Pandemi Corona Memukul Freeport, Pangkas Dividen dan Belanja Modal

Penulis: Ratna Iskana

24/3/2020, 17.52 WIB

Pandemi virus corona telah membuat harga tembaha turun dalam beberapa minggu terakhir. Freeport McMoran pun memangkas dividen, belanja modal, dan produksi.

freeport, virus corona
Iurii Kovalenko/123rf
Ilustrasi, pekerja tambang. Freeport McMoran mengumumkan bakal memangkas dividen 5 sen dolar Amerika Serikat pada tahun ini karena harga tembaga terus turun akibat virus corona.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Produsen tembaga terbesar di dunia, Freeport McMoran Inc, menyatakan bakal memangkas dividen hingga memotong biaya dan produksi pada tahun ini. Keputusan tersebut diambil karena harga tembaga terus turun akibat virus corona.

Dilansir dari Reuters, harga tembaga yang banyak digunakan dalam konstruksi dan manufaktur telah turun lebih dari 22% sejak Januari 2020. Perusahaan juga menyebut penyebaran penyakit pernapasan mematikan yang dikenal sebagai COVID-19 telah menganggu ekonomi global serta memengaruhi permintaan tembaga.

Dewan Direksi Freeport McMoran memutuskan memangkas dividen sebesar 5 sen dolar per saham yang rencananya dibayarkan pada 1 Mei 2020. Keputusan tersebut diproyeksi dapat menghemat sekitar US$ 291 juta per tahun.

Sedangkan kebijakan terkait pembayaran dividen di masa depan akan tergantung pada kebijaksanaan dewan direksi dan kinerja keuangan perusahaan. Selain itu, Freeport McMoran juga harus memperhatikan kondisi kas dan ekonomi global.

Perusahaan berkode FCX di bursa saham New York itu juga mengumumkan bakal meninjau rencana operasi secara agresif di setiap wilayah operasi tembaga dan molibdenum. Hal itu untuk mengurangi biaya dan belanja modal.

(Baca: Produksi Turun, Setoran Freeport ke Negara Tahun Lalu Anjlok 76%)

Freeport McMoran bakal mengumumkan revisi rencana operasi dan laporan keuangan perusahaan pada April 2020. Presiden dan Chief Executive Officer FCX Richard C. Adkerson mengatakan keputusan untuk mengurangi biaya dan belanja modal untuk mempertahankan likuiditas kas perusahaan.

Hal itu diperlukan untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. Apalagi, harga tembaga terus turun dalam beberapa minggu terakhir.

Biarpun begitu, Adkerson yakin kinerja perusahaan akan membaik pada tahun depan. "Kami tengah membangun produksi skala besar dengan biaya rendah dari tambang bawah tanah di Grasberg yang akan menghasilkan arus kas substansial setelah 2020. Kami tetap fokus pada eksekusi dan peluang untuk memberikan pengembalian kepada pemegang saham ketika kondisi ekonomi global membaik," kata Adkerson seperti dilansir dari website resmi FCX pada Selasa (24/3).

Reuters melaporkan pemangkasan dividen oleh Freeport merupakan pertama kalinya sejak 2015. Atas keputusan tersebut, saham Freeport ditutup turun 2,3% ke level $ 5,39 pada Senin (23/3) waktu setempat.

Saat ini portofolio aset FCX meliputi distrik mineral Grasberg di Indonesia, salah satu deposit tembaga dan emas terbesar di dunia; dan operasi penambangan yang signifikan di Amerika Utara dan Amerika Selatan, termasuk distrik mineral Morenci skala besar di Arizona dan operasi Cerro Verde di Peru.

(Baca: Freeport Keruk 46 Juta Ounce Emas dari Tambang Terbuka di Papua)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan