Prabowo Beberkan Dugaan Kecurangan Pemilu ke Media Asing

Penulis: Yuliawati dan Fahmi Ramadhan

7/5/2019, 15.22 WIB

Tapi kali ini pelanggarannya terlalu banyak. Jadi tidak mungkin. Saya tidak akan menerima Pemilu yang curang," kata Prabowo di hadapan media asing.

Prabowo beberkan kecurangan ke media asing
ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Prabowo mengumpulkan wartawan media asing dan membeberkan dugaan kecurangan Pemilu

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengadakan pertemuan khusus dengan wartawan dari media asing di di kediamannya, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Senin (6/5). Pertemuan yang tertutup untuk media lokal tersebut membahas mengenai kecurangan Pemilu 2019 yang dianggap merugikan kubu Prabowo-Sandiaga Uno.

Beberapa media internasional yang diundang antara lain Reuters, Asahi Shimbun, Bloomberg, AFP, Al Jazeera, NHK, Nikkei, AP, SMH, VOA, dan Anadolu. Sementara media lokal yang mendatangi kediaman rumah Prabowo tidak mendapat kesempatan mengikuti kegiatan, hanya dipersilakan menunggu di luar rumah Prabowo.

(Baca: Anggap Prabowo Dipasok Data Tak Akurat, Demokrat Ragu Kemenangan 62%)

Prabowo memaparkan berbagai dugaan kecurangan yang dianggap sangat menumpuk, seperti kesalahan entri data suara dari setidaknya 73.000 Tempat Pemungutan Suara,  6,7 juta pemilih tidak mendapatkan undangan untuk memilih, penyimpangan dalam Daftar Pemilih Tetap, serta kesulitan yang dihadapi oleh oposisi dalam mendapatkan izin kampanye.

Prabowo berharap untuk masalah kesalahan data entri segera dilakukan perbaikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dia berharap persoalan itu beres sebelum pengumuman pemenang Pilpres pada 22 Mei 2019. "Kami meminta verifikasi dan koreksi atas semua penyimpangan ini. Jika mereka memperbaikinya sebelum tanggal 22 Mei, itu sangat mudah," kata Prabowo seperti dikutip dari The Straits Times.

(Baca: Kaji Temuan C1 di Menteng, Bawaslu Jakarta Pusat Konsultasi ke KPU)

Lebih lanjut Prabowo mengatakan, bersedia membantu menyediakan pakar Informasi Teknologi untuk mengatasi masalah Situng KPU. "​​Jika mereka serius, kami memiliki banyak pakar. Kami bisa mendapatkan pakar internasional," kata Prabowo.  

Pilpres prabowo
Prabowo sujud syukur setelah klaim kemenangan Pilpres 2019, 17 April 2019. (Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA)

 

Prabowo Sebut Tidak Akan Menerima Hasil Pemilu Curang


Prabowo mengatakan, dalam Pemilu 2014, dia merasa kalah dari Joko Widodo juga karena kecurangan. Dia menyatakan, saat itu dia memilih mengalah untuk kebaikan rakyat. "Pada 2014, saya sebenarnya tidak menerima (kekalahan), tetapi untuk kebaikan negara, saya menerimanya. Saya datang ke pelantikan, saya mengucapkan selamat (untuk Jokowi)," kata Prabowo.

Namun, untuk Pilpres 2019, Prabowo menegaskan  tidak akan tinggal diam. "Tapi kali ini pelanggarannya terlalu banyak. Jadi tidak mungkin. Saya tidak akan menerima Pemilu yang curang," kata Prabowo.

(Baca: Sandiaga: Temuan C1 yang Untungkan Salah Satu Pihak Harus Diselidiki)

Seperti diketahui pada Pemilu 2014, Prabowo sempat membawa dugaan kecurangan Pemilu ke Mahkamah Konstitusi. Tim kuasa hukum Prabowo mengklaim terdapat pengrusakan di 56.000 TPS, mempertanyakan validitas sekitar 23 juta suara, dan menuntut mendiskualifikasi Jokowi sebagai pemenang serta menuntut pemilihan ulang. Namun sidang MK memutuskan tim Prabowo telah gagal membuktikan terjadinya kecurangan Pemilu dan menolak semua tuntutan.

Direktur Materi dan Debat BPN Sudirman Said mengatakan pertemuan Prabowo dengan media asing merupakan bentuk pemaparan berbagai dugaan penyimpangan dan kecurangan dalam Pemilu 2019.

"Pertemuan dengan wartawan asing untuk menjelaskan berbagai penyimpangan-penyimpangan, kecurangan-kecurangan, kekeliruan-kekeliruan," kata Sudirman kepada wartawan, Senin (6/5).

(Baca: Menelisik Perhitungan Real Count ala Kubu Prabowo-Sandi)

Sudirman mengatakan pertemuan tersebut merupakan permintaan dari media asing agar mendapatkan pemaparan. "Ada kebutuhan untuk menjelaskan kepada kalangan internasional," kata Sudirman.

Sementara itu berdasarkan Sistem Informasi Penghitungan Suara atau Situng KPU yang mencapai 69,25%, pasangan Jokowi dan Maruf Amin masih unggul dari pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Keunggulan suara terpantau semakin lebar, okowi-Maruf tercatat memperoleh 59,76 juta suara atau 56,33% dari total suara masuk. Sedangkan Prabowo-Sandiaga memperoleh 46,33 juta suara atau 43,67%. Ini artinya, Prabowo dan Sandiaga tercatat tertinggal 13,43 juta suara.

(Baca: Situng KPU Nyaris 70%, Keunggulan Jokowi Melebar Jadi 13,4 Juta Suara)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan