Petrogras Jatim Ikut Mundur dari Proyek Jambaran Tiung Biru

Penulis: Arnold Sirait

20/12/2017, 14.16 WIB

Ketua Badan Kerja Sama (BKS) blok Cepu Ganesha Asyari mengatakan PJUC sudah resmi mundur per 19 Desember 2017.

Migas
Dok. Chevron
ilustrasi

Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) akhirnya resmi mundur dari Proyek Jambaran-Tiung Biru yang dioperatori PT Pertamina EP Cepu. Keputusan ini menyusul tiga badan usaha milik daerah (BUMD) lainnya yang lebih dulu menyatakan mundur dari proyek tersebut karena dinilai tidak ekonomis lagi.

Ketua Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu Ganesha Asyari mengatakan PJUC sudah resmi mundur per 19 Desember 2017. “BKS sudah resmi juga kirim surat ke PT Pertamina EP Cepu (PEPC),” kata dia kepada Katadata.co.id, Rabu (20/12).

Seperti diketahui, BKS Blok Cepu ini terdiri dari Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) dengan hak kelola 2,2423%, Sarana Patra Hulu Cepu (SPHC) 1,0910%, Asri Dharma Sejahtera (ADS) 4,4847%, dan Blora Patragas Hulu (BPH) 2,1820%. Sebelum PJUC mengambil sikap, tiga BUMD sudah berkirim surat kepada PEPC pada November lalu mengenai mundurnya dari proyek JTB.

Keputusan ketiga BUMD itu diambil setelah melakukan kajian terlebih dulu. Kesimpulannya, lapangan tersebut tidak ekonomis sehingga mereka mudur dari Proyek JTB.

Dengan keputusan itu, BKS meminta PEPC mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan. Menurut Ganesha, total uang yang sudah dikeluarkan empat BUMD yang tergabung di BKS sejak tahun 2013 hingga November 2017 sekitar US$ 17,8 juta hingga US$ 17,9 juta. Namun angka itu masih akan diverifikasi ulang Pertamina EP Cepu dan induknya PT Pertamina (Persero).

Adapun BUMD yang tergabung dalam BKS itu memiliki hak kelola 9,2% di proyek Jambaran-Tiung Biru. Kemudian PEP sebesar 8%. Sisanya dipegang oleh PEPC selaku operator.

(Baca: Mundur dari Lapangan Tiung Biru, Tiga BUMD Minta Pengembalian Biaya)

Jambaran-Tiung Biru merupakan salah satu proyek strategis nasional. Berdarkan proposal pengembangan lapangan (Plan of Development/PoD), investasi proyek tersebut mencapai US$ 2,05 miliar. Namun, menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) investasi itu turun menjadi US$ 1,5 miliar agar harga gas US$ 7,6 per mmbtu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan