Harga Minyak Bangkit 2,6% Usai Pertemuan Putin dan Pangeran MBS

Happy Fajrian
8 Desember 2023, 18:42
harga minyak, putin, mbs, opec
Katadata/Muhammad Fajar Riyandanu
Ilustrasi.

Harga minyak bangkit lebih dari 2% setelah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putera Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengajak negara-negara anggota OPEC untuk mematuhi kebijakan pemangkasan pasokan yang diputuskan pada akhir November 2023.

Minyak mentah Brent naik US$ 1,93 atau 2,6% menjadi US$ 75,98 per barel sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik US$ 1,82 atau 2,6% menjadi US$ 71,16 per barel.

Kedua harga minyak acuan dunia tersebut sempat merosot ke level terendahnya dalam enam bulan pada sesi sebelumnya yang menandakan bahwa banyak pedagang yakin pasar mengalami kelebihan pasokan.

Brent dan WTI juga berada dalam kondisi contango, yaitu struktur pasar di mana harga bulan depan diperdagangkan dengan harga diskon terhadap harga di luarnya.

“Melemahnya posisi OPEC+ dalam memberikan dukungan ditambah dengan rekor produksi AS yang tinggi dan angka impor minyak mentah Cina yang lamban hanya dapat berarti satu hal, pasokan minyak melimpah,” kata broker minyak PVM Tamas Varga seperti dikutip Reuters, Jumat (8/12).

Arab Saudi dan Rusia, dua eksportir minyak terbesar di dunia, menyerukan semua anggota OPEC+ untuk bergabung dalam perjanjian pengurangan produksi demi kebaikan perekonomian global, hanya beberapa hari setelah pertemuan klub produsen yang penuh perselisihan.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, menyetujui pengurangan produksi gabungan sebesar 2,2 juta barel per hari (bph) untuk kuartal pertama tahun depan.

“Meskipun ada janji dari anggota OPEC+, kami melihat total produksi dari negara-negara OPEC+ turun hanya 350.000 bph dari Desember 2023 hingga Januari 2024,” kata Viktor Katona, analis minyak mentah utama di Kpler.

“Beberapa negara OPEC+ mungkin tidak mematuhi komitmen mereka karena dasar kuota yang tidak jelas dan ketergantungan pada pendapatan hidrokarbon,” ujarnya menambahkan.

Minyak mentah berjangka Brent dan WTI berada di jalur penurunan masing-masing sebesar 3,9% dan 4% untuk minggu ini, penurunan terbesar dalam empat minggu.

Yang memicu penurunan pasar adalah data bea cukai Cina yang menunjukkan impor minyak mentah pada November turun 9% dari tahun sebelumnya karena tingkat persediaan yang tinggi, indikator ekonomi yang lemah, dan melambatnya pesanan dari penyulingan independen yang melemahkan permintaan.

Di Amerika Serikat, produksi tetap mendekati rekor tertinggi lebih dari 13 juta bph, menurut data Administrasi Informasi Energi AS.

Pasar juga menantikan isyarat kebijakan moneter dari laporan ketenagakerjaan bulanan resmi AS yang akan dirilis hari ini, yang diperkirakan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja di bulan November membaik dan upah meningkat secara moderat. Hal ini akan memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve AS sudah selesai menaikkan suku bunga.

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...