Melebihi 2016, BI Catat Dana Asing Masuk Tahun Ini Rp 138 Triliun

Penulis: Rizky Alika

Editor: Martha Ruth Thertina

29/12/2017, 21.54 WIB

Aliran masuk modal asing (capital inflow) sepanjang 2017 lebih tinggi Rp 12 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran masuk modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan domestik mencapai Rp 138 triliun sepanjang 2017. Jumlah tersebut meningkat Rp 12 triliun dibandingkan dengan 2016 lalu yang sebesar Rp 126 triliun.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, capital inflow yang meningkat menunjukkan investor asing betah di Indonesia. “Semua (investor) kerasan ke Indonesia,” kata Agus di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (29/12). (Baca juga: IHSG Cetak Rekor Tertinggi 6.355, Jokowi: Ini di Luar Perkiraan)

Menurut dia, kenaikan peringkat utang jangka panjang Indonesia oleh lembaga peringkat internasional turut mempengaruhi aliran masuk modal asing. Sebab, kenaikan peringkat tersebut mencerminkan kondisi ekonomi domestik yang membaik.

Pada Mei tahun ini, Standard & Poors menaikkan peringkat utang jangka panjang Indonesia menjadi layak investasi. Sementara itu, pada Desember ini, Fitch Ratings menaikkan peringkat utang jangka panjang Indonesia satu level di atas batas bawah layak investasi. “Ini membuat asing nyaman di Indonesia,” kata dia.

Adapun seiring dengan perbaikan peringkat utang, Agus menyebut Credit Default Swap (CDS) terus menurun. CDS merupakan indikator yang digunakan investor untuk melihat kerentanan suatu negara. CDS pada akhir tahun 2016 mencapai 157, sedangkan saat ini hanya 85. (Baca juga: Efek Rating Fitch: IHSG Diramal 6.700 dan Rupiah Lebih Stabil di 2018)

Ke depan, ia pun berharap modal asing bisa terus mengalir ke dalam negeri sehingga stabilitas keuangan dan nilai tukar terus terjaga. Adapun sepanjang tahun ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terdepresiasi 0,8%. Meski begitu, fluktuasinya diklaim membaik.

“(Tahun lalu volatilitas nilai tukar rupiah) 8%, sekarang itu volatilitasnya itu hanya 3,1%,” kata dia.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan