah satu titik transit utama di Jakarta itu akan direvitalisasi dengan konsep yang tidak jauh dari transit hub dan kawasan dengan fungsi campuran atau mixed-use.
Kepala Divisi Property Management MRT Jakarta Muchamad Iqbal Bimo Arifianto mengatakan revitalisasi Blok M Ultimate ditargetkan mulai bergulir dalam beberapa bulan ke depan. Namun, pelaksanaannya masih dirahasiakan.
"Tunggu tanggal mainnya," kata Bimo dalam Media Fellowship Program bertajuk “Mengelola Aset, Menghidupkan Kawasan, Membangun Kota” di Jakarta, Kamis (24/9).
Menurutnya, konsep yang disiapkan untuk Blok M Ultimate akan mengacu pada prinsip kawasan transit-oriented development (TOD), yang mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu kawasan.
“Mungkin kalau kami lihat di Hong Kong, itu apa yang akan kami lakukan, revitalisasi selalu berbasis mix-use gitu, semuanya harus ada di situ,” kata Bimo.
Dalam pemaparannya, Bimo memberikan sejumlah kisi-kisi mengenai konsep yang disiapkan untuk Blok M Ultimate.
Pertama, Skybridge Blok M Direct Link yang akan menghubungkan Stasiun MRT Blok M, Blok M Hub, dan terminal bus. Jalur ini dirancang untuk memperkuat konektivitas antarmoda di kawasan tersebut.
Kedua, Grand Hub Façade yang akan membentuk karakter baru Blok M Hub sebagai kawasan mixed-use yang terintegrasi dengan fasilitas transit.
Ketiga, Bridging Nature and Urban Activity. Konsep ini membuka batas antara ruang luar dan dalam melalui koridor hijau yang tetap aktif, sehingga aktivitas di kawasan tidak berhenti pada ruang-ruang tertutup.
Keempat, The Landscape and Third Space, menghadirkan ruang-ruang baru di taman dan amphitheater yang menghubungkan berbagai level kawasan.
Seiring dengan itu kawasan Blok M Hub kini bertransformasi menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi kreatif dan kuliner yang kian digandrungi masyarakat. Integrasi area transit dan ruang komersial ini sukses menarik animo pengunjung dalam jumlah besar.
Bimo mengatakan Blok M Hub mencatatkan rata-rata kunjungan mencapai 25.000 orang per hari. Kawasan ini juga aktif menggelar berbagai ajang dan kegiatan tematik yang mencatatkan lebih dari 100 hari aktivasi sepanjang tahun.
Keberhasilan revitalisasi Blok M Hub tak lepas dari kolaborasi bersama para pelaku usaha lokal. Saat ini, tercatat sebanyak 242 tenant UMKM lokal menggantungkan aktivitas usahanya di area ini. Selain itu, kawasan ini juga didukung oleh kerja sama hak penamaan (naming rights) bersama Gojek.