Ketimpangan Kualitas Hidup Masyarakat Indonesia Masih Tinggi

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Senin 16/4/2018, 19.34 WIB

Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya DKI Jakarta mencatat indeks pembangunan manusia sangat tinggi sebesar 80,06.

penduduk Papua
ANTARA FOTO/Indrayadi TH
Aktivitas belajar mengajar di SD Inpres Yowong, Distrik Arso Barat, Kabupaten Keerom, Papua, Selasa (2/5).

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan ketimpangan kualitas hidup masyarakat Indonesia masih tinggi. Disparitas itu tercermin dalam rilis BPS tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2017 d yang  menjadi salah satu faktor pembangunan.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan dari 34 provinsi di Indonesia, hanya DKI Jakarta yang memiliki IPM berstatus sangat tinggi, yaitu 80,06. BPS juga mencatat, sebanyak  14 provinsi  memiliki IPM berstatus tinggi dengan angka 70 hingga 80 dan 18 provinsi memiliki status sedang dengan rentang IPM 60 sampai 70. Papua menjadi satu-satunya provinsi berstatus IPM rendah dengan perolehan indeks sebesar 59,09.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Ada pr besar mengenai ketimpangan kualitas hidup yang tinggi. Ada progres yang patut diapresiasi. Tentunya ke depan harus dibuat berbagai kebijakan untuk meningkatkan IPM rendah dan sedang,” kata Suhariyanto di Jakarta, Senin (16/4).

Selain itu, disparitas antarkabupaten dan kota di Provinsi Papua juga masih memiliki ketimpangan tinggi. Kabupaten Nduga misalnya, yang memiliki IPM yang sangat rendah yaitu 27,87, jauh dibandingkan Kota Jayapura yang mencapai 79,23.

Meski begitu, BPS juga mencatat ada kemajuan dalam peningkatan pembangunan manusia.Provinsi  Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Barat  meningkat paling tinggi dibanding tahun lalu dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 1,79%, 1,25%, dan 1,17%. “Meski rendah, ada upaya untuk mengejar pertumbuhan,” ujar Suhariyanto.

Pengukuran IPM dilakukan dengan mengacu pada 4 indikator, yakni Umur Harapan Hidup, Harapan Lama Sekolah, Rata-rata Lama Sekolah, dan Pengeluaran per Kapita. Keempat indikator juga mencatatkan nilai yang positif dari waktu ke waktu.

Pada 2017, masyarakat berharap bisa hidup selama 71,06 tahun, meningkat dibandingkan 2016 yang proyeksinya selama 70,90 tahun. Pelajar berusia muda juga berharap bisa sekolah selama 12,85 tahun dibandingkan 2016 yang ekspektasinya selama 12,72 tahun.

(Baca : Indonesia Naik Status Jadi Negara Dengan Pembangunan Manusia Tinggi)

Lama sekolah juga meningkat ketika survei dilakukan kepada penduduk usia 25 tahun ke atas. Pada 2016, lama sekolah hanya 7,95 tahun dan meningkat jadi 8,10 tahun tahun ini. Sedangkan pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia tahun 2017 mencapai Rp 10,66 juta, naik dibandingkan 2016 yang sebesar Rp 10,42 juta.

Peningkatan keempat indikator lantas mengerek IPM 2017 menjadi 70,81, naik 0,63 poin (0,9%) dibandingkan tahun lalu.  Selama 8 tahun sejak 2010, rata-rata IPM Indonesia tumbuh sebesar 0,89% per tahun dan meningkat dari level sedang (69,55) menjadi tinggi (70,18) pada 2016.

“Ini menunjukkan dari waktu ke waktu, kualitas hidup masyarakat meningkat,” kata Suhariyanto. 

Reporter: Michael Reily