Mewaspadai Gangguan Kesehatan dari Work From Home Saat Pandemi

Kita perlu mewaspadai gangguan kesehatan selama work from home akibat terlalu lama menggunakan komputer atau gawai.
Image title
23 Oktober 2021, 08:00
work from home
123rf.com

Sejak pandemi Covid-19 melanda berbagai negara di dunia, kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) menjadi pilihan banyak pihak termasuk di Indonesia. Bahkan, berdasarkan survei BBC, sebagian besar karyawan tidak ingin kembali bekerja di kantor secara penuh waktu meskipun kelak pandemi berlalu. 

Survei terhadap 1.684 orang tersebut mendapati sekitar 70 persen responden memperkirakan kebijakan work from office (WFO) secara penuh kemungkinan tak akan terjadi. Yang pasti, banyak responden lebih menyukai bekerja dari rumah secara seratus persen atau sebagian WFH-WFO. 

Terlepas dari pro dan kontra terhadap kebijakan WFH, perlu kita sadari bahwa bekerja dari rumah tetap memiliki kelebihan serta kekurangan. Salah satunya, Anda perlu mewaspadai gangguan kesehatan akibat menggunakan komputer atau gawai yang terlalu lama saat WFH, yaitu computer vision syndrome (CVS)

Sindrom penglihatan komputer adalah kondisi saat mata memerah, berair, gatal, dan kadang sampai sakit kepala. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) menyebutkan, keadaan ini disebabkan karena terlalu lama bekerja dengan komputer. 

“Ini akibat bekerja terlalu lama dengan komputer, karena bekerja dengan komputer adalah bekerja dengan jarak yang sama dan terus-menerus, berjam-jam,” ujar Ketua Umum Perdami M. Sidik, dilansir laman resmi Kementerian Kesehatan, beberapa waktu lalu.

Lebih jauh, Sidik menjelaskan, pada dasarnya CVS adalah gejala kelelahan pada mata. Kondisi yang disebabkan karena mata melihat layar komputer dengan jarak tertentu secara terus menerus, selama berjam-jam saat WFH. 

Hal tersebut menyebabkan terjadi kekakuan pada otot mata, sehingga ketika melihat ke arah jauh maka objek menjadi tampak ganda atau buram. Meskipun efek ini hanya sesaat, tetapi bisa menjadi berbahaya jika terbiasa seperti ini. 

Oleh karena itu, Perdami menyarankan agar menggunakan komputer maksimal selama dua jam, kemudian istirahat selama sepuluh hingga 15 menit. “Istirahat artinya berhenti melihat layar komputer maupun gawai, bukan berarti istirahat terus melihat gawai,” imbuh Sidik. 

Istirahat yang dimaksud ialah melihat objek yang jauh atau dengan tutup mata. Kalangan dokter mata biasa menyebut ini dengan rule of twenty, yakni setelah 20 menit bekerja dengan komputer maka istirahatkan mata Anda selama 20 detik dengan melihat objek pada jarak enam meter. 

“Itu akan mengurangi beban mata Anda, istirahatkan mata sejenak kemudian bekerja lagi,” tutur Sidik. 

WFH tidak hanya perlu dicermati dari segi kesehatan jasmani jangka panjang. Karyawan mungkin lebih menikmati bekerja dari rumah, tetapi belum tentu pimpinan perusahaan merasakan sama. Pasalnya, berdasarkan survei BBC, pimpinan perusahaan khawatir kreativitas di tempat kerja akan terpengaruh. 

Sebagaimana diberitakan pula oleh sejumlah media di dalam negeri, yakni setengah dari 530 pimpinan senior yang turut disurvei YouGov dan BBC menyatakan, pekerja yang tinggal di rumah akan berdampak buruk terhadap kreativitas dan kolaborasi perusahaan. 

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, bekerja dari rumah diterapkan di banyak bidang pekerjaan. Kebijakan ini diharapkan bisa membantu mencegah penularan virus Corona di lingkungan perkantoran. 

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait