Richard Branson, Dulu Disleksia Kini Sukses ke Luar Angkasa
ZIGI – Richard Branson, konglomerat pendiri Virgin Group ini mengejutkan publik setelah menjual saham sekitar Rp4,3 triliun. Upaya ini dilakukan untuk mengembang bisnis perjalanan ke luar angkasa yakni Virgin Galactic serta membantu perusahaannya yang terdampak pandemi Covid-19.
Sontak saja, kini publik semakin dibuat penasaran dengan sosok pengusaha yang sudah berhasil melakukan ke luar angkasa ini. Rupanya, kesuksesan Branson ini juga dipengaruhi dengan penyakit disleksia yang pernah diidapnya. Sebenarnya siapa sosok Richard Branson? Scroll artikel ini yuk buat penjelasannya!
Baca juga: Daftar Brand LVMH Milik Bernard Arnault, Orang Terkaya di Dunia
Richard Branson Jual Saham Rp4,3 triliun
Pada 13 Agustus 2021, Richard Branson menjual sebagian saham yang dimilikinya di Virgin Galactic Holdings, yakni perusahaan pariwisata luar angkasa miliknya. Dilansir Zigi.id dari The Guardian, Senin, 16 Agustus 2021, kali ini, Richard Brandson menjual sahamnya senilai US$ 300 juta atau sekitar Rp4,3 triliun.
Ini merupakan kali ketiga Branson menjual saham Virgin Galactic sejak bergabung dengan bursa saham New York pada 2019 lalu. Sebelumnya pada Mei 2020, Branson sudah menjual US$ 505 juta atau Rp7,2 triliun dan pada April 2021 menjual US$ 150 juta atau Rp2,1 triliun.
Total penjualan saham Richard Branson hampir mencapai US$ 1 miliar. Dengan demikian, kini Branson masih memegang sekitar 46 juta saham senilai US$ 1,2 miliar (Rp17,2 triliun). Dalam waktu 3 hari, Richard Branson menjual lebih dari 10 juta saham.
Richard Branson Kembangkan Bisnis Perjalanan Luar Angkasa
Dalam keterangannya, pihak Virgin Group juga mengungkapkan alasan di balik keputusan Richard Branson menjual sahamnya. Rupanya, upaya ini dilakukan untuk mengembangkan bisnis perjalanan luar angkasa miliknya dan juga membantu bisnisnya yang terdampak pandemi Covid-19.
"Kami berniat untuk menggunakan hasil bersih dari penjualan ini untuk mendukung portofolio bisnis liburan dan perjalanan global yang terus terkena dampak pandemi Covid-19, selain untuk mendukung pengembangan dan pertumbuhan bisnis baru dan yang sudah ada," ujar Virgin Group.
Sebelumnya pada 11 Juli 2021, Richard Branson berhasil terbang ke luar angkasa, mendahului pendiri Amazon, Jeff Bezos yang berangkat dengan Blue Origin pada 20 Juli 2021. Di Instagramnya, pengusaha berusia 71 tahun ini membagikan momen perjalanan selama 90 menit itu melihat bumi dari luar angkasa. Richard Branson sukses mendarat kembali ke bumi dengan selamat.
Bisnis Richard Branson
Pemilik nama asli Sir Richard Charles Nicholas Branson ini lahir di Blackheath pada 18 Juli 1950. Konglomerat asal London itu merupakan anak dari pasangan tentara dan pengacara James Branson dan Eve, seorang penari balet yang beralih karier menjadi pramugari.
Tidak ada darah bisnis dalam keluarga Richard Branson. Tapi dia sudah memulai bisnis di usia yang sangat muda yakni 16 tahun. Saat itu, Branson mempublikasikan majalah Student yang digunakan untuk mengiklankan album-album musik terpopuler.
Sampai akhirnya di tahun 1970, Richard Branson mendirikan bisnis rekaman musik lewat Virgin Records. Branson sempat menghadapi masalah hukum dan dibawa ke pengadilan karena menyalahi aturan pajak. Alhasil, dia didenda sampai 70 ribu poundsterling. Kedua orangtua Richard Branson sampai menggadaikan rumah mereka untuk membantu anaknya membayar denda tersebut.
Meski demikian, Richard Branson tidak menyerah dan berusaha bangkit. Di usianya yang masih muda, Branson sudah melebarkan bisnisnya tidak hanya di maskapai penerbangan, Virgin Atlantic, tapi dia juga menjajal waralaba kereta api privatisasi British Rail dengan mendirikan Virgin Rail Group pada 1997.
Di tahun 2004, Richard Branson membangun perusahaan penerbangan luar angkasa, Virgin Galactic yang berbasis di Mojave Air dan Space Port di California, Amerika Serikat. Perusahaan inilah yang menjadi awal bisnis luar angkasa yang kini digeluti Branson.
Setelah sukses melakukan perjalanan ke luar angkasa, pada 5 Agustus, Richard Branson melalui perusahaannya mengumumkan menjual tiket perjalanan menelusuri luar angkasa sebesar USD450 ribu atau setara Rp6,4 miliar per kursi.
Disleksia Membantunya Sukses
Tapi siapa sangka, di balik kesuksesannya sekarang yang bahkan menduduki peringkat orang terkaya ke-589 di dunia ini, Richard Branson pernah mengidap disleksia atau gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Dikutip dari Alodoker, penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat.
Meski demikian, Branson justru mengatakan bahwa kondisinya tersebut yang mengambil peran penting dalam kesuksesannya saat ini. Dia mengatakan salah satu kekuatan penting yang sering dimiliki penderita disleksia adalah imajinasinya yang jelas.
Dahulu dia bermimpi bisa pergi ke luar angkasa. Kini, itu semua bukan hanya sekadar mimpi. Richard Branson berhasil membuktikan kalau semua orang bisa menjadi astronot. Richard Branson juga menambahkan bahwa keterampilan yang menyangkut disleksia mungkin akan sangat dibutuhkan di dunia kerja baru.
Baca juga: Kisah Sukses Changpeng Zhao CEO Binance, Sempat Jual Rumah