KKP Salurkan Bantuan Modal dan Alat Tangkap bagi Nelayan

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

15/11/2017, 19.37 WIB

Untuk mendapat bantuan modal, nelayan diminta membentuk koperasi.

Nelayan Tuna
Donang Wahyu|KATADATA
Seorang nelayan berdiri dekat perahu Pakura miliknya saat hendak pergi melaut. Pakura banyak digunakan oleh nelayan-nelayan Filipina untuk menangkap tuna.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan bantuan modal bagi nelayan yang membutuhkan dana untuk melaut. Para nelayan diimbau membentuk unit simpan pinjam dengan anggota minimal 20 orang.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP Sjarief Widjaja menyatakan bantuan bagi nelayan kecil diberikan agar mereka terhindar dari tengkulak. “Modal akan dialirkan lewat koperasi, misalnya sekali pergi melaut pinjam Rp 1 juta, dapat ikan, lalu dikembalikan ke koperasi,” kata Sjarief dalam keterangan resmi dari Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (15/11).

KKP juga membantu proses pendanaan dengan program Sertifikat atas Hak Tanah. Nelayan yang mempunyai rumah dan tanah akan dibantu mengurusnya ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Sehingga, nelayan yang membutuhkan modal untuk membangun kapal besar bisa menggunakan sertifikat sebagai agunan.

Selain itu, KKP juga menyalurkan 287 bantuan alat tangkap ikan ramah lingkungan bagi nelayan di Jawa Tengah. Rinciannya adalah 26 paket untuk nelayan Pekalongan, 61 paket untuk nelayan Batang, dan 200 paket untuk nelayan Brebes.

Bantuan ini merupakan tambahan dari KKP setelah sebelumnya telah menyalurkan 123 paket dengan rincian 25 ke Pekalongan, 30 ke Batang, dan 68 ke Brebes. Namun, Sjarief juga memberikan 1 kapal 5 Gross Tonnage (GT) dan 5 kapal 10 GT kepada nelayan Kota Pekalongan, serta 3 kapal 5 GT untuk nelayan Kabupaten Pekalongan.

(Baca juga:  BPS Duga Pengangguran Maluku Tertinggi karena Usaha Perikanan Terpukul)

Sjarief mengungkapkan KKP bakal memperbaiki Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Jambean, Kabupaten Pekalongan yang berada dalam kondisi rusak berat. Nelayan mengeluh karena kondisi TPI yang tidak bisa digunakan untuk menyandarkan perahu, juga kios-kios sekitar TPI hancur karena banjir rob.

Menurutnya, masalah rob merupakan hal yang sering terjadi di Pantai Utara Jawa seperti Semarang, Kendal, Pekalongan, dan Batang. “Kami sekarang sudah bikin semacam tanggul laut, penanaman mangrove untuk menghindari abrasi, rob, dan sebagainya,” tuturnya.

Ia menjelaskan KKP sangat memperhatikan ketersediaan sumber daya ikan dan nelayan. Sebab, konsumsi ikan oleh masyarakat mencapai 43 kilogram per orang setiap tahun. Padahal, rata-rata konsumsi daging sapi hanya sebesar 2,3 kilogram per orang setiap tahun.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan