IMF Kategorikan Deutsche Bank Paling Berisiko di Dunia

Penulis: Maria Yuniar Ardhiati

Editor: Muchamad Nafi

28/7/2016, 11.15 WIB

Deutsche Bank memiliki dua pilihan, yaitu memangkas aset atau menambah modal. HSBC dan Credit Suisse di posisi berikutnya.

Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Institusi pemberi pinjaman terbesar asal Jerman, Deutsche Bank, dikategorikan sebagai bank paling berisiko oleh Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF). Dengan pengumuman ini, saham bank tersebut telah anjlok 45 persen.

Dalam laporan yang diterbitkan Juni lalu, IMF menyatakan Deutsche Bank menjadi bank yang menyumbang risiko sistemik terbesar di sistem perbankan global. Predikat ini diikuti oleh HSBC dan Credit Suisse.

Profit untuk kuartal kedua bank tersebut juga merosot karena pemasukannya turun 98 persen. Saham Deutsche Bank terpuruk 2,5 persen di Frankfurt di kuartal tersebut. (Baca: Lembaga Keuangan Dunia Ramai-ramai Pangkas Pertumbuhan Ekonomi)

Selain itu, masih banyak risiko yang membayangi Deustche Bank. “Yang menjadi persoalan mendasar, Deutsche Bank berpengaruh terlalu besar,” kata para analis dari Bank Berenberg seperti dilansir CNN, Kamis, 27 Juli 2016.

Mereka menilai Deutsche Bank memiliki dua pilihan, yaitu untuk memangkas aset atau menambah modal. Keduanya memiliki risiko tersendiri. Kondisi pasar saat ini tidak memungkinkan bagi bank untuk menjual asetnya.

Namun, peningkatan modal dari investor juga sulit dilakukan karena bank tidak bisa menawarkan pengembalian yang layak. (Baca: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Amerika Jadi 2,2 Persen).

Deutsche Bank menuding lemahnya kinerja perdagangan dan investasi perbankan serta biaya restrukturisasi sebagai penyebabnya. Bukan hanya sebagai bank terbesar di Jerman, Deutsche Bank juga merupakan pemain besar internasional.

Sejak Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa yang dikenal sebagai Britain Exit (Brexit), saham Deutsche Bank sudah anjlok 18 persen. Saat ini Deutsche Bank berusaha memperkuat modalnya untuk menghadapi kemungkinan krisis di masa mendatang. John Cryan, yang menjadi Chief Executive Officer Deutsch Bank setahun lalu sudah mulai melepaskan aset-aset yang berisiko dan pembayaran dividen yang tertahan. 

Salah satu persoalan Deutsche Bank yaitu tidak memiliki bank ritel besar atau manajemen kekayaan untuk mengatasi imbal hasil yang rendah dalam investasi perbankan. (Baca: IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global, Indonesia Tak Ikut Terseret).

Di satu sisi, peraturan tegas yang diberlakukan sejak krisis finansial global terjadi memang membuat bisnis utama Deutsche Bank lebih aman. Namun di sisi lain, keuntungan yang diperoleh bank juga menurun.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha