IMF Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2018 Tak Capai Target

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Hari Widowati

Rabu 10/10/2018, 04.58 WIB

Kebijakan moneter yang ketat atau suku bunga acuan di tingkat global yang tinggi menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tertahan.

Perdagangan dan Retail
Arief Kamaludin | Katadata
Sejumlah pembeli berbelanja di Pasar Swalayan Tip Top, Jakarta, Senin, (21/07). Jelang Iedul Fitri 1435 H, masyarakat menyerbu pusat perbelanjaan untuk mendapatkan potongan harga untuk produk-produk retail.

Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,3% menjadi 5,1% pada 2018. Proyeksi tersebut lebih rendah dibanding target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang sebesar 5,2%.

Chief Economist IMF Maurice Obstfeld menjelaskan, kebijakan moneter yang ketat atau suku bunga acuan di tingkat global yang tinggi menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tertahan. “Selain itu, harga minyak dunia dan kepastian (kebijakan) perdagangan belum jelas. Meski begitu, kami melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia fairly strong,” kata dia di Hotel Westin, Bali, Selasa (9/10).

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, keputusan IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena ada persoalan dari faktor permintaan. “Sekarang, dengan adanya kenaikan suku bunga (secara global) dan (volatilitas) nilai tukar menyebabkan beberapa aspek dari agregat permintaan Indonesia terpengaruh,” ujarnya.

Misalnya, kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR) lantas diikuti oleh peningkatan suku bunga acuan (BI 7Days Repo Rate). Respons Bank Indonesia (BI) itu dilakukan untuk mengamankan investasi asing supaya tidak keluar (capital outflow) dan menjaga volatilitas rupiah.

(Baca: Data Perdagangan Melemah, IMF Revisi Turun Proyeksi Laju Ekonomi Dunia)

Di satu sisi, kenaikan suku bunga acuan biasanya diikuti oleh peningkatan bunga perbankan. Alhasil, minat masyarakat untuk kredit, misalnya, bakal menurun. Yang secara keseluruhan, konsumsi masyarakat juga menurun. Maka, supaya ekonomi tetap tumbuh, pemerintah mendorong ekspor. “Kami harap impor turun, ekspor naik. Tapi kami lihat bagaimana respons industri kuat terhadap lingkungan yang kami hadapi,” ujar Sri Mulyani.

Di lain kesempatan, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kendati begitu, ia menegaskan bahwa instansinya tetap mendukung pertumbuhan ekonomi. Caranya, dengan melonggarkan aturan rasio kredit terhadap agunan (Loan to Value/LTV) supaya permintaan kredit rumah dan kendaraan tetap meningkat. “Yang penting itu bagaimana kami membaurkan kebijakan dengan pemerintah,” ujarnya.

Ia menyadari, penguatan dolar AS bakal mengurangi impor sehingga investasi menurun. Maka dari itu, mendorong ekspor bisa menjadi jalan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Tinggal sekarang kami menjaga financial account masuk terus. Itu lah pentingnya mengapa kami membuat suku bunga kami menarik,” ujar dia.

(Baca: Target Tumbuh 5,3%, Ekonomi Akan Ditopang Konsumsi Rumah Tangga)

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha