Bappenas Optimistis Indonesia Bisa Jadi Pemain Besar Industri Kreatif

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Safrezi Fitra

Jum'at 14/9/2018, 14.19 WIB

"Jangan sampai nanti kita malah sibuk menjadi penggemar K-Pop. Padahal kita punya kemampuan di film atau musik yang sebenarnya tidak kalah," kata Bambang

Bambang Bappenas
Arief Kamaludin | Katadata

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro  meyakini, Indonesia mampu menjadi pemain besar dalam industri kreatif. Hanya saja, saat ini belum ada keseriusan mengembangkan industri kreatif ini.

"Jangan sampai nanti kita malah sibuk menjadi penggemar K-Pop. Padahal kita sendiri punya kemampuan di film atau di musik yang sebenarnya tidak kalah," kata Bambang di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Jumat (14/9).

Menurutnya, talenta pelaku industri kreatif di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. 
Hanya perlu keseriusan dalam menggarap industri ini dan mengemasnya menjadi suatu kegiatan ekonomi.  (Baca: Tumbuh Dua Digit, Bekraf Fokus Kembangkan Potensi Industri Film)

Pengembangan industri kreatif tanah air sejalan dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) di industri jasa. Dengan mengembangkan kegiatan ekonomi pada SDM, kata Bambang, Indonesia tidak perlu lagi terus bergantung pada pemanfaatan sumber daya alam (SDA).

Karena selalu terbuai dengan SDA, perekonomian Indonesia banyak bergantung pada volatilitas harga komoditas, seperti batu bara, minyak mentah, dan minyak kelapa sawit. Memang potensi SDA Indonesia begitu besar, tapi itu yang membuat Indonesia selalu kalah dengan Korea Selatan. 

(Baca juga: Tumbuh 20%, Penonton Bioskop Diproyeksi Capai 60 Juta pada 2019)

Bambang percaya, menjadikan SDM sebagai ujung tombak dapat menciptakan kemampuan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Karena sektor jasa memiliki nilai tambah yang tinggi dan stabil. Sektor inilah yang seharusnya menjadi bumper ekonomi Tanah Air.

"Kedepannya, mau harga batu bara tinggi, mau rendah, tidak masalah. Kalau batu bara, sawit, atau minyak harganya naik, anggap saja itu bonus," katanya.

Lemahnya sektor jasa ini, menjadi salah satu penyebab rendahnya Human Capital Index Indonesia tahun 2017. Dengan rata-rata skor 62,19, Indonesia hanya bisa menempati peringkat 65 dari 130 negara. Negara lain di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, bahkan Brunei Darussalam, masih lebih baik dari Indonesia.

Penyebab lain yang membuat Human Capital Index Indonesia masih rendah seperti penduduk usia produktif, yang pada umumnya memiliki pekerjaan berkeahlian rendah. Lalu, rendahnya partisipasi perempuan angkatan kerja usia produktif.

Partisipasi perempuan angkatan produktif dalam dunia kerja hanya 50% saja. Padahal, menurut Bambang, di negara-negara yang maju, partisipasi perempuan mencapai 70-80%. (Baca: Perempuan sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha