BPS mengakui tingkat error klasifikasi desil DTSEN mencapai 23%, turun dari 37%. Kesalahan dipengaruhi metode, data tidak mutakhir, hingga kendala pemutakhiran di lapangan.
BPS catat penurunan angka penduduk miskin Indonesia, namun kriteria statistik ini berbeda dengan syarat akses jaminan kesehatan yang jadi masalah utama di lapangan.
BPS: desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan karakteristik sosial ekonomi, bukan ukuran absolut kemiskinan.
BPS menyebut perbedaan cakupan survei yang lebih komprehensif menjadi alasan indeks Literasi Keuangan Syariah pada 2026 tercatat lebih rendah daripada tahun sebelumnya.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan, indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57%, naik 2,93 poin persentase dibandingkan 2025 yang sebesar 66,64%.
BPS menegaskan Sensus Ekonomi 2026 tidak digunakan untuk pungutan pajak, melainkan untuk memperbarui data struktur ekonomi dan UMKM sebagai dasar kebijakan.
Banyak UMKM masih curiga saat didatangi petugas Sensus Ekonomi 2026 BPS. Pendataan bahkan dikaitkan dengan pajak dan pungutan, padahal data sensus penting untuk kebijakan pemerintah.