Jenderal Gatot Dikritik Mutasi 85 Perwira TNI di Masa Akhir Jabatan

Penulis: Yuliawati

Editor: Yuliawati

Rabu 6/12/2017, 10.33 WIB

Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan seharusnya Jenderal Gatot tak melakukan mutasi di masa akhir jabatannya.

Panglima TNI Gatot Nurmantyo
Arief Kamaludin|KATADATA
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memutasi 85 perwira tinggi (Pati) di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mutasi ini berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/982/XII/2017 yang ditandatangani Jenderal Gatot pada 4 Desember 2017.

Kepala Bidang Penerangan Umum Pusat Penerangan TNI, Kolonel Bedali Harefa, mengatakan mutasi dan promosi dalam rangka TNI meningkatkan kinerja di tingkat perwira tinggi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

"Mutasi jabatan di lingkungan TNI ini untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan pembinaan karier Perwira Tinggi TNI, guna mengoptimalkan tugas-tugas TNI yang semakin kompleks dan dinamis," kata Harefa dalam siaran pers, Selasa (5/12).

(Baca: Jenderal Gatot Siap Berhenti sebagai Panglima TNI Sebelum Masa Pensiun)

Ketua Setara Institute Hendardi mengkritik langkah Jenderal Gatot yang melakukan mutasi menjelang masa akhir jabatannya. Saat ini Komisi I DPR sedang menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Hadi Tjahjanto yang dicalonkan menggantikan posisi Gatot. 

"Sejak beberapa bulan sebelum pensiun seharusnya yang bersangkutan sudah dapat menghindari mengambil keputusan-keputusan strategis bagi kepemimpinan berikutnya," kata Hendardi.

Meskipun tak ada aturan yang melarang keputusan strategis termasuk mutasi menjelang masa berakhirnya kepemimpinan, Hendardi menyatakan hal tersebut terkait dengan etika. "Sebenarnya ini lebih merupakan persoalan etika yang semestinya sdh dipahami pimpinan dalam suatu organisasi," kata Hendardi.

Mutasi Jabatan 85 perwira tinggi TNI terdiri dari 46 perwira tinggi TNI Angkatan Darat, 28 perwira tinggi TNI Angkatan Laut, dan 11 perwira tinggi TNI Angkatan Udara.

Beberapa jajaran perwira tinggi TNI AD dimutasi, salah satunya Panglima Komando Cadangan Strategis AD (Pangkostrad) Letnan Jenderal Edy Rahmayadi yang berpindah menjadi Pati Mabes AD untuk persiapan pensiun dini.

Jabatan Pangkostrad akan digantikan Mayor Jenderal Sudirman yang semula menjabat Asisten Operasi Kepala Staf AD (Asops Kasad).

Selanjutnya, Panglima Kodam (Pangdam) II/Sriwijaya Mayjen AM Putranto mengisi Asops Kasad. Sebaliknya, Mayjen TNI Subiyanto diangkat menjadi Pangdam II/Sriwijaya.

Adapun pergantian Pati TNI AL antara lain Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono menjadi Komandan Korps Pendidikan dan Latihan (Dankodiklat). Posisi Bambang kemudian digantikan Brigjen TNI (Mar) Hasanudin yang sebelumnya menjabat Kepala Staf Korps Marinir (Kas Kormar).

Sementara itu, pergantian di TNI AL di antaranya pengangkatan Marsekal Muda TNI Imran Baidirus dari Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I (Pangkoopsau I) menjadi Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas). Posisi Imran digantikan oleh Marsekal Pertama Nanang Santoso.

 (Baca: Jokowi Ajukan KSAU Marsekal Hadi Gantikan Panglima TNI Gatot Nurmantyo)

 

Kuis Katadata