Kemenkes Uji Obat Ebola hingga HIV pada Pasien Covid-19
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan uji klinis berbagai obat yang diberikan kepada pasien yang terinfeksi virus corona atau Covid-19. Sekretaris Jenderal Kemenkes Oscar Primadi mengatakan, ada empat obat yang berpotensi menangani virus corona, yaitu obat ebola, obat HIV/AIDS, dan obat malaria.
"Obat tersebut ialah remdesivir atau obat ebola, liponavir-ritonavir atau obat HIV/AIDS, dan kombinasi obat hidroksiklorokuin untuk malaria," kata Oscar dalam rapat kerja gabungan Komisi VI, VII, dan IX DPR secara virtual, Selasa (5/5).
Ia mengungkapkan, khusus uji klinis obat remdesivir, Kemenkes bekerja sama dengan National Institutes of Health (NIH), Amerika Serikat (AS).
Penelitian uji klinis obat merupakan bagian dari Global Solidarity Trial, sebuah percobaan acak internasional tentang perawatan tambahan untuk covid-19 pada pasien rawat inap yang menerima standar perawatan lokal. Penelitian tersebut dilakukan di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Saat ini, sudah ada 22 rumah sakit di Indonesia yang terlibat dalam penelitian tersebut, dan tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah. Uji klinis obat ini juga telah merekrut pasien sejak 25 April lalu.
(Baca: Carrimycin, Obat Asal Tiongkok yang Disebut Mampu Sembuhkan Covid-19)
Selain obat, Indonesia juga akan terlibat dalam uji klinis vaksin covid-19, yang bekerja sama dengan Wuhan Institute of Biological Products, Tiongkok.
Selain itu, Kemenkes akan melakukan uji klinis perawatan melalui plasma konvalesen, yang bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI), Lembaga Eijkman dan RSPAD Gatot Subroto.
Secara umum, metode perawatan ini merupakan terapi yang menggunakan plasma darah dari pasien Covid-19 yang telah dinyatakan sembuh, dan diberikan kepada pasien yang sedang sakit.
Kemudian, Kemenkes juga tengah menguji akurasi terhadap Rapid Diagnostic Test untuk melihat nilai spesifitas sesuai standar baku emas (gold standard) pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR).
"Hingga kini sudah tiga merek RDT dengan nilai spesifitas baik 100% dan nilai spesifitas kurang baik. Nilai spesifitas membaik pada hari ke-7 atau ke-14, namun tidak mencapai optimal 100%," ujarnya.
(Baca: Profesor UI: Mitos, Vitamin hingga Klorokuin Sembuhkan Pasien Corona)
