Buat Aplikasi Octopus, Hamish Daud Bikin Pemulung Raup Rp10 Juta/Bulan

Instagram/@hamishdw
Hamish Daud
Penulis: Hadi Mulyono
19/11/2021, 12.16 WIB

ZIGI – Selain sibuk akting dan berpetualang, Hamish Daud dikenal sebagai aktor yang peduli dengan kelestarian alam. Dia telah berhasil mengembangkan aplikasi Octopus untuk memberdayakan pemulung dari berbagai daerah di Indonesia dalam membantu melestarikan lingkungan.

Menurut pengakuannya, pemulung yang bergabung dengan Octopus kini bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp10,4 juta dalam sebulan. Wow, luar biasa ya guys.

Bagaimana kisah sukses Hamish Daud memberdayakan pemulung dari yang sebelumnya dipandang sebelah mata menjadi profesi yang menjanjikan? Simak berita selengkapnya dalam artikel berikut ini. Keep scrolling!

Bantu Pemulung Jadi Pelestari

Berawal dari keprihatinnya terhadap sampah yang mencemari lingkungan, Hamish Daud menganggap kalangan pemulung justru pahlawan yang sebenarnya. Suami dari penyanyi Raisa ini pernah berkunjung ke tempat pembuangan sampah Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat dan mencatat ada sekitar 5.000 pemulung menggantungkan nasibnya dengan tumpukan sampah.

Akan tetapi, beberapa dari pemulung tersebut tidak mempunyai Kartu Tanda Penduduk dan sudah berusia lanjut. Dari sanalah, ia ingin meningkatkan taraf hidup mereka serta menciptakan solusi pengangkutan sampah tanpa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

“Mulai November, pelestari kami bisa mendapatkan Rp 10,4 juta dalam sebulan,” kata Hamish dalam acara Ministry of Finance Festival 2021, dikutip dari Katadata.co.id, Jumat, 19 November 2021.

Hamish menyebut, sampah-sampah di berbagai daerah bisa menggunung dengan cepat sehingga dibutuhkan gerakan yang mampu menanganinya. Oleh sebab itu, pemulung diganti namanya menjadi pelestari, diberikan seragam Octopus, ponsel, hingga terdaftar sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Jadi mereka bisa masuk ke perumahan, hotel, dan lainnya. Tidak perlu malu,” tambah Hamish Daud.

Apa itu Octopus?

Menyadur dari laman resminya, Octopus adalah platform ekonomi sirkular yang membantu produsen melacak dan mengumpulkan produk pasca-konsumen (sampah) mereka, baik yang dapat didaur ulang maupun yang tidak dapat didaur ulang.

Platform ini memungkinkan produsen untuk memberikan insentif langsung kepada pemangku kepentingan yang terverifikasi dengan Octopus. Gerakan ini memastikan ekosistem pengumpulan sampah yang etis berbasis teknologi, serta menyediakan model penetapan harga yang efektif untuk Industri Daur Ulang. Model pengumpulan produk Octopus juga dipastikan transparan untuk memberi manfaat bagi pemangku kepentingan limbah lokal.

“Cara baru untuk mengelola pengumpulan Kemasan Pasca Konsumen melalui pemangku kepentingan limbah lokal dengan standar harga dan kualitas. Kami merevolusi ekosistem perdagangan produk pasca konsumen saat ini untuk menciptakan model koleksi yang berdampak, efektif dan efisien,” demikian keterangan di laman resmi Octopus.

Saat ini, Octopus telah menggaet 9.600 pelestari di sejumlah kota seperti Makassar, Bali, dan Bandung. Beberapa di antaranya pernah bekerja di perhotelan atau pengemudi ojek online dan memilih untuk menjadi pelestari alam.

“Banyak pekerja hotel yang gajinya dipotong setengah dan mereka menjadi pelestari. Ada juga driver ojek online,” ungkap Hamish Daud.

Hamish menambahkan, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pernah mengetes pelestari Octopus. Ketika itu, pelestari yang datang menguasai tiga bahasa, tengah menempuh pendidikan S2 dan sebelumnya bekerja di perhotelan.

Sistem Kerja di Octopus

Mengutip dari IndonesianOceanPride.org, gerakan induk Octopus, sampah yang dikumpulkan pelestasi nantinya akan dikonversikan menjadi poin. Poin inilah yang bisa ditukar menjadi uang dengan cara proses tarik tunai lewat aplikasi Octopus dan voucer belanja.

Gerakan pecinta alam yang dikembangkan Hamish Duad ini jelas membantu dunia dalam melestarikan lingkungan akibat sampah. Sebab menurut laporan Bain & Company, Microsoft, dan Temasek Holdings Singapura yang berjudul ‘Southeast Asia's Green Economy: Opportunities on the Road to Net Zero’, Asia Tenggara membutuhkan investasi US$2 triliun hingga 2030 untuk mengurangi emisi.

Dana tersebut nantinya bakal dialokasikan untuk berbagai upaya seperti mempercepat peralihan ke energi hijau, membuat sektor pertanian pangan menjadi lebih efisien, mengurangi polusi, hingga cara yang tidak merusak lingkungan.

Bain & Company, Microsoft dan Temasek Holdings Singapura memperkirakan, 90% emisi di Asia Tenggara akan berkurang jika dana tersebut bisa digunakan sesuai dengan harapan. Selain itu, upaya transformasi bisnis menuju ekonomi ramah lingkungan di kawasan juga akan menawarkan keuntungan US$ 1 triliun per tahun pada 2030.

Pemerintah Indonesia tengah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 29% dengan usaha sendiri dan 41% lewat dukungan internasional pada 2030. Adapun dana yang dibutuhkan untuk mencapai target tersebut sekitar Rp266,2 triliun.

"Indonesia memiliki ukuran dan sumber daya alam besar yang menjadi game changer di Asia Tenggara untuk keberlanjutan," demikian ungkap laporan Bain & Company, Microsoft dan Temasek Holdings Singapura.

Sampai di sini, yuk sama-sama kita dukung gerakan pelestarian lingkungan ala Hamish Daud. Dengan penghasilan hingga jutaan rupiah, tertarik untuk jadi pelestari guys?

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.