Setelah Diblokir Apple, Tumblr Janji Berantas Konten Pornografi

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

17/12/2018, 16.23 WIB

Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memblokir aplikasi Tumblr sejak Maret 2018.

Ponsel internet
Arief Kamaludin|KATADATA

Situs media sosial Tumblr berjanji bakal menghapus konten pornografi di platform-nya per hari ini (17/12). Komitmen ini dibuat menyusul blokir aplikasi Tumblr di platform App Store milik Apple.

Sementara di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah memblokir Tumblr sejak Maret 2018 lalu karena ditemukannya konten pornografi. Namun, Tumblr belum juga merespons surat Kominfo.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan menyampaikan, instansinya sudah mengirimkan surat agar Tumblr menghapus konten negatif seperti pornografi sejak 28 Februari 2018 lalu. "Mereka belum kirim surat (ke Kementerian Kominfo),” ujar dia di kantornya, Jakarta, Senin (17/12).

Alhasil, Kominfo hingga saat ini masih memblokir aplikasi Tumblr di Indonesia. "Kalau ada (surat balasan), kami normalisasi. Itu Standar Operasional Prosedur (SOP)," kata dia. "Itu harus dibalas. Walaupun sudah beda tahun."

Lambatnya respons Tumblr terhadap pemerintah berbanding terbalik dengan kasus Apple. Seperti di Indonesia, Apple menghapus aplikasi Tumblr dari App Store karena kegagalan sistem otomatisnya untuk mendeteksi dan menghapus pornografi anak. Seketika itu, Tumblr langsung melarang konten pornografi mulai 17 Desember 2018.

(Baca: Kominfo Siap Cabut Blokir jika Tumblr Hapus Konten Negatif)

Kepala eksekutif Tumblr Jeff D'Onofrio menyampaikan, langkah ini akan membantu platform-nya untuk menjadi tempat yang aman bagi pengguna untuk berekspresi dan menunjukkan sisi kreatif. "Kami mengakui Tumblr adalah tempat untuk berbicara tentang topik seperti seni, hubungan pribadi, perjalanan pribadi, pengalaman seks," ujar dia dalam postingan blog perusahaan.

Sejalan dengan hal itu, Tumblr berdiskusi mengenai penanganan konten pornografi di platform-nya. "Kami menghabiskan banyak waktu menimbang pro dan kontra ekspresi di komunitas yang mencakup konten dewasa. Dengan demikian jelas bahwa tanpa konten ini kami memiliki kesempatan untuk menciptakan tempat di mana lebih banyak orang merasa nyaman mengekspresikan diri," ujarnya.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha