Minat Investasi Manufaktur Jepang ke Indonesia Turun
Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii menyatakan minat investasi industri manufaktur Jepang ke Indonesia menurun. Kedua negara pun melakukan kolaborasi untuk meningktkan investasi dan kerja sama.
“Untuk mengatasi masalah kesadaran dan memperkuat kerja sama telah didirikan Indonesia-Japan Business Network (IJBN) sebagai kerangka kolaborasi bisnis kedua negara,” kata Ishii di Jakarta, Rabu, (8/8).
Data Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menunjukan pada 2013, Indonesia masih menempati peringkat pertama tujuan investasi industri manufaktur. Namun, pada 2017 peringkat Indonesia turun langsung ke posisi kelima, dikalahkan Tiongkok, India, Vietnam, dan Thailand.
(Baca : Smelter dan E-Commerce Jadi Penarik Investor Asing ke Indonesia)
Padahal di satu sisi, investasi Jepang di Indonesia merupakan yang terbesar kedua pada 2017. Peningkatan investasi sepanjang periode 2013 hingga 2017 melonjak pesat, dari sebelumnya 1.438 perusahaan menjadi 1.911 perusahaan. “Kenaikan hampir 500 perusahaan selama empat tahun,” ujar Ishii.
Indonesia-Japan Business Network diharapkan menjadi wadah yang menjembatani kerja sama bisnis kedua negara. Jepang mendorong industri kecil menengah di Indonesia untuk ekspansi ke luar negeri melalui skema industry 4.0.
Selain itu, kedua negara juga memiliki program kerja sama 2045 sebagai peringatan 100 tahun Indonesia merdeka. Ishii mengungkapkan program akan menyasar 3 hal, yaitu mendorong industri kedua negara menajdi pemain utama global internasional, 5 besar kekuatan ekonomi dunia, dan meningkatkan kualitas hidup yang baik.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan Jepang merupakan mitra strategis Indonesia, sehingga hubungan perdagangannya akan terus ditingkatkan. Dukungan Jepang terhadap industry 4.0 diharapkan bisa mempercepat pembangunan nasional.
(Baca: Kemenperin Catat Investasi Smelter Mencapai Rp 234 Triliun)
Airlangga juga menyebut revolusi industri bakal memajukan perekonomian nasional dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru. Yang mana dari penerapan kebijakan tersebut nantinya bisa ikut mendorong pertumbuhan ekonomi riil sebesar 1-2% setahun, sehingga pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun akan naik menjadi 6% hingga 7% pada 2018-2030.
Indonesia pun akan berfokus pada 5 sektor industri prioritas, yaitu makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, elektronik, serta kimia. “Sektor prioritas diyakini mempunyai daya ungkit besar dalam hal penciptaan nilai tambah, perdagangan, besaran investasi, dampak terhadap industri lain, serta kecepatan penetrasi pasar,” kata Airlangga.
