Ekspor Batik Indonesia Capai Rp 747 Miliar Sepanjang 2018

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

13/3/2019, 18.32 WIB

Ekspor tenun ikat masih minim.

Trade Expo Indonesia 2018
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Seorang wanita sedang membentang kain batik dalam acara Trade Expo Indonesia 2018. TEI merupakan ajang promosi tahunan berskala internasional yang menampilkan produk dan jasa Indonesia berorientasi pasar ekspor.

Kementerian Perindustrian mencatat, ekspor batik Indonesia mencapai US$ 52,4 juta atau sekitar Rp 747,4 miliar sepanjang 2018. Sementara itu, nilai ekspor kain tenun ikat baru mencapai US$ 976 ribu atau sekitar Rp 13,91 miliar.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menyatkan, industri kecil dan menengah pada sektor batik dan tenun bisa bersaing secara global. "Kita sudah mampu memenuhi permintaan pasar internasional," kata Gati dalam keterangan resmi dari Yogyakarta, Rabu (13/3).

Dia menjelaskan, pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi Industri Kecil dan Menengah (IKM) tenun dan batik nasional. Apalagi, Indonesia mempunyai keunggulan dari para perajin yang kreatif dan kekayaan budaya. Sehingga, industri kreatif juga bisa terdorong secara bersamaan.

(Baca: Dukung Pemulihan Bencana, Didiet Maulana Pamerkan Tenun Donggala)

Gati mengungkapkan, sebagian besar pembuat kain tenun dan batik adalah pengusaha kecil yang tersebar di sentra industri. Sentra industri batik sebanyak 101 sentra, jumlah usaha mencapai 3.782 unit dan penyerapan tenaga kerja hingga 15.055 orang. Sentra industri batik terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Barat.

Untuk IKM tenun, terdapat 368 sentra serta jumlah usaha 14.618 unit dan pembukaan tenaga kerja sebanyak 57.972 orang. Dia menyebutkan, hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki warisan nusantara berupa tenun, baik yang dibuat dengan alat tenun gedogan maupun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Pekan depan, Adiwastra Nusantara bakal digelar di Jakarta Convention Center (JCC) pada 20-24 Maret 2019 ini menargetkan transaksi Rp 50 miliar. "Tren nuansa etnik atau tradisi serta gaya hidup kembali ke alam menjadi referensi generasi muda," kata Ketua Panitia Adiwastra Nusantara 2019 Yantie Airlangga.

Dia menjelaskan, minat masyarakat yang meningkat terhadap kain adat bisa mendongkrak penjualan serta penggunaan kain adat, seperti batik, tenun, jumputan, atau sasirangan. Apalagi, Unesco telah menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia sejak 2009.

(Baca: Pameran Batik dan Tenun Adat Adiwastra Bidik Transaksi Rp 50 Miliar)

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan