Ahli Kesehatan dan Pengusaha Desak Pemerintah Batasi WNA Sumber Corona
Ahli kesehatan masyarakat dan pengusaha kompak meminta pemerintah membatasi kunjungan warga yang berasal dari negara pusat wabah virus corona Covid-19. Ini agar wabah tersebut tidak semakin menyebar di Indonesia setelah pengumuman dua orang positif terinfeksi virus tersebut, Senin (2/3).
Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dr. Syahrizal Syarif menilai beberapa warga negara yang perlu diwaspadai antara lain Iran, Italia, Singapura, dan Korea Selatan. Sebelumnya pemerintah telah menutup kunjungan warga Tiongkok untuk mencegah masuknya virus corona.
Hingga Selasa (3/3) siang, jumlah warga di Iran, Italia, dan Korsel yang terinfeksi virus corona berada di atas 1.000 orang. Bahkan Korsel merupakan negara dengan warga terjangkit corona terbesar kedua setelah Tiongkok dengan 4.812 orang tertular.
"Ini situasi harus ada langkah tegas bagaimana batasi kunjungan dari negara hotspot atau yang ada kasus tinggi," kata Syahrizal di Universitas Indonesia, Jakarta, Selasa (3/3).
(Baca: Ada Kasus Positif Virus Corona, Insentif untuk Turis Asing Ditunda)
Selain itu, orang yang baru saja mengunjungi wilayah hotspot harus diberikan kartu kesehatan (health alert card) dan perlu dipantau selama 14 hari utnuk mengetahui perkembangan tubuhnya. "Kita harus menemukan kasus sedini mungkin," ujar Syahrizal.
Syahrizal juga menilai kolaborasi antar kementerian menjadi kunci. Sebab, virus corona tersebut menjadi ancaman global bagi Indonesia. Kemudian, pemerintah daerah juga harus melakukan supervisi di setiap daerah. "Utamanya memantau pergerakan orang," katanya.
Ia pun menilai, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memiliki standar untuk melakukan pemeriksaan dari negara yang terinfeksi. Menurutnya, indikator pertama seseorang terserang corona adalah demam tinggi. Namun, bukan berarti pula seseorang yang demam positif terjangkit penyakit tersebut.
Sedangkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah memperluas larangan kunjungan (travel ban) warga yang negaranya terkena wabah corona dengan jumlah besar. Ini agar virus tersebut tak lagi masuk dan menulari warga RI.
“Seperti kontrol penyebaran dari pendatang asing,” kata Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kadin, Shinta W Kamdani kepada Katadata.co.id, Selasa (3/3)
(Baca: Cegah Kepanikan, Pengusaha Minta Pemerintah Jujur Soal Virus Corona)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari Senin (2/3) siang menyatakan ada dua warga negara Indonesia (WNI) yang terjangkit virus corona. Kedua WNI tersebut diketahui sempat kontak dengan warga negara Jepang berusia 41 tahun yang dinyatakan positif wabah itu di Malaysia.
Jokowi mengatakan, keduanya merupakan seorang ibu berusia 64 tahun dan anaknya 31 tahun. “Dicek tadi pagi, saya dapat laporan dari Pak Menteri Kesehatan (Terawan Agus Putranto) bahwa ibu ini dan putrinya positif corona,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/3).
