Ilmuwan Tiongkok Temukan Flu Babi Jenis Baru, Berpotensi jadi Pandemi

Penulis: Ameidyo Daud Nasution

30/6/2020, 19.12 WIB

Penelitian ini bermanfaat untuk mengingatkan dunia akan risiko munculnya penyakit zoonosis baru

flu babi, tiongkok, virus
ANTARA FOTO/Arnas Padda
Ilustrasi penelitian di sebuah laboratorium. Para peneliti Tiongkok dalam penelitian yang dipublikasikan Senin (30/6) menemukan jenis flu babi baru yang berpotensi jadi pandemi.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Para peneliti di Tiongkok menemukan jenis flu babi baru yang berpotensi menjadi pandemi. Virus yang dinamakan G4 EA H1N1 itu disebut mirip dengan penyakit yang sama ketika merebak tahun 2009 lalu namun memiliki karakter berbeda.

Hal tersebut disampaikan 23 ahli dari dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS) yang dipublikasikan hari Senin (29/6).

Dari 23 ahli, sebanyak 22 orang merupakan ilmuwan di perguruan tinggi Tiongkok. Meski saat ini belum menjadi ancaman dunia, namun para ahli masih mengawasi potensi bahaya yang ditimbulkan.

"Saat ini kami terganggu dengan virus corona. Tetapi tidak boleh melupakan virus baru yang berpotensi berbahaya," kata salah satu ahli yang ikut dalam penelitian itu, Prof. Kin-Chow Chang dilansir dari BBC, Selasa (30/6).

(Baca: Video: Data Terbaru Kasus Corona di Indonesia per 30 Juni 2020)

Para peneliti mengambil 30 ribu tes usap dari babi di rumah jagal yang berada di 10 Provinsi Tiongkok. Mereka lalu mengisolasi 179 virus flu dari hewan tersebut dan mengidentifikasi jenis patogen dominan.

Dari hasil penelitian mereka, virus yang dominan tersebut memiliki kemampuan menular dan bereplikasi di sel manusia. “Dengan demikian menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan manusia,” demikian tulis para ahli dari laman PNAS.

Tes yang dilakukan menunjukkan kekebalan dari vaksin flu sejenis tak memberi perlindungan dari penyakit ini. Sepanjang 2016, para pekerja peternakan di dua provinsi Tiongkok yakni Hebei dan Shandong telah dites. Hasilnya lebih dari 10% dinyatakan positif terjangkit virus ini.

Namun belum ada bukti lebih lanjut apakah penyakit tersebut menulari antar manusia. “(Namun) infeksi virus ini dikhawatirkan bisa meningkatkan adaptasi dan risiko pandemi pada manusia,” demikian tulis para peneliti dikutip dari The Guardian.

Sedangkan Kepala Departemen Kedokteran Hewan Universitas Cambridge James Wood mengatakan penelitian ini bermanfaat untuk mengingatkan risiko munculnya penyakit zoonosis baru. Penyakit sebelumnya yang datang dari hewan adalah SARS-CoV-2 atau biasa disebut virus corona Covid-19.

“Karena manusia memiliki kontak besar dengan satwa dan bisa bertindak sebagai sumber pandemi besar,” kata Wood.

(Baca: Rasio Kesembuhan Pasien Covid-19 RI Masih di Bawah Rata-rata Global)

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha