Studi: Penyintas Covid-19 yang Mendapat Vaksin Punya Kekebalan Lebih

Temuan penyintas Covid-19 yang mendapatkan vaksin mempunyai kekebalan tinggi masih berdasarkan studi dari jumlah pasien yang sangat terbatas.
Image title
8 Desember 2021, 07:00
Petugas berinteraksi dengan penyintas COVID-19 yang mendonorkan plasma darahnya di UDD PMI Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (3/3/2021). Penyediaan sarana apherisis donor plasma itu untuk memenuhi tingginya kebutuhan plasma darah bagi penderita C
ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/foc.
Petugas berinteraksi dengan penyintas Covid-19 yang mendonorkan plasma darahnya di UDD PMI Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (3/3/2021).

Penyintas Covid 19 yang kemudian mendapat vaksin m-RNA memiliki respons imun yang sangat kuat dalam melawan SARS-CoV-2 alias virus corona. Tubuh para penyintas ini memproduksi antibodi dengan tingkat kekebalan tinggi dan punya fleksibilitas yang tinggi pula. 

"Bahkan diperkirakan, orang-orang ini akan sangat terlindungi dari sebagian besar --bahkan mungkin semua-- varian SARS-CoV-2 yang mungkin muncul di masa depan," ujar Virologi dari Rockefeller University Paul Bieniasz dikutip dari laman organisasi media non-profit NPR.

Dalam studi yang dipublikasikan Agustus 2021, Paul dan rekan-rekannya menemukan antibodi dari sekelompok orang yang mampu menetralkan enam variants of concern yang diujikan, termasuk varian Delta dan Beta. Para peneliti lantas melabeli respon kekebalan ini sebagai super-immunity, ada juga yang menyebutnya sebagai hybrid immunity

Para penyintas Covid 19 yang mendapat vaksin m-RNA disebut terekspos virus secara hibrida alias dua kali dalam bentuk yang berbeda. Secara spesifik, imunitas ini ditemukan dari mereka yang terinfeksi Covid-19 pada tahun 2020 dan kemudian menerima imunisasi m-RNA tahun 2021.

"Mereka merespons vaksin dengan sangat luar biasa," tutur Theodora Hatziioannou, virologi dari Rockefeller University yang juga terlibat dalam studi.

Dia menambahkan, antibodi yang terkandung di darah orang-orang ini bahkan bisa menetralisasi SARS-CoV-1, virus corona pertama yang menyebar 20 tahun lalu. “Saya pikir mereka berada di posisi terbaik untuk melawan virus,” tuturnya.

Meski begitu, temuan ini masih berdasarkan studi dari jumlah pasien yang sangat terbatas yakni sekitar 14 pasien. Oleh sebab itu, masih perlu penelusuran lebih jauh mengenai studi ini.

Di Indonesia, sejauh ini, terdapat dua vaksin yang berbasiskan mRNA, yakni Moderna dan Pfizer. Sedikit berbeda dengan vaksin lain yang bekerja dengan memasukan virus tidak aktif atau yang dilemahkan dalam tubuh, vaksin mRNA bekerja dengan mengajarkan tubuh untuk membentuk protein pada sel-sel tubuh manusia, sehingga dapat memicu respons tubuh.

Sementara itu, Ahli Imunologi dari Universitas Pennsylvania John Wherry mendapatkan temuan yang mirip. “Dalam riset, kami mulai melihat beberapa antibodi yang mulai berevolusi dalam tubuh orang yang mendapat vaksinasi, namun itu terjadi lebih cepat di tubuh mereka yang sempat terinfeksi," terangnya.

Namun secara umum, hasil temuan John dan rekan-rakannya menunjukkan seiring berjalanya waktu orang yang mendapat dua dosis suntikan vaksin mulai memproduksi antibodi yang fleksibel. Antibodi yang mampu mengenali berbagai varian mutasi virus corona.

Para ilmuwan menyimpulkan dari temuan ini kalau sistem imun tubuh pada akhirnya akan mampu mengungguli virus.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait