Pemprov DKI Revitalisasi Sekolah, Hadirkan Gedung Vertikal Ramah Lingkungan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta secara bertahap menjalankan program renovasi dan revitalisasi sekolah untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Program ini menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI dalam menyediakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung kegiatan belajar mengajar.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, program renovasi dan revitalisasi sekolah dilaksanakan di lima wilayah administrasi Jakarta dengan total anggaran Rp876,7 miliar. Program tersebut ditujukan untuk memastikan fasilitas pendidikan berada dalam kondisi layak dan mampu menunjang proses pembelajaran.
“Tujuannya satu, memastikan setiap anak memiliki lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan modern, sehingga mereka bisa fokus mengukir prestasi terbaik,” kata Pramono, dikutip dari laman resmi Pemprov DKI Jakarta.
Program ini mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK).
Data Dinas Pendidikan DKI Jakarta menunjukkan, pembangunan dan revitalisasi sekolah telah dilaksanakan di 19 lokasi pada 2025. Adapun pada 2026, program ini direncanakan berlangsung di delapan lokasi.
Rinciannya, tujuh lokasi menggunakan skema multiyears untuk tahun anggaran 2026–2027, sedangkan satu lokasi dibiayai melalui skema non-APBD dengan memanfaatkan koefisien lantai bangunan (KLB), senilai Rp50 miliar.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana menjelaskan, penentuan sekolah yang menjadi prioritas revitalisasi mempertimbangkan sejumlah aspek, antara lain tingkat kerusakan bangunan, usia bangunan, keterbatasan daya tampung, serta kondisi banjir.
“Dinas Pendidikan melalui UP Prasardik bersama perangkat daerah terkait telah melakukan pemetaan dan inventarisasi kondisi bangunan sekolah secara bertahap. Sekolah yang masuk dalam prioritas revitalisasi memiliki kondisi tingkat kerusakan berat atau membahayakan dan rata-rata usia bangunan di atas 40 tahun,” ujar Nahdiana kepada Katadata, Rabu (14/10).
Sebaran Revitalisasi Sekolah di Jakarta
Program renovasi dan revitalisasi tersebar di sejumlah sekolah di lima wilayah administrasi Jakarta. Di Jakarta Barat, pekerjaan mencakup SDN Tegal Alur 02/04, SMAN 33 Jakarta, SDN Jati Pulo 07, SMPN 130 Jakarta, SDN Kota Bambu 01/02, dan TKN Meruya Selatan. Program ini juga meliputi pengalihan fungsi SDN Jati Pulo 08 Pagi menjadi unit sekolah baru (USB) SMPN 298.
Di Jakarta Timur, revitalisasi dilakukan di SDN Pondok Bambu 01, SDN Cakung Timur 02, SMPN 91, serta SDN Pekayon 05/12. Sementara itu, di Jakarta Selatan, sekolah yang masuk dalam program ini meliputi SDN Cilandak Barat 08, SDN Cipulir 11, SDN Gandaria Selatan 03, SDN Lebak Bulus 04, SDN Tebet Timur 07, dan SMPN 15 Jakarta. Pembangunan USB SMPN 299 juga menjadi bagian dari program tersebut.
Adapun di Jakarta Utara, renovasi dilakukan di SMKN 55 Jakarta. Sementara di Jakarta Pusat, program revitalisasi mencakup SDN Petojo Utara 01.
Selama proses renovasi berlangsung, siswa dipindahkan sementara ke sekolah yang telah ditentukan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Langkah ini dilakukan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dan siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan nyaman.
Terapkan Konsep Gedung Vertikal dan Ramah Lingkungan
Revitalisasi sekolah tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan, tetapi juga mencakup pembaruan desain untuk menyesuaikan keterbatasan lahan di Jakarta. Salah satu konsep yang diterapkan adalah pembangunan gedung vertikal agar pemanfaatan ruang lebih optimal.
“Konsep gedung vertikal menjadi solusi di tengah kondisi keterbatasan lahan di Jakarta, khususnya pada kawasan perkotaan dan permukiman padat. Sekolah negeri modern tidak hanya menghemat tapak tanah, tetapi juga mengoptimalkan fungsi ruang untuk kegiatan belajar, bersosialisasi atau berinteraksi dengan memanfaatkan secara aktif atap bangunan (rooftop) sebagai ruang terbuka,” terang Nahdiana.
Selain itu, desain kawasan pendidikan diarahkan agar lebih terintegrasi, termasuk dengan mengurangi sekat antara jenjang pendidikan dalam satu kawasan. Penambahan ruang terbuka, pencahayaan alami, dan ventilasi juga menjadi bagian dari perencanaan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat.
Dinas Pendidikan DKI Jakarta turut mendorong penerapan konsep green building untuk menekan penggunaan energi dan mendukung target net zero emission. Penerapannya meliputi penggunaan panel surya, pembangunan sumur resapan, serta pengolahan air limbah.
Dengan konsep tersebut, bangunan sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga sarana bagi siswa untuk mengenal penerapan prinsip keberlanjutan secara langsung.
Upaya Pemprov DKI Jakarta dalam meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan turut mendapat apresiasi dari Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jaya Ryan Haroen.
Ryan menilai, pengalokasian anggaran daerah untuk peningkatan fasilitas pendidikan merupakan bentuk investasi publik yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kami mengapresiasi upaya untuk menghadirkan fasilitas belajar yang lebih layak dan mendukung kegiatan belajar mengajar. Yang penting, pembangunan seperti ini benar-benar dimanfaatkan, dirawat, dan memberi manfaat bagi siswa, orang tua serta tenaga pendidik,” ujar Ryan dikutip dari Antara.
Menurut dia, revitalisasi sekolah menjadi langkah konkret untuk mendukung kualitas pendidikan melalui penyediaan fasilitas yang lebih memadai. Pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan setelah pembangunan selesai juga penting agar manfaat investasi tersebut dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Ke depan, Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengusulkan revitalisasi di sejumlah lokasi tambahan pada 2027, yakni SMA 102, SDN Cempaka Putih Barat 03, SDN Papanggo 01, dan TKN Papanggo.
Dalam tiga hingga lima tahun mendatang, Nahdiana mengatakan, pihaknya menargetkan penyelesaian pembangunan di delapan lokasi sekolah serta tiga lokasi lainnya pada 2027.
Upaya ini akan disertai pemetaan dan inventarisasi kondisi bangunan secara bertahap, mulai dari verifikasi dan klasifikasi tingkat kerusakan hingga identifikasi risiko dan urgensi penanganan.
“Hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar penyusunan skala prioritas revitalisasi, sehingga penanganan dapat diarahkan pada sekolah yang paling membutuhkan perbaikan,” tutur Nahdiana.
Dengan demikian, program ini diharapkan dapat meningkatkan kelayakan fasilitas pendidikan sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi warga Jakarta.
