Kualitas Udara Tak Kunjung Membaik, Kasus ISPA di Batam Naik 19,5%
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meningkat 19,5% pada Agustus 2026. Kenaikan kasus terjadi di tengah memburuknya kualitas udara dan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Batam.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam Meldasari mengatakan terdapat 7.245 kasus ISPA yang dilaporkan puskesmas sepanjang Agustus. Jumlah tersebut meningkat 1.184 kasus atau 19,5% dibandingkan dengan Juli yang mencapai 6.061 kasus.
“Berdasarkan pemantauan dan pelaporan dari Puskesmas, ditemukan adanya peningkatan kasus ISPA. Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam dan terus dilakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat,” kata Meldasari, seperti dikutip dari Antara, Senin (7/9).
Pada periode yang sama, kualitas udara Batam juga menunjukkan sejumlah peningkatan konsentrasi partikulat halus PM2.5. Berdasarkan data IQAir pada periode 9 Agustus hingga 6 September 2026, konsentrasi PM2.5 di Batam rata-rata mencapai 30,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut sekitar dua kali lipat dari pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk konsentrasi PM2.5 selama 24 jam, yakni 15 µg/m³. Bahkan, seluruh 29 hari pengamatan dalam data tersebut mencatat konsentrasi di atas pedoman WHO.
Konsentrasi PM2.5 terendah tercatat 22 µg/m³ pada 31 Agustus. Sementara itu, konsentrasi tertinggi mencapai 53 µg/m³ pada 4 September, atau sekitar 3,5 kali lipat dari pedoman WHO.
Kenaikan paling tinggi terjadi pada awal September. Konsentrasi PM2.5 tercatat 34 µg/m³ pada 3 September, kemudian melonjak menjadi 53 µg/m³ pada 4 September. Angka tersebut turun menjadi 36 µg/m³ pada 5 September, sebelum kembali naik menjadi 47 µg/m³ pada 6 September.
Kondisi tersebut terjadi setelah kebakaran lahan di kawasan Trans Barelang pada Agustus. Kebakaran tersebut dilaporkan menghanguskan sekitar 20 hingga 35 hektare lahan.
PM2.5 merupakan partikel udara berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini menembus jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah. WHO menyebut PM2.5 dapat berdampak pada sistem pernapasan dan kardiovaskular serta berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan.
Partikel PM2.5 dapat berasal dari berbagai sumber. Di kawasan perkotaan, sumbernya antara lain emisi kendaraan, pembakaran bahan bakar untuk pembangkit listrik, aktivitas industri, pembakaran sampah, serta kebakaran hutan dan lahan. PM2.5 juga dapat terbentuk melalui reaksi kimia antara sejumlah gas di atmosfer.
Karena ukurannya yang kecil, PM2.5 menjadi salah satu polutan udara yang mendapat perhatian besar dalam isu kesehatan. WHO menyebut partikel ini dapat menembus penghalang paru-paru dan masuk ke aliran darah, sehingga dapat memengaruhi berbagai organ tubuh.
Meldasari mengatakan masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatan ketika kualitas udara memburuk. Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu seperti asma.
“Kelompok yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu seperti asma,” kata dia.
Waspada Dampak Paparan Asap dan Polutan Udara
Sejumlah gejala yang perlu diwaspadai akibat paparan asap dan partikel udara antara lain batuk, sesak atau rasa tidak nyaman saat bernapas, tenggorokan terasa gatal atau mengganjal, iritasi mata atau hidung, serta sakit kepala.
“Jika masyarakat mengalami keluhan tersebut, segera ke fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, klinik, atau rumah sakit,” kata dia.
Dinkes Batam menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga dianjurkan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel, seperti KF94, KN95, atau N95.
“Yang paling penting adalah masker digunakan dengan tepat dan benar, menutup hidung dan mulut serta terpasang dengan baik, sehingga dapat memberikan perlindungan secara optimal. Penggunaan masker yang tidak tepat dapat mengurangi manfaat perlindungannya,” ujarnya.
Dinkes Batam bersama puskesmas juga meningkatkan pemantauan perkembangan kasus ISPA dan gangguan pernapasan. Penanganan terhadap pasien diberikan sesuai dengan kondisi klinis masing-masing.
Sosialisasi mengenai risiko paparan asap dan udara tidak sehat juga terus dilakukan. Dinkes meningkatkan kewaspadaan terutama pada kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
