Dunia Menghadapi Resesi Ekonomi

Selain PDB, indikator lain yang turut menjadi ukuran terjadinya resesi adalah tingkat pendapatan, pengangguran, produksi industri, hingga penjualan ritel.
Andrea Lidwina
Oleh Andrea Lidwina
10 Agustus 2020, 07:15

Resesi “coronavirus” melanda dunia. Pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara mengalami kontraksi pada kuartal II-2020. Di Eropa, pertumbuhan ekonomi bahkan turun hingga minus puluhan persen.

Sementara di Asia, Singapura mencatatkan penurunan paling tajam sepanjang April-Juni 2020, yakni -12,6 persen. Kemudian, Hong Kong sebesar -9 persen, Korea Selatan -2,9 persen, dan Jepang -1,7 persen. Pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat pun mengalami kontraksi 9,5 persen pada kuartal ini.

Negara-negara tersebut masuk ke dalam lubang resesi, meski perekonomian Korea Selatan dan Amerika Serikat masih tumbuh positif pada kuartal I-2020. Menurut National Bureau of Economic Research (NBER), resesi bisa terjadi karena adanya penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi. Karena itu, kurva pertumbuhan ekonomi yang naik-turun, berbentuk V, U, W, bisa dikategorikan sebagai resesi.

Selain itu, NBER tidak hanya mengukur ekonomi suatu negara berdasarkan PDB. Lembaga ini juga mempertimbangkan indikator lain, seperti pendapatan, tingkat pengangguran, produksi industri, dan penjualan ritel.

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.