Masalah Kesehatan Jiwa yang Timbul Akibat Covid-19

Image title
28 Mei 2021, 14:40
Masalah Kesehatan Jiwa yang Timbul Akibat Covid-19
ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling (BK) Universitas Veteran Bantara (Univet) Sukoharjo dengan memakai riasan tokoh Joker melakukan aksi bertema Stop Depresi di Simpang Lima Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (10/10/2019).

Berdasarkan survei Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada 14 Mei 2020 diketahui, terdapat sejumlah masalah kesehatan jiwa yang timbul selama pandemi Covid-19. Beberapa di antaranya ialah trauma, masalah psikologis, kecemasan, dan depresi. 

Survei yang melibatkan 2.364 responden dari seluruh Indonesia itu mengungkapkan, gejala kecemasan yang paling sering terjadi ditandai dengan kekhawatiran terjadinya hal buruk, cemas berlebihan, mudah marah, dan sulit untuk rileks. Sementara itu, gejala depresif yang sering muncul ialah gangguan tidur, kurangnya optimisme, kelelahan, serta hilangnya minat.

Laman Instagram Pandemictalks melansir, masalah maupun gangguan kesehatan jiwa juga dialami para pasien dan penyintas Covid-19. Suatu studi mengemukakan, satu dari tiga penyintas Covid-19 di Amerika Serikat selama 2020 mengalami gangguan mental atau neurologis dalam kurun enam bulan setelah mendapatkan diagnosis Covid-19.

Diagnosis yang paling umum ditemukan adalah gangguan kecemasan dan gangguan suasana hati alias mood. Dan merujuk kepada studi lain diketahui pula bahwa penyintas Covid-19 berisiko lebih besar alami gangguan cemas dan mood dalam tiga bulan pertama setelah didiagnosis. Risiko munculnya masalah kesehatan mental sejalan dengan derajat keparahan Covid-19 yang diderita.

Selain itu, mengutip pemberitaan BBC Indonesia, sepertiga dari orang yang pernah terinfeksi Covid-19 dan mengalami gangguan kejiwaan -seperti depresi dan psikosis- berpotensi mengalami kekambuhan. Tak hanya itu, penelitian di Inggris ini juga mengakui bahwa cemas dan gangguan mood adalah diagnosis paling umum yang dialami penyintas Covid-19. 

Temuan lain yang tak kalah penting ialah kian parah penyakit pasien maka kemungkinan mereka mendapatkan diagnosis gangguan kesehatan jiwa atau gangguan otak semakin besar. Lebih jauh, yakni gangguan suasana hati, cemas, dan psikotik mempengaruhi 24 persen dari semua pasien. Angka ini meningkat jadi 25 persen pada mereka yang dirawat di rumah sakit. 

“Studi yang ada menegaskan kecurigaan kami bahwa diagnosis Covid-19 tidak hanya terkait dengan gangguan pernapasan, tetapi juga terkait dengan masalah kejiwaan dan neurologis,” ujar Prof. Dame Til Wykes dari Institute of Psychiatry, Psychology, and Neuroscience, King’s College London.

Dalam proses pengamatan atas kondisi pasien Covid-19 selama enam bulan setelah diagnosis, diperoleh informasi bahwa gangguan kejiwaan bisa muncul lebih lama dari yang diperkirakan. Kondisi ini tidak mengherankan, khususnya bagi mereka yang sempat menderita Covid-19 dalam jangka panjang. 

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait