Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1433 Hijriah Jatuh Senin 2 Mei 2022

Aryo Widhy Wicaksono
1 Mei 2022, 19:08
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memberikan keterangan hasil sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1443 Hijriah di Kemenag, Jakarta, Jumat (1/4/2022).
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memberikan keterangan hasil sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1443 Hijriah di Kemenag, Jakarta, Jumat (1/4/2022).

Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1443 Hijriah yang menjadi Hari Raya Idul Fitri 2022 jatuh pada Senin, (2/5). Penetapan diputuskan Kementerian Agama (Kemenag) dalam Sidang Isbat bersama perwakilan beberapa organisasi masyarakat (ormas) Islam dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta tokoh-tokoh agama dan duta besar negara sahabat. 

"Berdasarkan hisab, posisi hilal seluruh Indonesia sudah di atas ufuk, secara laporan hilal yang sudah terlihat, secara mufakat tadi Sidang Isbat menetapkan 1 syawal 1443 H jatuh pada hari, Senin tanggal 2 Mei 2022 Masehi," Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas usai sidang Isbat yang disiarkan secara hybrid, Minggu (1/5).

Menurut Menag, dari 99 titik tersebut, posisi ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia pada posisi antara 4 derajat 0,59 menit sampai dengan 5 derajat 33,57 menit.  Penentuan Hari Raya Idul Fitri ini menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan langsung serta hisab yang menggunakan hitungan tanggal.

Tahun ini, informasi hitungan hisab telah dikonfirmasi petugas Kemenag di 99 titik pemantauan rukyatul hilal di 33 provinsi di Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Sebelum menggelar Sidang Isbat, Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kemenag menyampaikan bahwa secara hisab, hilal awal Syawal 1443 Hijriah di Indonesia dimungkinkan berhasil dirukyat pada hari ini, Minggu (1/5).  Sebab berdasarkan perhitungan, posisi bulan sudah berada dalam Kriteria Baru MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapore). 

"Berdasar hisab Kriteria Baru MABIMS (3-6,4), baik menggunakan elongasi toposentrik maupun geosentrik di Indonesia sudah memenuhi syarat kriteria minimum tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat," jelas anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kemenag Cecep Nurwendaya, saat memaparkan posisi hilal secara astronomis (hisab) dalam Seminar Posisi Hilal Penentu Awal Syawal 1443 H.

Dalam seminar yang digelar jelang Sidang Isbat (penetapan) Awal Syawal 1443 Hijriah, pakar astronomi ini menjelaskan, 3-6,4 adalah rumusan kriteria baru MABIMS  dalam masalah penentuan awal bulan kamariah. Kriteria ini diputuskan pada 8 Desember 2021 dan telah diterapkan pada awal Ramadan 1443 H/2022 M. 

Kriteria tersebut menetapkan bahwa awal bulan kamariah dinyatakan masuk, bila memenuhi parameter ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat, disingkat 3-6,4.

Simak juga data mengenai produk yang paling banyak dibeli menjelang Lebaran:

Menurut Cecep, ketinggian hilal di Indonesia berada pada rentang 3,79 derajat sampai 5,56 derajat. "Ini menunjukkan semua daerah telah memenuhi tinggi Kriteria Baru MABIMS," ungkap Cecep. 

Namun demikian, Cecep menekankan pemerintah tetap perlu melihat hasil pengamatan langsung terhadap rukyatul hilal, untuk melengkapi hasil hisab yang telah dipaparkan, untuk memberikan keputusan penetapan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri. 

"Untuk tujuan kemaslahatan umat, rukyat di Indonesia dilakukan sebagai konfirmasi dari hisab," ungkapnya. 

Dengan menggunakan pedoman rambu-rambu batas elongasi geosentrik minimal 6,4 derajat, diprediksi sebagian besar wilayah Indonesia, sebagian wilayah tengah dan seluruh wilayah barat dimungkinkan berhasil merukyat hilal.  

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Aryo Widhy Wicaksono

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...