Pemerintah Kaji Penghapusan PPnBM dan PPh 22 Rumah Mewah

Penulis: Rizky Alika

Editor: Martha Ruth Thertina

Kamis 18/10/2018, 21.58 WIB

Penghapusan PPnBM dan PPh 22 untuk hunian mewah bertujuan mendorong pasar properti di segmen tersebut kembali menggeliat sehingga turut memacu ekonomi.

rumah mewah
R. REKOTOMO I ANTARA FOTO

Kementerian Keuangan tengah mengkaji penghapusan pajak rumah mewah, yaitu Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan penghapusan tersebut guna mendorong pembelian rumah mewah sehingga pasar properti di segmen tersebut kembali menggeliat. 

Menurut dia, menggeliatnya sektor properti dapat memberikan efek berganda atau multiplier effect (efek berganda) yang bagus terhadap perekonomian. "Karena sektor properti memiliki multiplier effect dari (penciptaan) kesempatan kerja (yang) banyak," kata dia di Kementerian Keuangan, Kamis (18/10). 

Selama ini, perputaran pasar untuk rumah mewah disebutnya hanya terjadi untuk rumah bekas lantaran tidak dikenakan PPnBM. Maka itu, kebijakan penghapusan pajak tersebut semestinya bisa jadi pendorong yang positif untuk bisnis di segmen itu. Rencana itu pun sudah dibicarakan dengan sejumlah pengembang properti.

(Baca juga: Pengembangan Perumahan Tumbuh Pesat di Jakarta dan 34 Kota Satelit)

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara belum bisa memastikan soal batasan harga hunian mewah yang kemungkinan akan dikenakan penghapusan pajak. Sebab, hal tersebut masih dalam pertimbangan Kementerian Keuangan.

Yang jelas, upaya untuk memacu kembali pasar rumah mewah dinilainya perlu dilakukan. Selama ini, pengembang properti lebih banyak menjual rumah kelas menengah dan murah dibandingkan dengan rumah mewah. Padahal, rumah mewah memiliki tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Bila pengembang hanya menjual rumah kelas menengah dan murah secara, daya gerak keuangan perusahaan dikhawatirkan terganggu. 

(Baca juga: Survei BI: Kenaikan Harga Hunian Melambat)

Ketentuan mengenai PPnBM properti mewah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 35/PMK.03/2017. Tarif PPnBM ditetapkan sebesar 20% dari nilai jual. Pajak ini berlaku untuk rumah dan town house dari jenis nonstrata title dengan harga jual sebesar Rp 20 miliar atau lebih. Selain itu, apartemen, kondominium, town house dari jenis strata title, dan sejenisnya dengan harga jual sebesar Rp 10 miliar atu lebih.

Di sisi lain, ketentuan mengenai PPh 22 untuk properti mewah diatur dalam PMK No.90/PMK.03/2015 yang merupakan perubahan dari PMK No.253/PMK.03/2008. Tarif pajak yang dikenakan adalah 5% bagi rumah beserta tanahnya, dengan harga jual atau harga pengalihannya lebih dari Rp 5 miliar atau luas bangunan lebih dari 400 meter persegi. Selain itu, apartemen, kondominium, dan sejenisnya dengan harga jual atau harga pengalihannya lebih dari Rp 5 miliar atau luas bangunan lebih dari 150 meter persegi.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai rencana penghapusan pajak tersebut tidak pas. "Kalau dihapus tujuan perpajakan tidak tercapai," ujarnya. "Tujuan PPnBM kan memenuhi rasa keadilan dengan masyarakat berpenghasilan rendah, selain mengatur konsumsi."

Ia mengusulkan dua opsi kebijakan yang lebih pas dalam mendorong perputaran pasar rumah mewah. Pertama, menaikkan batas bawah (threshold) rumah mewah yang terkena PPnBM. Kedua, menurunkan tarif PPnBM dengan membuat skema tarif yang progresif.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha