Tahun Politik, Pengusaha Yakin Retail Tumbuh Hingga 12%

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

Rabu 3/1/2018, 17.26 WIB

Sebelumnya, industri retail diwarnai oleh penutupan beberapa gerai ternama seperti 7-Eleven, Matahari, Ramayana, Lotus, hingga Dabenhams pada 2017.

Toko retail
ANTARA FOTO/R. Rekotomo
Ilustrasi gerai retail.

Setelah diwarnai penutupan beberapa gerai ternama seperti 7-Eleven, Matahari, Ramayana, Lotus, GAP, hingga Dabenhams pada 2017, pengusaha retail tampaknya lebih optimistis menghadapi tahun ini. Adanya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) bakal dilakukan serentak di 171 kabupaten/kota dipercaya bakal mendongkrak daya beli masyarakat.

Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) optimistis pesta demokrasi yang diselenggarakan pada 2018 akan mendongkrak pertumbuhan retail antara 10-12%. “Ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sekitar 7,5% sampai 8%, tapi kami masih hitung total pertumbuhan 2017,” ujar Ketua Umum Aprindo Roy Mandey kepada Katadata, Rabu (3/1).

Menurutnya, proses sosialisasi program kerja para calon kepala daerah disertai dengan penyediaan konsumsi masyarakat yang dibeli melalui retail. Terlebih, sistem kemitraan antara pengusaha retail dan warung tradisional sudah mulai berjalan.

Selain Pilkada, Roy menjelaskan perhatian pemerintah untuk mengalokasikan Dana Desa dan program dalam Dana Alokasi Khusus juga akan memacu konsumsi. Pasalnya, program pemerintah bakal meningkatkan produktivitas masyarakat yang berujung pada kenaikan pendapatan.

(Baca juga:  Retail Lain Berguguran, Transmart Buka 30 Gerai Baru Tahun Ini)

Ia juga berharap pemerintah menjaga nilai inflasi tetap rendah. Pasalnya, kenaikan harga untuk kebutuhan pangan dan energi bakal menahan tingkat konsumsi masyarakat.

“Regulator harus menjaga daya beli masyarakat dengan menjaga inflasi,” tutur Roy. Sehingga, langkah pemerintah untuk mempertahankan harga energi pada kuartal pertama 2018 bakal menjadi stimulus bagi masyarakat.

Hanya, menurut Roy, tahun politik juga akan menjadi tantangan bagi pengusaha retail. Alasannya, potensi terjadi kerusuhan sangat tinggi karena gejolak sosial dari perbedaan kepentingan calon pemimpin.

(Baca juga: Retail Pakaian Lesu, RIMO Rambah Bisnis Properti)

Nantinya, kerusuhan dalam bentuk demonstrasi akan menyebabkan situasi tidak kondusif sehingga masyarakat enggan berbelanja. “Saya berharap kedewasaan tiap calon kepala daerah untuk menjaga massa supaya tidak ada kerusuhan,” kata Roy.

Ia juga menjelaskan perkembangan e-commerce jadi tantangan. Harapannya, pemerintah segera menyelesaikan aturan untuk perdagangan digital agar mencapai kesetaraan dalam persaingan dagang.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha