Sawah di Atas Lahan Gambut Dinilai Berisiko Tinggi Gagal Panen

Penulis: Rizky Alika

Editor: Happy Fajrian

5/5/2020, 20.54 WIB

Pengolahan lahan gambut menjadi sawah butuh waktu lama dan berisiko mengancam ekosistem yang ada.

lahan gambut, sawah baru, satu juta hektare lahan gambut, ketersediaan pangan
ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.
Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) memperingati pemerintah bahwa rencana menambah lahan sawah baru di lahan gambut berisiko gagal panen.

Pemerintah akan membuka sawah baru di atas lahan gambut untuk menjamin ketersediaan pangan di tengah pandemi corona (Covid-19). Namun, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai lahan sawah di bekas lahan gambut berisiko gagal panen.

"Jika dilakukan secara tergesa-gesa, proyek pencetakan lahan sawah baru yang memakan modal besar ini malah menimbulkan risiko gagal panen yang merugikan petani dan risiko kerusakan lingkungan yang lebih besar," kata Peneliti CIPS Felippa Ann Amanta, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Katadata, Selasa (5/5).

Menurutnya, pembukaan lahan sawah baru di lahan gambut akan membutuhkan waktu yang lama, mulai dari mengolah lahan hingga proses pertaniannya sendiri. Pengolahan lahan menjadi sawah, lanjut dia, sangat tergantung pada jenis dan karakteristik lahannya.

Dia pun menilai, hasil pembukaan lahan tersebut tidak bisa membantu kekurangan stok pangan yang terjadi saat ini, bahkan untuk bulan Ramadan hingga akhir tahun.

(Baca: Pemerintah Yakin Pembukaan Sawah Baru di Lahan Gambut Tak akan Gagal)

Felippa membahkan, pemerintah seharusnya memperkuat produksi pangan yang sudah ada dengan memberi fasilitas bagi petani, seperti teknologi, sarana prasarana, dan kemudahan kredit usaha. Selain itu, pemerintah perlu memaksimalkan stok pangan melalui penyerapan produksi domestik dan impor pangan.

Di sisi lain, dia menilai kelancaran distribusi dan logistik pangan perlu dijaga sehingga prodduk pangan bisa tersebar ke seluruh daerah di Indonesia.

Menurutnya, proyek pengembangan lahan gambut satu juta hektar di Kalimantan Tengah pada era Presiden Soeharto menunjukkan bahwa lahan gambut tidak cocok untuk padi. Saat itu, penanaman padi di lahan gambut mengalami gagal panen dan kerugian besar. Dia pun menilai lahan gambut lebih cocok untuk komoditas hortikultura, seperti nanas.

Selain itu, pengolahan lahan gambut juga membawa risiko lingkungan akibat pelepasan karbon ke udara. Hal ini dapat menambah emisi gas rumah kaca yang berpotensi memperburuk perubahan iklim.

(Baca: Antisipasi Kekeringan, Lahan Gambut Akan Dipakai untuk Pertanian)

Kemudian, pembukaan lahan juga berisiko mengancam ekosistem yang ada. Hal ini berisiko pada rusaknya keseimbangan lingkungan. "Untuk itu, pemerintah sebaiknya tidak mengulang kesalahan dengan menciptakan program serupa," kata dia.

Adapun pemerintah menyatakan optimistis rencana pembukaan lahan sawah baru di atas lahan gambut akan berjalan mulus. Pemerintah yakin tak akan mengulang kegagalan program satu juta hektare lahan gambut untuk sawah yang dilakukan rezim Presiden Soeharto.

Sebab, pemerintah telah menyiapkan bibit varietas Inbrida Padi Rawa (Inpara). Bibit tersebut dinilai tahan terhadap genangan air, sehingga mampu tumbuh di daerah rawa atau gambut.

"Bibit ini memang bibit untuk rawa. Kita berharap bisa menuai hasil yang lebih baik dibandingkan yang pernah kita lakukan pada lahan gambut yang lalu yang diasumsikan gagal itu," kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo usai rapat terbatas melalui video conference, Selasa (5/5).

Selain itu, pemerintah akan menyiapkan infrastruktur yang akan mendukung pembukaan sawah baru di lahan gambut tersebut. Adapun, pemerintah rencananya membuka lahan sawah baru di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

(Baca: Antisipasi Kekeringan, Pemerintah Bakal Percepat Musim Tanam )

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan